(sebuah kritik sosial untuk masyarakat Ar-Risalah, semoga dari waktu ke waktu bisa menjadi lebih baik)
Jajirah ( Jajaran Jurnalis Remaja Ar-Risalah), "mati enggan hidup pun tak mau", mungkin itulah ungkapan yang pas untuk keadaan jajirah saat ini. Dikatakan hidup, tidak tepat, karena jika dikatakan hidup tentunya haruslah mempunyai ciri-ciri hidup. Seperti halnya makhluk hidup, salah satu ciri dia hidup adalah berkembang biak, atau mungkin tepatnya produktif ( dalam arti melahirkan sebuah karya atau konsisten dalam menjalankan program kerjanya). Jajirah juga tidak bisa dikatakan mati, karena tentunya masih ada sekumpulan orang yang mempunyai visi dan misi yang sama.
Lalu bagaimanakah keadaan Jajirah yang sebenarya?
Menurut penulis, vakumnya jajirah karena beberapa hal:
Yang pertama Jajirah bukanlah sebuah lembaga yang profesional, maksud penulis disini, dikatakan tidak profesional dikarenakan oleh dua hal:
1. Karena pengurus Jajirah tidak mempunyai waktu khusus untuk menjalankan tugas mereka. Sekalipun ada waktu, itu hanya sisa dari waktu belajar dan mengaji.
2. Kepengurusan Jajirah yang mau tidak mau sifatnya kaderisasi. Rata-rata setiap angkatan mempunyai waktu satu tahun dalam menjalankan tugasnya. Belum lagi dikurangi masa-masa adaptasi dan penjalinan kerjasama antar pengurus.
3. Kepengurusan Jajirah tidaklah seperti lembaga lainnya, yang mendapatkan budget khusus untuk keberlangsungan hidupnya.Terlalu jauh membayangkan Jajirah sebagai suatu lembaga untuk meraup materi/keuntungan. Jangankan mendapat materi, seringkali pengurus itu sendiri yang harus menutup kekurangan. (semoga menjadi amal baik bagi kita semua).
Alasan yang kedua yaitu, kurangnya minat membaca masyarakat ar-risalah itu sendiri. Menurut pengamatan penulis selma 6 tahun, jangankan budaya membaca, rasa hormat terhadap buku (maksudnya terhadap ilmu) tidak begitu diindahkan. Padahal kalau kita selami secara mendalam, adanya suatu majalah sekolah, atau media massa lainnya sangat besar manfaatnya sebagai penunjang pendidikan.
Tak sedikit dalam pelajaran bahasa Indonesia kita mendapatkan tugas untuk membuat makalah, apalagi bagi yang sudah kuliah tentunya harus membuat skripsi. Tentunya tanpa pembiasaan menulis dan membaca sejak dini, semuanya tak kan terlaksana secara maksimal.
Tentunya peran pendidik sangan penting dalam hal ini. Sebagaimana tercantum dalam kitab Tarbiyatul Islamiyah (Yusuf Al-Qardhawi) dikatakan bahwa Al-Muallim (guru) adalah tulang punggung pendidikan, baik buruknya produk pendidikan (peserta didik) dipengaruhi oleh Al-Muallim tersebut.
Selasa, 03 November 2009
Korelasi Antara Motivasi Belajar Santri dan Keproduktifan Mereka dalam Menjalankan Aktivitas Sehari-hari
Pondok pesantren merupakan sebuah lembaga pendidikan Islam nonformal di Indonesia. Begitu banyak pondok pesantren yang tersebar di seluruh pelosok nusantara. Keberadaan dan sepak terjang pondok pesantren tidak dapat dipandang sebelah mata. Pesantren telah aktif sejak penyebarannya pada zaman penjajahan Belanda yang didirikan oleh para Wali Songo. Penyelenggaraannya pun sangat baik untuk membentuk manusia yang mempunyai kepribadian (saleh pribadi dan sosial).
Sebagaimana dikatakan sebelumnya bahwa pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam, maka tujuannya pun untuk mewujudkan dan mengembangkan kepribadian muslim, yakni kepribadian yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, bermanfaat kepada masyarakat, berkhidmat kepada masyarakat dan kiai dengan jalan menjadi kawula (mengikuti sunah Nabi), mampu berdiri sendiri, bebas dan teguh dalam kejayaan Islam di tengah masyarakat, mencintai ilmu dan mengembangkan kepribadian Indonesia (Mastuhu, 1994 : 55).
Ahmad Tafsir (1992 :201) mengelaborasi tujuan pendidikan pesantren Mastuhu sebagai berikut :
1. Memiliki kebijaksanaan menurut Ajaran Islam. Anak didik dibantu agar mampu memahami makna hidup, keberadaan, peranan, serta tanggung jawabnya dalam kehidupan bermasyarakat.
2. Memiliki kebebasan yang terpimpin. Setiap manusia memiliki kebebasan, tetapi kebebasan itu harus dibatasi karena kebebasan memiliki potensi anarkisme. Keterbatasan mengandung kecenderungan mematikan kreativitas, karena itu pembatasan harus dilakukan. Inilah yang dimaksud dengan kebebasan terpimpin. Kebebasan yang terpimpin merupakan watak ajaan Islam.
3. Berkemampuan mengatur diri sendiri. Di pesantren, santri mengatur sendiri kehidupannya menuruti batasan yang diajarkan agama. Masing-masing pesantren mengatur dirinya sendiri.
4. Memiliki rasa kebersamaan yang tinggi. Dalam pesantren berlaku prinsip dalam hal kewajiban individu harus menunaikan kewajiaban lebih dahulu, sedangkan dalam hak individu harus mendahulungan kepentingan umum sebelum kepentingan sendiri. Kolektivisme ditanamkan antara lain melalui pembuatan tata tertib. Kolektivisme ini dipermudah pembentukannya dengan kesamaan dn keterbatasan fasilitas kehidupan.
5. Menghormati orang tua dan guru. Tujuan ini dicapai antara lain melalui penegakan berbagai pranata di pesantren, seperti cium tangan guru, dan tindak membantah guru. Demikian juga terhadap orang tua.
6. Cinta kepada ilmu. Menurut al-Qur’an ilmu datang dari Allah. Karena itu orang-orang pesantren cenderung memandang ilmu sebagai sesuatu yang suci dan tinggi.
7. Mandiri. Sejak awal santri telah dilatih untuk mandiri. Mereka dibiasakan memasak sendiri, membersihkan kamar dan lingkungannya sendiri dan lain sebagainya. Metode sorogan yang individual juga memberikan pendidikan kemandirian.
8. Kesederhanaan. Sikap sederhana dimaksud adalah sikap memandang sesuatu terutama materi secara wajar, proporsional, dan fungsional. Sebenarnya banyak santri yang berasal dari keluarga kaya, tetapi mereka dilatih hidup sederhana.
Namun, ketika penulis merasakan langsung dunia pendidikan pesantren, penulis menemukan sebuah realita yang kurang sesuai dengan tujuan pendidikan pesantren. Tidak sedikit dari santri yang tinggal di pesantren, hanya sekedar menumpang tidur, makan, dan mandi. Tanpa semangat dan motivasi untuk menjalankan kegiatan belajar dan mengaji, aktif dalam organisasi, dan berbagai kegiatan lainnya.
Kurangnya semangat dan motivasi mereka, mungkin disebabkan oleh adanya rasa keterpaksaan dalam menjalankan rutinitas sehari-hari. Apalagi bagi mereka yang tidak terbiasa melakukan banyak hal secara mandiri, semua ini terasa berat untuk dijalani.
Kurangnya semangat dan motivasi santri, bisa mengakibatkan kurang produktifnya santri dalam melakukan aktivitas sehari-hari, sehingga akan mempengaruhi keahlian yang dimilki ketika santri tersebut lulus dari pondok pesantren. Tentunya, sangat disayangkan jika waktu terbuang sia-sia (kurang produktif), hanya karena kurangnya semangat dan motivasi.
Untuk itu, penulis merasa perlu untuk mengangkat masalah ini. Semangat dan motivasi santri harus tetap berkobar, karena mengingat betapa berharganya waktu yang tidak kan pernah kembali dan ketika santri tersebut lulus dari pondok pesantren, dia mempunyai keahlian, cerdas, dan mempunyai keimanan yang kuat ketika terjun langsung di masyarakat.
Sebagaimana dikatakan sebelumnya bahwa pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam, maka tujuannya pun untuk mewujudkan dan mengembangkan kepribadian muslim, yakni kepribadian yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, bermanfaat kepada masyarakat, berkhidmat kepada masyarakat dan kiai dengan jalan menjadi kawula (mengikuti sunah Nabi), mampu berdiri sendiri, bebas dan teguh dalam kejayaan Islam di tengah masyarakat, mencintai ilmu dan mengembangkan kepribadian Indonesia (Mastuhu, 1994 : 55).
Ahmad Tafsir (1992 :201) mengelaborasi tujuan pendidikan pesantren Mastuhu sebagai berikut :
1. Memiliki kebijaksanaan menurut Ajaran Islam. Anak didik dibantu agar mampu memahami makna hidup, keberadaan, peranan, serta tanggung jawabnya dalam kehidupan bermasyarakat.
2. Memiliki kebebasan yang terpimpin. Setiap manusia memiliki kebebasan, tetapi kebebasan itu harus dibatasi karena kebebasan memiliki potensi anarkisme. Keterbatasan mengandung kecenderungan mematikan kreativitas, karena itu pembatasan harus dilakukan. Inilah yang dimaksud dengan kebebasan terpimpin. Kebebasan yang terpimpin merupakan watak ajaan Islam.
3. Berkemampuan mengatur diri sendiri. Di pesantren, santri mengatur sendiri kehidupannya menuruti batasan yang diajarkan agama. Masing-masing pesantren mengatur dirinya sendiri.
4. Memiliki rasa kebersamaan yang tinggi. Dalam pesantren berlaku prinsip dalam hal kewajiban individu harus menunaikan kewajiaban lebih dahulu, sedangkan dalam hak individu harus mendahulungan kepentingan umum sebelum kepentingan sendiri. Kolektivisme ditanamkan antara lain melalui pembuatan tata tertib. Kolektivisme ini dipermudah pembentukannya dengan kesamaan dn keterbatasan fasilitas kehidupan.
5. Menghormati orang tua dan guru. Tujuan ini dicapai antara lain melalui penegakan berbagai pranata di pesantren, seperti cium tangan guru, dan tindak membantah guru. Demikian juga terhadap orang tua.
6. Cinta kepada ilmu. Menurut al-Qur’an ilmu datang dari Allah. Karena itu orang-orang pesantren cenderung memandang ilmu sebagai sesuatu yang suci dan tinggi.
7. Mandiri. Sejak awal santri telah dilatih untuk mandiri. Mereka dibiasakan memasak sendiri, membersihkan kamar dan lingkungannya sendiri dan lain sebagainya. Metode sorogan yang individual juga memberikan pendidikan kemandirian.
8. Kesederhanaan. Sikap sederhana dimaksud adalah sikap memandang sesuatu terutama materi secara wajar, proporsional, dan fungsional. Sebenarnya banyak santri yang berasal dari keluarga kaya, tetapi mereka dilatih hidup sederhana.
Namun, ketika penulis merasakan langsung dunia pendidikan pesantren, penulis menemukan sebuah realita yang kurang sesuai dengan tujuan pendidikan pesantren. Tidak sedikit dari santri yang tinggal di pesantren, hanya sekedar menumpang tidur, makan, dan mandi. Tanpa semangat dan motivasi untuk menjalankan kegiatan belajar dan mengaji, aktif dalam organisasi, dan berbagai kegiatan lainnya.
Kurangnya semangat dan motivasi mereka, mungkin disebabkan oleh adanya rasa keterpaksaan dalam menjalankan rutinitas sehari-hari. Apalagi bagi mereka yang tidak terbiasa melakukan banyak hal secara mandiri, semua ini terasa berat untuk dijalani.
Kurangnya semangat dan motivasi santri, bisa mengakibatkan kurang produktifnya santri dalam melakukan aktivitas sehari-hari, sehingga akan mempengaruhi keahlian yang dimilki ketika santri tersebut lulus dari pondok pesantren. Tentunya, sangat disayangkan jika waktu terbuang sia-sia (kurang produktif), hanya karena kurangnya semangat dan motivasi.
Untuk itu, penulis merasa perlu untuk mengangkat masalah ini. Semangat dan motivasi santri harus tetap berkobar, karena mengingat betapa berharganya waktu yang tidak kan pernah kembali dan ketika santri tersebut lulus dari pondok pesantren, dia mempunyai keahlian, cerdas, dan mempunyai keimanan yang kuat ketika terjun langsung di masyarakat.
Senin, 02 November 2009
sepenggal harapan
ku bersandar pada kursi
namun kursi itu diambil orang
kubersandar pada dinding
suatu saat dinding itu kan roboh
huh!berharap pada manusia
hanya berakhir kecewa
mungkin hanya berharap padaNya
dan mencintaNya lah yang
berakhir bahagia
namun kursi itu diambil orang
kubersandar pada dinding
suatu saat dinding itu kan roboh
huh!berharap pada manusia
hanya berakhir kecewa
mungkin hanya berharap padaNya
dan mencintaNya lah yang
berakhir bahagia
Jumat, 12 Juni 2009
Tafsir Surat Al-Fatihah
Kuliah Umum Pimpinan Pondok Pesantren Ar-Risalah Drs.Kh Asep Saefulmillah
Surat Al-Fatihah banyak namanya, diantaranya :
Ø Surat Al-Fatihah
Diberi nama Surat Al-Fatihah karena dijadikan pembuka dalam seluruh kitab suci Al-Quran, diambil dari kata fataha
Ø Ummul Quran
Ummul Al-Quran yang bermakna Ibunya Al-Quran, diberi nama demikian karena isi Al-Qur’an yang terdiri dari 30 juz, semuanya dirangkum dalam surat Al-Fatihah
Ø Ummul Kitab
Ummul Kitab yang berarti Ibunya Kitab, diberi nama demikian karena semua kitab yang diturunkan ke bumi ini isinya ada dalam surat Al-Fatihah
Ø Sab’ul Matsani
Secara etimologi / harfiah Al-Fatihah merupakan 7 ayat yang diulang-ulang, paling sedikit 2 x dalam shalat wajib.
Bismillahirrahmanirrahim
Dengan menyebut nama Allah, yang telah memberi nikmat besar bagi muslim dan kafir di dunia, yang telah memberi nikmat kecil bagi muslim di akhirat.
1. Bismillahirrahmanirrahim, dibaca ketika melaksanakan hal-hal yang baik. Karena ketika kita melaksanakan suatu kegiatan atau aktifitas yang baik tanpa mengucapkan basmalah bagaikan bagaikan daging yang buruk atau daging yang dipotong-potong
2. Dalam bismillahirrahmanirrahim ada lafadz Ar-Rahman diberikan secara umum baik kepada muslim maupun non muslim, karena islam itu rahmatan lil ‘alamin. Sedangkan Ar-Rahim yaitu kasih saying Allah atau nikmat Allah yang diberikan khusus kepada orang muslim di akhirat.
Alhamdulillahirabbil ‘alamin
Segala puji bagi Allah yang menguasai alam
Puji itu terdiri dari empat macam, yaitu :
1. Hamdun Qodim li qodimin
Dalam bahasa darah kita kenal “puji heubeul kanu heubeul”, maksudnya puji Allah terhadap Allah
2. Hamdun Hadist li hadistin
Dalam bahasa daerah kita kenal “puji anyar kanu anyar”, maksudnya puji makhluk terhadap makhluk
3. Hamdun Qodim li hadistin
Dalam bahasa daerah kita kenal “Puji heubeul kanu anyar”, maksudnya puji Allah terhadap makhluknya. Seperti firmanNya “Hai Muhammad kalau kamu tidak ada maka seisi ala mini tidak ada.”
4. Hamdun Hadist li qodimin
Dalam bahasa daerah kita kenal”Puji anyar kanu heubeul”, maksudnya puji makhluk terhadap Allah, seperti lafadz La Ilaaha Illa Anta yang artinya Tidak ada Tuhan selain Engkau.
Menurut penulis kitab Tafsir Ibn Katsir, junlah alam itu ada 100.000 alam, sebanyak 40.000 ada di darat dan sebanyak 60.000 berada di darat. Disini kita menemukan korelasi dengan pelajaran Geografi yang telah kita pelajari bahwa lautan itu lebih luas daripada daratan, dengan perbandingan 2/3 dan 1/3.
Menurut Imam Al-Ghazali alam itu terdiri dari :
1. Alam Jin
Yaitu alam yang mempunyai ruh tetapi tidak mempunyai jasad, seperti hal nya jin.
2. Alam Jamadat
Yaitu alam yang mempunyai jasad, tetapi tidak mempunyai ruh, biasa kita kenal dengan ‘benda mati.’
Bersambung
Surat Al-Fatihah banyak namanya, diantaranya :
Ø Surat Al-Fatihah
Diberi nama Surat Al-Fatihah karena dijadikan pembuka dalam seluruh kitab suci Al-Quran, diambil dari kata fataha
Ø Ummul Quran
Ummul Al-Quran yang bermakna Ibunya Al-Quran, diberi nama demikian karena isi Al-Qur’an yang terdiri dari 30 juz, semuanya dirangkum dalam surat Al-Fatihah
Ø Ummul Kitab
Ummul Kitab yang berarti Ibunya Kitab, diberi nama demikian karena semua kitab yang diturunkan ke bumi ini isinya ada dalam surat Al-Fatihah
Ø Sab’ul Matsani
Secara etimologi / harfiah Al-Fatihah merupakan 7 ayat yang diulang-ulang, paling sedikit 2 x dalam shalat wajib.
Bismillahirrahmanirrahim
Dengan menyebut nama Allah, yang telah memberi nikmat besar bagi muslim dan kafir di dunia, yang telah memberi nikmat kecil bagi muslim di akhirat.
1. Bismillahirrahmanirrahim, dibaca ketika melaksanakan hal-hal yang baik. Karena ketika kita melaksanakan suatu kegiatan atau aktifitas yang baik tanpa mengucapkan basmalah bagaikan bagaikan daging yang buruk atau daging yang dipotong-potong
2. Dalam bismillahirrahmanirrahim ada lafadz Ar-Rahman diberikan secara umum baik kepada muslim maupun non muslim, karena islam itu rahmatan lil ‘alamin. Sedangkan Ar-Rahim yaitu kasih saying Allah atau nikmat Allah yang diberikan khusus kepada orang muslim di akhirat.
Alhamdulillahirabbil ‘alamin
Segala puji bagi Allah yang menguasai alam
Puji itu terdiri dari empat macam, yaitu :
1. Hamdun Qodim li qodimin
Dalam bahasa darah kita kenal “puji heubeul kanu heubeul”, maksudnya puji Allah terhadap Allah
2. Hamdun Hadist li hadistin
Dalam bahasa daerah kita kenal “puji anyar kanu anyar”, maksudnya puji makhluk terhadap makhluk
3. Hamdun Qodim li hadistin
Dalam bahasa daerah kita kenal “Puji heubeul kanu anyar”, maksudnya puji Allah terhadap makhluknya. Seperti firmanNya “Hai Muhammad kalau kamu tidak ada maka seisi ala mini tidak ada.”
4. Hamdun Hadist li qodimin
Dalam bahasa daerah kita kenal”Puji anyar kanu heubeul”, maksudnya puji makhluk terhadap Allah, seperti lafadz La Ilaaha Illa Anta yang artinya Tidak ada Tuhan selain Engkau.
Menurut penulis kitab Tafsir Ibn Katsir, junlah alam itu ada 100.000 alam, sebanyak 40.000 ada di darat dan sebanyak 60.000 berada di darat. Disini kita menemukan korelasi dengan pelajaran Geografi yang telah kita pelajari bahwa lautan itu lebih luas daripada daratan, dengan perbandingan 2/3 dan 1/3.
Menurut Imam Al-Ghazali alam itu terdiri dari :
1. Alam Jin
Yaitu alam yang mempunyai ruh tetapi tidak mempunyai jasad, seperti hal nya jin.
2. Alam Jamadat
Yaitu alam yang mempunyai jasad, tetapi tidak mempunyai ruh, biasa kita kenal dengan ‘benda mati.’
Bersambung
"Asa"
“Kenalkan namaku “Alfarabyan” cukup panggil aku ‘alfa’ ,’al’,’atau ‘byan” paparku pada teman-teman mahasiswa lain yang senasib dan sepenanggungan harus berpanas-panas ria di lapangan utama kampus.
“Tolong sebutkan nama lengkap!” suruh salah satu kakak tingkat yang ada di tengah lingkaran mahasiswa baru.
“Nama lengkapku …….” (aku ragu menyebutkan nama lengkapku) seumur hidupku, yang paling anti kulakukan adalah berbohong, kecuali satu hal yaitu aku tidak mau menyebutkan nama lengkapku. Toh menyembunyikan nama lengkapku bukan suatu kebohongan besar bukan? Aku takut kalau menyebutkan nama lengkapku bakalan terjadi kontroversi. Tepatnya aku harus mengadakan konfrensi pers untuk menjawab pertanyaan orang-orang yang mengetahui nama lengkapku. Sebegitu anehkah namaku?
“Heh!” “malah bengong!” “Ayo sebutkan nama lengkapmu!” hardik kakak tingkat yang berjas ungu itu, yang nanti namanya “Ogi.” Keringatku megucur deras dari dahiku, entah karena memang matahari terik sekali, serasa membakar ubun-ubunku, atau entah karena aku takut menyebutkan nama asliku.
“Nama lengkapku …..Alfarabyan Einstein”….ucapanku menggantung di udara. Kulihat reaksi teman-teman yang lain ada yang menahan tawa, ada yang matanya terbelalak, ada yang mengerutkan keningnya, ada yang halisnya terangkat sebelah, mungkin mereka merasa aneh mendengar namaku. Ada juga yang kakinya gemetaran, eh,,kok ga nyambung sih,,itu mah yang kebelet pipis. Yang paling menyebalkan adalah kulihat dari sudut mataku cowok yang bernama “Ogi” itu menahan tawa, berani-beraninya dia meremehkanku. Selanjutnya perkenalan diteruskan pada teman-teman yang lain.
Dah tau kan , kenapa aku malas menyebut nama lengkapku, faktanya tadi banyak orang yang menertawakanku, huh annoyed! Pulang dari kampus aku menyempatkan pulang ke rumah, aku ingin menggugat Ibuku, mengapa ia memberikanku nama yang aneh itu.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, ketika MOS di SMA dan SMP, jawaban Ibuku selalu sama.
“Apakah arti sebuah nama anakku?” kata Ibuku sok puitis.
“Bukankah begitu kata om Shakespare?! Tambahnya lagi. Melihat reaksiku yang memonyongkan bibir sepanjang 5 cm, tapi walaupun begitu aku tetap terlihat cantik kok! Ibuku menambahkan lagi,,
“Ibu berharap dengan memberikan nama itu, anak Ibu bisa secerdas Alfarabi dan Einstein di jamannya.” Papar Ibuku. Ya, karena ibuku begitu tergila-gila pada angka e=mc2nya Einstein, dan sangat kagum pada ilmuwan fisika islam Alfarabi sehingga terinspirasi untuk memberi nama anaknya dengan nama itu. Apakah Ibu tidak pernah memikirkan bagaimana reaksi teman-temanku mendengar nama anehku itu. Sempat terbersit dalam otakku untuk mengganti namaku dengan mengadakan syukuran bubur merah dan putih. Tapi aku mengurungkn niatku, karena membayangkan betapa ribetnya mengganti nama ke Catatan Sipil, dan namaku sudah terlanjur tercantum di ijazahku.
Hari pun berganti, hari-hari OSPEK yang bête nan boring selesai sudah. Jalanan terjal nan panjang pun membentang dihadapanku.Tak pernah terbersit dalam bayanganku sekalipun, untuk melnjutkan studi di sini, sebuah kampus daerah.Kufikir, dan menurut teman-temanku juga pantasnya aku kuliah di PTN favorit di kota-kota besar. Dulu aku sangat terobsesi untuk kuliah di jurusan fisika,karena memang aku benar-benar jatuh cinta pada pelajaran yang kebanyakan orang malah membencinya.Tapi karena suatu hal,sehingga hanya tinggal satu kesempatan buatku untuk mendapatkan beasiswa dari salah satu Departemen. Aku berharap setengah mati mendapatkan beasiswa itu, namun nasib berkata lain, aku tidak lolos seleksi dan akhirnya aku terdampar disini. Karena orang tuaku tidak mampu untuk menguliahkanku di luar kota .
Kini aku harus bergelut dengan biologi, karena mau tidak mau aku harus masuk jurusan ini, karena tidak adanya matematika, kimia, apalagi fisika. Bagai kerbau dicocok hidung, bagaikan dipaksa memakan makanan yang tidak kita suka, atu lebih parah lagi bagaikan harus menikah dengan orang yang tidak kita cintai. Berat bukan? Begitulah nasibku disini, aku harus berjuang menghafal susunan Taksonomi, tata nama Binomial Nomenklatur. Padahal menurutku lebih mudah menyebut tanaman dan hewan dengan nama yang kita kenal sehari-hari. Bahkan aku harus merem melek dengan tangan gemeteran memegang pisau bedah ketika praktek membedah kodok. Jujur aku a tega, soalnya katak itu, masih bernafas karena biusnya ga berjalan dengan baik. Kesimpulanku pelajaran Biologi adalah pelajaran paling TEGA sedunia, kalau tidak dibilang kejam atau sadis.
Ada rasa sakit di hati ini karena aku tidak bisa atau tepatnya belum bisa menggapai cita-citaku, atau minimal ada dijalan menggapai cita-citaku. Aku ingin jadi ilmuwan fisika, aku ingin seperti Alfarabi dan Einstein di jamannya, tapi mungkinkah aku menggapainya sedangkan aku di jurusan yang berbeda? Sejak kecil aku merasakan ada naluri yang membimbingku ke arah sana , setiap kali melihat roda mobil yang berputar, aku teringat kecepatan sudut sama dengan massa dikali jari-jari kuadrat. Melihat barang-barang disekelilingku, kipas angin, pipa air, kompor, kulkas, tv, dll semuanya mengingatkanku pada fenomena fisika. Dan juga aku selalu teringat ketika ada benda yang terjatuh, mengingatkanku pada gaya gravitasi dan gaya normal yang dialami benda itu. Akupun menyunggingkan senyum saat kuingatcerita apel jatuh yang menimpa kepala Issac Newton, sehingga sekarang kita mengenal Hukum Newton 1,2, dan 3. Gaya sama dengan massa dikali percepatan.
Setengah kaget ketika tersadar bahwa ada orang yang duduk dihadapanku, jaraknya kurang lebih 1,5 m dariku. Ini mesjid neng, jangan berbuat macam-macam kalau tidak mau ditegur orang. Jangan dekat-dekat kalau tidak mau disangka mojok. Mojok kok di mesjid? Kalau perlu jaraknya ditambah deh, 10 m gitu. Lho, kok ngelantur sih?
“Hobi kamu ngelamun ya?” Tanya orang yang ada dihadapanku itu, masih ingat “Ogi”? Yang kalau boleh kusebut dia “Orang Gila” karena berani-beraninya mempermalukanku didepan teman-teman.
“ga kok!” Jawabku datar.
“Lho, hampir setengah jam lho, kamu di situ senyam-senyum sendiri, aku tahu jasad kamu memang disitu, tapi fikiranmu melayang-layangkan?” kta si Ogi lagi sok tahu. Tapi memang tebakannya bener ding. Apa dia punya indra keenam ya? Ih,,serem.
“Diam berarti bener kan ?” katanya lagi. Aku pasrah aja deh, toh emang bener. Tapi aku ga suka dengan gayanya yang sok tahu itu.
“Ma kakak apa sih?” tanyaku to the point, padahal suer pas aku ngomong ‘kakak’ rasanya pengen muntah.
“Aku Cuma mau minta maaf soal waktu itu, aku ga bermaksud buat kamu malu di depan yang lain.” Suer. Paparnya. Aku hanya diam. Mempertimbangkan apakah aku memaafkannya atau tidak.
“Oh, soal itu. Lupain aja deh! “ kataku malas
“Bener nih dimaafin?” tanyanya lagi memastikan.
“Iya, udah aku maafin” timpalku dengan senyum yang dipaksakan. Padahal aku masih mangkel dengan kelakuannya itu. Pengen deh jambak rambutnya yang mengingatkanku pada si Ono eh, maksudnya Christian Sugiono.
Aku melirik jam ditanganku, 3 menit lagi aku harus sudah ada di kelas, soalnya ada kuliah pelajaran paling tega sedunia.
“Aku ke kelas dulu ya, ada kuliah nih” pamitku pada si Ogi.
***
Di kelas, pelajaran Biologi.
Kebetulan dosennya ga ada, katanya ada keluarganya yang meninggal, ya…sering-sering aja deh biar dosennya jarang masuk. Ups, kok jadi berdoa yang ga bener sih? Tapi sepertinya dosen ku yang satu ini ga pernah lupa buat ngasih tugas sama mahasiswanya. Tugas buat makalah tentang Biokimia, dikumpulkan minggu depan. Begitulah tugas darinya. Akupun memutuskan untuk berkunjung ke perpustakaan, untuk mencari literature yang kuperlukan. Aku melewati papan informasi, aku baru sadar kalau aku belum melihat nilaiku UTS kemarin di papan pengumuman. Alhamdulillah aku lulus di semua mata pelajaran, ya walaupun di biologi nilaiku pas-pasan. Aku liat nilai teman-temanku yang lain. Aneh,, ada beberapa temanku yang lulus ujian, nilai A lagi, padahal aku tahu kuliah mereka Senen Kemis, mau kuliah tinggal kuliah, malas kuliah ya ga usah. Begitu prinsip mereka. Aku jadi curiga, usaha apa yang mereka lakukan kok bisa dapat nilai segitu? Ke dukunkah, atau memberi si dosen uang panas?
Jauh di lubuk hatiku, geram melihat kenyataan seperti itu. Kesannya dengan uang kita bisa menyelesaikan semuanya. Berarti kasihan orang-orang yang ga mampu dong? Ah, tapi aku yakin di akhirat nanti pasti ada pengadilan yang bener-bener adil. Toh, Allah tau usahaku. Sabar…sabar…aku mengurut dada. Dengan kondisi batin yang seperti ini kutahu pasti ekspresi wajahku bakalan kelihatan, muram mungkin?! Duh…kok mataku panas sih, pengen nangis! Tapi kucoba menahan aliran sungai itu, jangan dulu keluar…nanti aja di kamar. Aku pun meraih helm dari motorku, ketika aku mengenakannya, tak sengaja aku bersitatap dengan si Ogi, kenapa sih dalam sehari aku harus bertemu dengannya dua kali? Melebihi dosisku minum vitamin saja.
Aku pun pulang dengan menaiki revoku, aku pergi dengan kecepatan sedang. Pengennya sih ngebut, tapi karena banku agak gundul, aku ga mau dong ngambil resiko, ntar malah tabrakan, trus mati konyol, ih…amit-amit deh! Aku melirik spionku, kok ada yang ngikutin sih? Akupun memutuskan tidak pulang ke rumah, tapi mampir ke resto sederhana. Biar aku tahu siapa yang ngikutin aku. Oh….ternyata si Orang Gila itu, Ogi lagi…Ogi lagi…
Dia menghampiriku, dan tanpa kusuruh duduk satu meja denganku.
“Al, sebelumnya aku minta maaf nih,Karena udah ngikutin kamu. Sebenernya aku pengen tahu, maksudnya aku peduli sama kamu. Sebagai ketua BEM di kampus, aku perhatiin kamu kayaknya 3 bulan terakhir ini kamu seperti tidak semangat kuliah. Kayaknya bukan kamu banget deh, tipe orang kayak kamu tuh biasanya aktif, supel, tapi akhir-akhir ini kamu murung, dan suka menyendiri. Kenapa sih?
“Bentar,,,kamu, ketua BEM?” Tanya ku memastikan apa yang kudengar tidak salah.
“Kamu kemana aja sih, tiga bulan kuliah ga tau siapa ketua BEMnya? Gimana sih? Kamu terlalu sibuk dengan fikiranmu sendiri sih!” kata si Ogi.
Deg, kata-katanya memang benar aku memang sibuk dengan fikiranku sendiri. Sehingga potensiku terkubur.
“Oh,,,,maaf deh!”jawabku polos.
“Aku Cuma kecewa aja sama kenyataan, bahwa dengan uang bisa membutakan segalanya, temenku yng kuliahnya senen kemis kok bisa lulus ujian plus nilai A lagi! Aduku kesal.
“Oh,,,itu toh, kayaknya aku harus cek kebenarannya. Kalau benar mudah-mudahan bisa aku usut. Aku ga mau ada ketidak adilan di kampusku ini.” Kata si Ogi lebih serius.
“Trus tiga bulan terakhir, kenapa ?”
“Aku ga semangat kuliah,”
“Jujur, aku sama sekali ga suka Biologi, dan ternyata jalanku di sini, fakultas Biologi. Menyebalkan ga sih?” tanyaku retoris.
“Emang tadinya mau masuk apa?”Tanya si Ogi yang kayaknya penasaran
“Pengen banget masuk fisika, Cuma karena disini ga ada yam au gimana lagi? Terpaksa deh, seperti seseorang yang dipaksa harus menikah dengan orang yang tidak ia cintai, setengah hati!
“Makannya aku ga suka kalau menyebutkan nama lengkapku, karena namaku itu mengingatkanku pada cita-cita ku, asaku menjadi ilmuwan fisika.” Paparku
“Fa, menurutku ga penting deh kamu menikahi orang yang kamu cintai, tapi yang enting buat kamu sekarang adalah mencintai orang yang kamu nikahi. Sama saja dengan ga penting kamu melakukan apa yang kamu cintai, tapi yang penting buat kamu adalah mencintai apa yang sedang kamu lakukan. Emang sih, ngomong itu gampang, sulit merealisasikannya memang, tapi ini penting supaya kamu bisa menghadapi kenyataan yang menurut kamu ga sesuai dengan harapan kamu. Mungkin ini yang terbaik buatmu. Belum tentu yang menurut kamu baik, baik juga menurut yang di atas.”
Aku pun tertunduk mendengar ceramah singkatnya si Ono, eh si Ogi. Bukan si Ogi “Orang Gila” lagi tapi si Ogi yang telah meruntuhkan idealismku yang menjulang tinggi. Kini, asa ku hilang, tapi hilang asa satu, tumbuh asa seribu.
“Tolong sebutkan nama lengkap!” suruh salah satu kakak tingkat yang ada di tengah lingkaran mahasiswa baru.
“Nama lengkapku …….” (aku ragu menyebutkan nama lengkapku) seumur hidupku, yang paling anti kulakukan adalah berbohong, kecuali satu hal yaitu aku tidak mau menyebutkan nama lengkapku. Toh menyembunyikan nama lengkapku bukan suatu kebohongan besar bukan? Aku takut kalau menyebutkan nama lengkapku bakalan terjadi kontroversi. Tepatnya aku harus mengadakan konfrensi pers untuk menjawab pertanyaan orang-orang yang mengetahui nama lengkapku. Sebegitu anehkah namaku?
“Heh!” “malah bengong!” “Ayo sebutkan nama lengkapmu!” hardik kakak tingkat yang berjas ungu itu, yang nanti namanya “Ogi.” Keringatku megucur deras dari dahiku, entah karena memang matahari terik sekali, serasa membakar ubun-ubunku, atau entah karena aku takut menyebutkan nama asliku.
“Nama lengkapku …..Alfarabyan Einstein”….ucapanku menggantung di udara. Kulihat reaksi teman-teman yang lain ada yang menahan tawa, ada yang matanya terbelalak, ada yang mengerutkan keningnya, ada yang halisnya terangkat sebelah, mungkin mereka merasa aneh mendengar namaku. Ada juga yang kakinya gemetaran, eh,,kok ga nyambung sih,,itu mah yang kebelet pipis. Yang paling menyebalkan adalah kulihat dari sudut mataku cowok yang bernama “Ogi” itu menahan tawa, berani-beraninya dia meremehkanku. Selanjutnya perkenalan diteruskan pada teman-teman yang lain.
Dah tau kan , kenapa aku malas menyebut nama lengkapku, faktanya tadi banyak orang yang menertawakanku, huh annoyed! Pulang dari kampus aku menyempatkan pulang ke rumah, aku ingin menggugat Ibuku, mengapa ia memberikanku nama yang aneh itu.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, ketika MOS di SMA dan SMP, jawaban Ibuku selalu sama.
“Apakah arti sebuah nama anakku?” kata Ibuku sok puitis.
“Bukankah begitu kata om Shakespare?! Tambahnya lagi. Melihat reaksiku yang memonyongkan bibir sepanjang 5 cm, tapi walaupun begitu aku tetap terlihat cantik kok! Ibuku menambahkan lagi,,
“Ibu berharap dengan memberikan nama itu, anak Ibu bisa secerdas Alfarabi dan Einstein di jamannya.” Papar Ibuku. Ya, karena ibuku begitu tergila-gila pada angka e=mc2nya Einstein, dan sangat kagum pada ilmuwan fisika islam Alfarabi sehingga terinspirasi untuk memberi nama anaknya dengan nama itu. Apakah Ibu tidak pernah memikirkan bagaimana reaksi teman-temanku mendengar nama anehku itu. Sempat terbersit dalam otakku untuk mengganti namaku dengan mengadakan syukuran bubur merah dan putih. Tapi aku mengurungkn niatku, karena membayangkan betapa ribetnya mengganti nama ke Catatan Sipil, dan namaku sudah terlanjur tercantum di ijazahku.
Hari pun berganti, hari-hari OSPEK yang bête nan boring selesai sudah. Jalanan terjal nan panjang pun membentang dihadapanku.Tak pernah terbersit dalam bayanganku sekalipun, untuk melnjutkan studi di sini, sebuah kampus daerah.Kufikir, dan menurut teman-temanku juga pantasnya aku kuliah di PTN favorit di kota-kota besar. Dulu aku sangat terobsesi untuk kuliah di jurusan fisika,karena memang aku benar-benar jatuh cinta pada pelajaran yang kebanyakan orang malah membencinya.Tapi karena suatu hal,sehingga hanya tinggal satu kesempatan buatku untuk mendapatkan beasiswa dari salah satu Departemen. Aku berharap setengah mati mendapatkan beasiswa itu, namun nasib berkata lain, aku tidak lolos seleksi dan akhirnya aku terdampar disini. Karena orang tuaku tidak mampu untuk menguliahkanku di luar kota .
Kini aku harus bergelut dengan biologi, karena mau tidak mau aku harus masuk jurusan ini, karena tidak adanya matematika, kimia, apalagi fisika. Bagai kerbau dicocok hidung, bagaikan dipaksa memakan makanan yang tidak kita suka, atu lebih parah lagi bagaikan harus menikah dengan orang yang tidak kita cintai. Berat bukan? Begitulah nasibku disini, aku harus berjuang menghafal susunan Taksonomi, tata nama Binomial Nomenklatur. Padahal menurutku lebih mudah menyebut tanaman dan hewan dengan nama yang kita kenal sehari-hari. Bahkan aku harus merem melek dengan tangan gemeteran memegang pisau bedah ketika praktek membedah kodok. Jujur aku a tega, soalnya katak itu, masih bernafas karena biusnya ga berjalan dengan baik. Kesimpulanku pelajaran Biologi adalah pelajaran paling TEGA sedunia, kalau tidak dibilang kejam atau sadis.
Ada rasa sakit di hati ini karena aku tidak bisa atau tepatnya belum bisa menggapai cita-citaku, atau minimal ada dijalan menggapai cita-citaku. Aku ingin jadi ilmuwan fisika, aku ingin seperti Alfarabi dan Einstein di jamannya, tapi mungkinkah aku menggapainya sedangkan aku di jurusan yang berbeda? Sejak kecil aku merasakan ada naluri yang membimbingku ke arah sana , setiap kali melihat roda mobil yang berputar, aku teringat kecepatan sudut sama dengan massa dikali jari-jari kuadrat. Melihat barang-barang disekelilingku, kipas angin, pipa air, kompor, kulkas, tv, dll semuanya mengingatkanku pada fenomena fisika. Dan juga aku selalu teringat ketika ada benda yang terjatuh, mengingatkanku pada gaya gravitasi dan gaya normal yang dialami benda itu. Akupun menyunggingkan senyum saat kuingatcerita apel jatuh yang menimpa kepala Issac Newton, sehingga sekarang kita mengenal Hukum Newton 1,2, dan 3. Gaya sama dengan massa dikali percepatan.
Setengah kaget ketika tersadar bahwa ada orang yang duduk dihadapanku, jaraknya kurang lebih 1,5 m dariku. Ini mesjid neng, jangan berbuat macam-macam kalau tidak mau ditegur orang. Jangan dekat-dekat kalau tidak mau disangka mojok. Mojok kok di mesjid? Kalau perlu jaraknya ditambah deh, 10 m gitu. Lho, kok ngelantur sih?
“Hobi kamu ngelamun ya?” Tanya orang yang ada dihadapanku itu, masih ingat “Ogi”? Yang kalau boleh kusebut dia “Orang Gila” karena berani-beraninya mempermalukanku didepan teman-teman.
“ga kok!” Jawabku datar.
“Lho, hampir setengah jam lho, kamu di situ senyam-senyum sendiri, aku tahu jasad kamu memang disitu, tapi fikiranmu melayang-layangkan?” kta si Ogi lagi sok tahu. Tapi memang tebakannya bener ding. Apa dia punya indra keenam ya? Ih,,serem.
“Diam berarti bener kan ?” katanya lagi. Aku pasrah aja deh, toh emang bener. Tapi aku ga suka dengan gayanya yang sok tahu itu.
“Ma kakak apa sih?” tanyaku to the point, padahal suer pas aku ngomong ‘kakak’ rasanya pengen muntah.
“Aku Cuma mau minta maaf soal waktu itu, aku ga bermaksud buat kamu malu di depan yang lain.” Suer. Paparnya. Aku hanya diam. Mempertimbangkan apakah aku memaafkannya atau tidak.
“Oh, soal itu. Lupain aja deh! “ kataku malas
“Bener nih dimaafin?” tanyanya lagi memastikan.
“Iya, udah aku maafin” timpalku dengan senyum yang dipaksakan. Padahal aku masih mangkel dengan kelakuannya itu. Pengen deh jambak rambutnya yang mengingatkanku pada si Ono eh, maksudnya Christian Sugiono.
Aku melirik jam ditanganku, 3 menit lagi aku harus sudah ada di kelas, soalnya ada kuliah pelajaran paling tega sedunia.
“Aku ke kelas dulu ya, ada kuliah nih” pamitku pada si Ogi.
***
Di kelas, pelajaran Biologi.
Kebetulan dosennya ga ada, katanya ada keluarganya yang meninggal, ya…sering-sering aja deh biar dosennya jarang masuk. Ups, kok jadi berdoa yang ga bener sih? Tapi sepertinya dosen ku yang satu ini ga pernah lupa buat ngasih tugas sama mahasiswanya. Tugas buat makalah tentang Biokimia, dikumpulkan minggu depan. Begitulah tugas darinya. Akupun memutuskan untuk berkunjung ke perpustakaan, untuk mencari literature yang kuperlukan. Aku melewati papan informasi, aku baru sadar kalau aku belum melihat nilaiku UTS kemarin di papan pengumuman. Alhamdulillah aku lulus di semua mata pelajaran, ya walaupun di biologi nilaiku pas-pasan. Aku liat nilai teman-temanku yang lain. Aneh,, ada beberapa temanku yang lulus ujian, nilai A lagi, padahal aku tahu kuliah mereka Senen Kemis, mau kuliah tinggal kuliah, malas kuliah ya ga usah. Begitu prinsip mereka. Aku jadi curiga, usaha apa yang mereka lakukan kok bisa dapat nilai segitu? Ke dukunkah, atau memberi si dosen uang panas?
Jauh di lubuk hatiku, geram melihat kenyataan seperti itu. Kesannya dengan uang kita bisa menyelesaikan semuanya. Berarti kasihan orang-orang yang ga mampu dong? Ah, tapi aku yakin di akhirat nanti pasti ada pengadilan yang bener-bener adil. Toh, Allah tau usahaku. Sabar…sabar…aku mengurut dada. Dengan kondisi batin yang seperti ini kutahu pasti ekspresi wajahku bakalan kelihatan, muram mungkin?! Duh…kok mataku panas sih, pengen nangis! Tapi kucoba menahan aliran sungai itu, jangan dulu keluar…nanti aja di kamar. Aku pun meraih helm dari motorku, ketika aku mengenakannya, tak sengaja aku bersitatap dengan si Ogi, kenapa sih dalam sehari aku harus bertemu dengannya dua kali? Melebihi dosisku minum vitamin saja.
Aku pun pulang dengan menaiki revoku, aku pergi dengan kecepatan sedang. Pengennya sih ngebut, tapi karena banku agak gundul, aku ga mau dong ngambil resiko, ntar malah tabrakan, trus mati konyol, ih…amit-amit deh! Aku melirik spionku, kok ada yang ngikutin sih? Akupun memutuskan tidak pulang ke rumah, tapi mampir ke resto sederhana. Biar aku tahu siapa yang ngikutin aku. Oh….ternyata si Orang Gila itu, Ogi lagi…Ogi lagi…
Dia menghampiriku, dan tanpa kusuruh duduk satu meja denganku.
“Al, sebelumnya aku minta maaf nih,Karena udah ngikutin kamu. Sebenernya aku pengen tahu, maksudnya aku peduli sama kamu. Sebagai ketua BEM di kampus, aku perhatiin kamu kayaknya 3 bulan terakhir ini kamu seperti tidak semangat kuliah. Kayaknya bukan kamu banget deh, tipe orang kayak kamu tuh biasanya aktif, supel, tapi akhir-akhir ini kamu murung, dan suka menyendiri. Kenapa sih?
“Bentar,,,kamu, ketua BEM?” Tanya ku memastikan apa yang kudengar tidak salah.
“Kamu kemana aja sih, tiga bulan kuliah ga tau siapa ketua BEMnya? Gimana sih? Kamu terlalu sibuk dengan fikiranmu sendiri sih!” kata si Ogi.
Deg, kata-katanya memang benar aku memang sibuk dengan fikiranku sendiri. Sehingga potensiku terkubur.
“Oh,,,,maaf deh!”jawabku polos.
“Aku Cuma kecewa aja sama kenyataan, bahwa dengan uang bisa membutakan segalanya, temenku yng kuliahnya senen kemis kok bisa lulus ujian plus nilai A lagi! Aduku kesal.
“Oh,,,itu toh, kayaknya aku harus cek kebenarannya. Kalau benar mudah-mudahan bisa aku usut. Aku ga mau ada ketidak adilan di kampusku ini.” Kata si Ogi lebih serius.
“Trus tiga bulan terakhir, kenapa ?”
“Aku ga semangat kuliah,”
“Jujur, aku sama sekali ga suka Biologi, dan ternyata jalanku di sini, fakultas Biologi. Menyebalkan ga sih?” tanyaku retoris.
“Emang tadinya mau masuk apa?”Tanya si Ogi yang kayaknya penasaran
“Pengen banget masuk fisika, Cuma karena disini ga ada yam au gimana lagi? Terpaksa deh, seperti seseorang yang dipaksa harus menikah dengan orang yang tidak ia cintai, setengah hati!
“Makannya aku ga suka kalau menyebutkan nama lengkapku, karena namaku itu mengingatkanku pada cita-cita ku, asaku menjadi ilmuwan fisika.” Paparku
“Fa, menurutku ga penting deh kamu menikahi orang yang kamu cintai, tapi yang enting buat kamu sekarang adalah mencintai orang yang kamu nikahi. Sama saja dengan ga penting kamu melakukan apa yang kamu cintai, tapi yang penting buat kamu adalah mencintai apa yang sedang kamu lakukan. Emang sih, ngomong itu gampang, sulit merealisasikannya memang, tapi ini penting supaya kamu bisa menghadapi kenyataan yang menurut kamu ga sesuai dengan harapan kamu. Mungkin ini yang terbaik buatmu. Belum tentu yang menurut kamu baik, baik juga menurut yang di atas.”
Aku pun tertunduk mendengar ceramah singkatnya si Ono, eh si Ogi. Bukan si Ogi “Orang Gila” lagi tapi si Ogi yang telah meruntuhkan idealismku yang menjulang tinggi. Kini, asa ku hilang, tapi hilang asa satu, tumbuh asa seribu.
Sabtu, 16 Mei 2009
Bedah Buku

Judul : Harus Bisa!
Seni Memimpin Ala SBY (Catatan Harian Dr.Dino Patti Djalal)
Penulis : Dr.Dino Patti Djalal
Tebal : 430 + cover
“Jarang saya baca mengenai ilmu kepemimpinan di Indonesia yang disajikan sedemikian menarik. Topik yang masih belum banyak digali oleh pemikir dan pemimpin muda kita. Maka kiranya perlu dibaca oleh semua pemimpin dan calon pemimpin Indonesia .” Begitulah komentar Ali Alatas,SH Menteri luar negeri Indonesia th 1988-1999 terhadap buku ini.
Ide untuk menulis buku ini datang ketika Dr.Dino membersihkan meja kerjanya dan menemukan sekumpulan nota-nota tulisan tangan SBY yang tersimpan di laci. Presiden SBY sering menulis nota-nota ini dalam rapat cabinet kepada Menteri dan stafnya, umumnya berupa intruksi, klarifikasi, atau meminta dicrarikan informasi.
Ketika membenahi nota-nota tersebut, beliau tersadar bahwa itu bukanlah arsip biasa, tetapi itu adalah sidik jari dari era politik penting yang kelak akan dipelajari di sekolah dan kampus.
Dalam menulis buku ini, penulis semakin terekspos terhadap satu tema dasar ‘kepemimpinan.’ Penulis semakin terbuka bahwa sebagian besar masalah nasional kita sangat berkaitan erat dengan factor kepemimpinan. Dengan kepemimpinan yang baik maka krisis akan teratasi, konflik dapat diselesaikan, dan Negara semakin maju. Sebaliknya dengan kepemimpinan yang buruk, korupsi semakin parah, ekonomi jadi terpuruk, dan reformasi akan mundur. Faktor kepemimpinan karenanya bisa menjadi kunci sukses atau kegagalan.
UUD 19945 telah menetapkan syarat minimal bagi calon presiden, yakni harus orang Indonesia sejak kelahirannya, dan mampu secara jasmani dan rohani menjalankan tugasnya.Dalam prakteknya, syarat-syarat konstitusional ini hanya akan meloloskan ke gerbang pintu. Dibalik pintu itu, seorang presiden Indonesia akan menemukan dirinya seorang dirimemimpin Negara berpenduduk ke 4 terbesar di dunia, dilanda arus transformasi yang deras dengan sejuta permasalahan yang sangat kompleks, dalam dunia dunia abad ke-21 yang semakin cepat berputar dan berubah.
Pada titik ini, seorang presiden Indonesia yang mumpuni harus memiliki segudang kreatifitas khusus yang tidak bisa dijaring khusus dengan Undang-Undang: handal menangani kebijakan, sigap dalam mengambil keputusan, judgment yang matang, intelektualitas yang tinggi, inovatif, berani mengambil risiko, adaptif, naluri yang tajam, kepedulian terhadap masalah, tangguh mental, mau introspeksi dan belajar dari kesalahan, mampu menentukan prioritas, gigih mencari solusi, mampu membaca perubahan zaman dan trend dunia, kemampuan untuk beradaptasi, akhlak yang baik, dan lain sebagainya.
Buku ini berisi kumpulan’leadership notes’ karena semua cerita serius atau ringan dalam buku ini ada kaitannya dengan ilmu kepemimpinan, dari krisis tsunami sampai piala Asia Cup, dari subsidi BBM sampai KTT OKI, dari perubahan iklim sampai parcel mangga.
Dalam penulisan buku ini, Dr.Dino sangat dibantu oleh beberapa hal. Pertama, Presiden SBY sangat mementingkan factor kepemimpinan dalam menjalankan tugas sehari-harinya, sehingga penulis tidak kekurangan bahan untuk studi kasusnya.
Kedua, Presiden gemar sekali bernicara dengan pembantunya mengenai kepemimpinan. Beliau sering mengkaji suatu masalah –apakah itu konflik Aceh atau anti korupsi – dari sisi ilmu kepemimpinan.
Ketiga, penulis mempunyai kesempatan yang unik untuk mengamati dari dalamdan luar. Setiap pemimpin mempunyai sisi dalam dan luar. Diluar ia bisa tampak tenang, walau di dalam ia konflik batin. Diluar ia bicara kemenangan, dalam hati berfikir risiko.. Sisi penampilan luar SBY sudah banyak disorot media. Yang belum banyak diketahui adalah apa yang terjadi di belakang layar, dan di dalam kantor presiden. Disinilah penulis mendapat berkah ‘the best seat in the class of history’ dapat menyaksikan presiden SBY dari samping dan belakang beliau, membaca raut muka, melihat tetesan keringat, mengikuti lika-liku proses pemikirannya, dan memahami risiko yang diambilnya.
Penulis berharap buku ini dapat membantu menumbuhkan naluri kepemimpinan di kalangan generasi muda, dan juga dapat membantu meyakinkan masyarakat mengenai pentingnya factor kepemimpinan dalam pertumbuhan demokrasi Indonesia . (red)
Rabu, 08 April 2009
Sahabat,,,

Sahabat,,,
satu kata yang begitu mendalam
sahabat,,,
teman-teman seperjuangan
sahabat,,,
masih ingatkah?!
makan bersama, mandi ngantri bersama,
belajar besama, shalat bersama,,
semuanya, dua puluh empat jam kita
lalui bersama,
ga kerasa ya?
ternyata udah 6 tahun bareng-bareng
menghadapi masalah, menghadapi tantangan,
bahkan nangis bareng!
jangan lupa,,
kalau nanti udah ga bersama lagi
menjalani takdir masing-masing
kenangan yang pernah kita lalui
satu pesan dariku,,
jangan pernah gengsi dengan
titel "santri"
jangan pernah lupa
sama shalat yang 5 waktu
dan jadikan jilbabmu sebagai identitas
Langganan:
Postingan (Atom)