Selasa, 10 November 2009

ILMU PENDIDIKAN DALAM PERSPEKTIF ISLAM

A. Pendahuluan

Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam, Menurut Langgulung pendidikan Islam tercakup dalam delapan pengertian, yaitu At-Tarbiyyah Ad-Din (Pendidikan keagamaan), At-Ta’lim fil Islamy (pengajaran keislaman), Tarbiyyah Al-Muslimin (Pendidikan orang-orang islam), At-tarbiyyah fil Islam (Pendidikan dalam islam), At-Tarbiyyah ‘inda Muslimin (pendidikan dikalangan Orang-orang Islam), dan At-Tarbiyyah Al-Islamiyyah (Pendidikan Islami).

Arti pendidikan Islam itu sendiri adalah pendidikan yang berdasarkan Islam. Isi ilmu adalah teori. Isi ilmu bumi adalah teori tentang bumi. Maka isi Ilmu pendidikan adalah teori-teori tentang pendidikan, Ilmu pendidikan Islam secara lengkap isi suatu ilmu bukanlah hanya teori.

Hakikat manusia menurut Islam adalah makhluk (ciptaan) Tuhan, hakikat wujudnya bahwa manusia adalah mahkluk yang perkembangannya dipengaruhi oleh pembawaan dan lingkungan.

Manusia sempurna menurut Islam adalah jasmani yang sehat serta kuat dan Berketerampilan, cerdas serta pandai.

Tujuan umum pendidikan Islam ialah terwujudnya manusia sebagai hamba Allah. Jadi menurut Islam, pendidikan haruslah menjadikan seluruh manusia yang menghambakan kepada Allah. Yang dimaksud menghambakan diri ialah beribadah kepada Allah.

B. Pendidikan Dalam Perspektif Islam

Pengertian pendidik adalah orang dewasa yang bertanggung jawab memberi bimbingan atau bantuan kepada anak didik dalam perkembangan jasmani dan rohaninya agar mencapai kedewasaan. Pendidik Islam ialah Individu yang melaksanakan tindakan mendidik secara Islami dalam situasi pendidikan islam untuk mencapai tujuan yang diharapkan.

Menurut Langgulung (1997), pendidikan Islam tercakup dalam delapan pengertian, yaitu At-Tarbiyyah Ad-Din (Pendidikan keagamaan), At-Ta’lim fil Islamy (pengajaran keislaman), Tarbiyyah Al-Muslimin (Pendidikan orang-orang islam), At-tarbiyyah fil Islam (Pendidikan dalam islam), At-Tarbiyyah ‘inda Muslimin (pendidikan dikalangan Orang-orang Islam), dan At-Tarbiyyah Al-Islamiyyah (Pendidikan Islami).

Pendidik Islam ialah Individu yang melaksanakan tindakan mendidik secara Islami dalam situasi pendidikan islam untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Para ahli pendidikan lebih menyoroti istilah-istilah dari aspek perbedaan antara tarbiyyah dan ta’lim, atau antara pendidikan dan pengajaran. Dan dikalangan penulis Indonesia, istilah pendidikan biasanya lebih diarahkan pada pembinaan watak, moral, sikap atau kepribadian, atau lebih mengarah kepada afektif, sementara pengajaran lebih diarahkan pada penguasaan ilmu pengetahuan atau menonjolkan dimensi kognitif dan psikomotor.

Pengertian pendidikan bahkan lebih diperluas cakupannya sebagai aktivitas dan fenomena. Pendidikan sebagai aktivitas berarti upaya yang secara sadar dirancang untuk membantu seseorang atau sekelompok orang dalam mengembangkan pandangan hidup, sikap hidup, dan keterampilan hidup, baik yang bersifat manual (petunjuk praktis) maupun mental, dan sosial sedangkan pendidikan sebagai fenomena adalah peristiwa perjumpaan antara dua orang atau lebih yang dampaknya ialah berkembangnya suatu pandangan hidup, sikap hidup, atau keterampilan hidup pada salah satu atau beberapa pihak, yang kedua pengertian ini harus bernafaskan atau dijiwai oleh ajaran dan nilai-nilai Islam yang bersumber dari al Qur’an dan Sunnah (Hadist). Menurut Prof. Dr. Mohammad Athiyah al Abrasyi pendidik itu ada tiga macam :

1. Pendidikan Kuttab

Pendidikan ini ialah yang mengajarkan al Qu’ran kepada anak-anak dikuttab. Sebagian diantara mereka hanya berpengetahuan sekedar pandai membaca, menulis dan menghafal al Qur’an semata.

2. Pendidikan Umum

Ialah pendidikan pada umumnya, yang mengajarkan dilembaga-lembaga pendidikan dan mengelola atau melaksanakan pendidikan Islam secara formal sperti madrasah-madrasah, pondok pesantren ataupun informal seperti didalam keluarga.

3. Pendidikan Khusus

Adalah pendidikan secara privat yang diberikan secara khusus kepada satu orang atau lebih dari seorang anak pembesar kerajaan (pejabat) dan lainnya.

C. Defenisi Ilmu Pendidikan Islam

Ilmu Pendidikan Islam adalah ilmu pendidikan yang berdasarkan Islam. Isi ilmu adalah teori. Isi ilmu bumi adalah teori tentang bumi. Maka isi Ilmu pendidikan adalah teori-teori tentang pendidikan, Ilmu pendidikan Islam secara lengkap isi suatu ilmu bukanlah hanya teori, tetapi isi lain juga ada ialah :

1. Teori.

2. Penjelasan tentang teori itu.

3. Data yang mendukung tentang penjelasan itu.

Islam adalah nama Agama yang dibawa oleh nabi Muhammad saw, yang berisi seperangkat ajaran tentang kehidupan manusia ; ajaran itu dirumuskan berdasarkan dan bersumber pada al Qur’an dan hadist serta aqal. Penggunaan dasarnya haruslah berurutan :al Qur’an lebih dahulu ; bila tidak ada atau tidak jelas dalam al Qur’an maka harus dicari dalam hadist ; bila tidak ada atau tidak jelas didalam hadist, barulah digunakan aqal (pemikiran), tetapi temuan aqal tidak boleh bertentangan dengan jiwa al Qur’an dan hadist.

D. Tujuan Umum Pendidikan Manusia

1. Hakikat manusia menurut Islam

Manusia adalah makhluk (ciptaan) Tuhan, hakikat wujudnya bahwa manusia adalah mahkluk yang perkembangannya dipengaruhi oleh pembawaan dan lingkungan.

Dalam teori pendidikan lama, yang dikembangkan didunia barat, dikatakan bahwa perkembangannya seseorang hanya dipengaruhi oleh pembawaan (nativisme) sebagai lawannya berkembang pula teori yang mengajarkan bahwa perkembangan seseorang hanya ditentukan oleh lingkungannya (empirisme), sebagai sintesisnya dikembangkan teori ketiga yang mengatakan bahwa perkembangan seseorang ditentukan oleh pembawaan dan lingkungannya (konvergensi)

Manusia adalah makhluk utuh yang terdiri atas jasmani, akal, dan rohani sebagai potensi pokok, manusia yang mempunyai aspek jasmani, disebutkan dalam surah al Qashash ayat : 77 :

“Carilah kehidupan akhirat dengan apa yang dikaruniakan Allah kepadamu tidak boleh melupakan urusan dunia “

2. Manusia Dalam Pandangan Islam

Manusia dalam pandangan Islam mempunyai aspek jasmani yang tidak dapat dipisahkan dari aspek rohani tatkala manusia masih hidup didunia.

Manusia mempunyai aspek akal. Kata yang digunakan al Qur’an untuk menunjukkan kepada akal tidak hanya satu macam. Harun Nasution menerangkan ada tujuh kata yang digunakan :

1. Kata Nazara, dalam surat al Ghasiyyah ayat 17 :

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan”

2. Kata Tadabbara, dalam surat Muhammad ayat 24 :

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan al Qur’an ataukah hati mereka terkunci?”

3. Kata Tafakkara, dalam surat an Nahl ayat 68 :

“Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah : “buatlah sarang-sarang dibukit-bukit, dipohon-pohon kayu, dan ditempattempat yang dibikin manusia”.

4. Kata Faqiha, dalam surat at Taubah 122 :

“Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mu’min itu pergi semuanya (kemedan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya”

5. Kata Tadzakkara, dalam surat an Nahl ayat 17 :

“Maka apakah (Allah) yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan apa-apa? Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran”.

6. Kata Fahima, dalam surat al Anbiya ayat 78 :

“Dan ingatlah kisah daud dan Sulaiman, diwaktu keduanya memberikan keputusan mengenai tanaman, karena tanaman itu dirusak oleh kambing-kambing kepunyaan kaumnya. Dan adalah kami menyaksikan keputusan yang diberikan oleh mereka itu”.

7. Kata ‘Aqala, dalam surat al Anfaal ayat 22 :

“Sesungguhnya binatang(makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah orang-orang yang pekak dan tuli[1] yang tidak mengerti apa-apa-pun.

Manusia mempunyai aspek rohani seperti yang dijelaskan dalam surat al Hijr ayat 29 :

“Maka Aku telah menyempurnakan kejadiannya dan meniupkan kedalamnya roh-Ku, maka sujudlah kalian kepada-Nya”.

3. Manusia Sempurna Menurut Islam

A. Jasmani Yang sehat Serta Kuat dan Berketerampilan

Islam menghendaki agar orang Islam itu sehat mentalnya karena inti ajaran Islam (iman). Kesehatan mental berkaitan erat dengan kesehatan jasmani, karena kesehatan jasmani itu sering berkaitan dengan pembelaan Islam.

Jasmani yang sehat serta kuat berkaitan dengan ciri lain yang dikehendaki ada pada Muslim yang sempurna, yaitu menguasai salah satu ketrampilan yang diperlukan dalam mencari rezeki untuk kehidupan.

Para pendidik Muslim sejak zaman permulaan - perkembangan Islam telah mengetahui betapa pentingnya pendidikan keterampilan berupa pengetahuan praktis dan latihan kejuruan. Mereka menganggapnya fardhu kifayah, sebagaimana diterangkan dalam surat Hud ayat 37 :

“Dan buatlah bahtera itu dibawah pengawasan dan petunjuk wahyu kami, dan jangan kau bicarakan dengan aku tentang orang-orang yang zalim itu karena meeka itu akan ditenggelamkan”.

B. Cerdas Serta Pandai

Islam menginginkan pemeluknya cerdas serta pandai yang ditandai oleh adanya kemampuan dalam menyelesaikan masalah dengan cepat dan tepat, sedangkan pandai di tandai oleh banyak memiliki pengetahuan dan informasi. Kecerdasan dan kepandaian itu dapat dilihat melalui indikator-indikator sebagai berikut :

a) Memiliki sains yang banyak dan berkualitas tinggi.

b) Mampu memahami dan menghasilkan filsafat.

c) Rohani yang berkualitas tinggi.

Kekuatan rohani (tegasnya kalbu) lebih jauh daripada kekuatan akal. Karena kekuatan jasmani terbatas pada objek-objek berwujud materi yang dapat ditangkap oleh indera.

Islam sangat mengistemewakan aspek kalbu. Kalbu dapat menembus alam ghaib, bahkan menembus Tuhan. Kalbu inilah yang merupakan potensi manusia yang mampu beriman secara sungguh-sungguh. Bahkan iman itu, menurut al Qur’an tempatnya didalam kalbu.

4. Tujuan Pendidikan Islam

Menurut Abdul Fatah Jalal, tujuan umum pendidikan Islam ialah terwujudnya manusia sebagai hamba Allah. Jadi menurut Islam, pendidikan haruslah menjadikan seluruh manusia yang menghambakan kepada Allah. Yang dimaksud menghambakan diri ialah beribadah kepada Allah.

Islam menghendaki agar manusia dididik supaya ia mampu merealisasikan tujuan hidupnya sebagaimana yang telah digariskan oleh Allah. Tujuan hidup menusia itu menurut Allah ialah beribadah kepada Allah. Seperti dalam surat a Dzariyat ayat 56 :

“ Dan Aku menciptakan Jin dan Manusia kecuali supaya mereka beribadah kepada-Ku”.

Jalal menyatakan bahwa sebagian orang mengira ibadah itu terbatas pada menunaikan shalat, shaum pada bulan Ramadhan, mengeluarkan zakat, ibadah Haji, serta mengucapkan syahadat. Tetapi sebenarnya ibadah itu mencakup semua amal, pikiran, dan perasaan yang dihadapkan (atau disandarkan) kepada Allah. Aspek ibadah merupakan kewajiban orang islam untuk mempelajarinya agar ia dapat mengamalkannya dengan cara yang benar.

Ibadah ialah jalan hidup yang mencakup seluruh aspek kehidupan serta segala yang dilakukan manusia berupa perkataan, perbuatan, perasaan, pemikiran yang disangkutkan dengan Allah.

Menurut al Syaibani, tujuan pendidikan Islam adalah :

1. Tujuan yang berkaitan dengan individu, mencakup perubahan yang berupa pengetahuan, tingkah laku masyarakat, tingkah laku jasmani dan rohani dan kemampuan-kemampuan yang harus dimiliki untuk hidup di dunia dan di akhirat.

2. Tujuan yang berkaitan dengan masyarakat, mencakup tingkah laku masyarakat, tingkah laku individu dalam masyarakat, perubahan kehidupan masyarakat, memperkaya pengalaman masyarakat.

3. Tujuan profesional yang berkaitan dengan pendidikan dan pengajaran sebagai ilmu, sebagai seni, sebagai profesi, dan sebagai kegiatan masyarakat.

Menurut al abrasyi, merinci tujuan akhir pendidikan islam menjadi

1. Pembinaan akhlak.

2. menyiapkan anak didik untuk hidup dudunia dan akhirat.

3. Penguasaan ilmu.

4. Keterampilan bekerja dalam masyrakat.

Menurut Asma hasan Fahmi, tujuan akhir pendidikan islam dapat diperinci menjadi :

1. Tujuan keagamaan.

2. Tujuan pengembangan akal dan akhlak.

3. Tujuan pengajaran kebudayaan.

4. Tujuan pembicaraan kepribadian.

Menurut Munir Mursi, tujuan pendidikan islam menjadi :

1. Bahagia di dunian dan akhirat.

2. menghambakan diri kepada Allah.

3. Memperkuat ikatan keislaman dan melayani kepentingan masyarakat islam.

4. Akhlak mulia.

E. PENUTUP

Ilmu dalam perspektif Islam bukan hanya mempelajari masalah keagamaan (akhirat) saja, tapi juga pengetahuan umum juga termasuk. Orang Islam dibekali untuk dunia akhirat, sehingga ada keseimbangan. Dan ilmu umum pun termasuk pada cabang (furu’) ilmu agama.

Dan umat Islam sempat merasakan puncak keemasannya, dimana disaat bangsa Eropa mengidap penyakit hitam, umat islam sudah menemukan sabun, di saat jalan-jalan di Eropa kumuh, gelap, tidak teratur, umat islam sudah punya jalan-jalan yang indah, penerangan, bahkan sistem irigasi yang sudah maju.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Tafsir., Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam., PT. Remaja Rosdakarya., Bandung, 2001

Nur Uhbiyati., Ilmu Pendidikan Islam., CV. Pustaka Setia., Bandung, 1998

Rabu, 04 November 2009

suara hati

Kalkulus..
huh!! kenapa aku belum juga mengerti tentangmu?
Kalkulus..
Jika esok kau kan datang,
hari ini aku tak bisa memejamkan mata,
karena khawatir berjumpa denganmu,
Kalkulus..
ketika bertemu denganmu di kelas,
tak ada sedikit pun bayangan tentangmu,
dan itu malah membuatku pusing,
dan mulutku pun mulai menguap
tapi camkan kalkulus!!
suatu hari ku kan bisa taklukkanmu!!

Karakteristik Seorang Fisikawan

Siapakah Fisikawan itu?
Dia adalah seorang seniman, tidak seperti seorang seniman sungguhan yang melukiskan keindahan di atas kanvas, namun ia melukiskan keindahan dengan bahasanya sendiri. Bahsa matematika.

Dia seorang yang romantis. Apabila ia mahir dalam menyampaikan suatu hal yang indah dengan bahasa matematika, tentunya ia lebih handal dalam menyampaikan keindahan dengan bahasa.

Dia juga seorang pahlawan pembela kebenaran. Seperti halnya yang dilakukan oleh Galileo, berani menantang maut untuk membela sebuah kebenaran. Bahwa sistem tata surya ini Heliosentris, bukan Geosentris.

Fisikawan sudah barang tentu adalah seorang matematikawan. Matematika baginya layaknya sebuah sarapan pagi, yang setiap hari bertemu.

Dia juga seorang yang berfilosofis.Karena ia selalu mengamati apa yang terjadi di sekelilingnya.

And the last but not least, fisikawan adalah seorang yg religius. Ketika ia mengamati Alam, dia akan menemukan sebuah keteraturan padaalam ini. Dan keteraturan itu akan menghantarkannya kepada siapa yang menciptakan alam dan seluruh isinya.

Selasa, 03 November 2009

Asa II

"Kak...."
"Alah, ga usah manggil aku kayak gitu,,panggil aja Gi" kata si Ogi sok akrab. Hmmmm...syukur deh sebenarnya aku juga males manggil dia dengan sebutan Kak, bikin muak aja.
"mmm...menurut kamu Gi, nasib seorang manusia itu ditentukan oleh siapa?
oleh kita sendiri atau segala sesuatunya dari proses sampai hasilnya sudah diatur oleh Yang maha Kuasa?"
"Sebuah pertanyaan yang ga simpel jawabannya" si Ogi menanggapi. Kemudian dia meneruskan penjelasannya,
"ada perbedaan pendapat tentang masalah nasib manusia, tepatnya masalah takdir,"
"Trus?" aku makin penasaran dengan jawabannya, bukankah perkataan seseorang itu mewakili dirinya sendiri?!
" Ada faham yang mengatakan kalau nasib kita di dunia maupun di akhirat sudah tertulis dalam lauhul mahfudz, tapi bagi sebagian orang malah menjadikan faham ini sebagai alasan dari kemalasan mereka.
"Contohnya?" jujur saja aku belum begitu mengerti,
"Contohnya suka ada orang yang mengatakan.."Ah mungkin sudah nasibku seperti ini," padahal mungkin saja mereka belum berusaha secara maksimal. Dari perkataan mereka sepertinya mereka pasrah pada tantangan hidup."
"Dan faham yang kedua adalah orang-orang yang mempercayai bahwa takdir Allah adalah segala sesuatu yang telah mereka usahakan,"
"Kalau ga salah ada salah satu petikan ayat Al-Quran yang mengatakan bahwa Allah akan memberikan cobaan pada hambaNya sesuai dengan kemampuannya masing-masing," Bukankah dari ayat tersebut tersirat makna yang mengharuskan manusia untuk berusaha?" Seingatku sih penjelasan tentang takdir dan nasib manusia kurang lebih seperti itu,,
"Oh...aku manggut-manggut
"simpelnya, menurut aku sih nasib itu adalah sesuatu yang telah diusahakan."
"mmm...ternyata ga nyangka ya, orang seperti si Ogi ini punya pengetahuan tentang agama juga,,
makannya aku ga boleh menilai orang dari penampilannya.
"So, aku kuliah disini udah takdir aku juga?" tanyaku pada orang didepanku yang sedang asyik menyeruput es tehnya.
"Tergantung....." jawabnya cuek.
"Tergantung apa?"
"Tergantung pisang di warung....."
"Hahahahaha...."si Ogi tertawa dengan puasnya, aku jengkel dibuatnya.
"Sory, sory just kidding,"
"Aku diam saja, mungkin bibirku manyun 5 cm kali ya?! Ah..nggak..nggak terlalu berlebihan,,bukan manyun tapi cemberut, nah..itu lebih pas.
"Ya...tergantung, apa sebelumnya kamu udah berusaha secara maksimal atau nggak?! Jawabannya hanya kamu yang tau."
"Ia juga ya,
"Tenang aja kali fa, ga usah putus asa gitu,,Sekalipun berada di dalam lumpur, kalau berlian atau emas permata pasti tetap terlihat." si Ogi memberi semangat, niat usil ku muncul.
"Ia ya, aku permatanya kamu lumpurnya!!!" ejekku dengan puas.
"Hahahahaha...." Akhirnya aku bisa tertawa lagi setelah sekian lama awan mendung menggelayuti.

Sore itu menjadi awal kebangkitan semangat hidupku lagi,,ya...ga lepas dari peran si Ogi juga,,tiba-tiba dia hadir dalam hidupku dan memberiku support. Dan kini mentari hidupku bersinar lagi!
Bagaimanapun keadaannya aku ga boleh nyerah, aku harus jadi yang terbaik, terbaik dalam belajar, terbaik dalam memanfaatkan waktu, dan mempersembahkan yang terbaik bagi keluargaku.
Gi, whatever, thanx for your support! Batinku dalam hati.

***
Dengan menaiki si revo yang bannya agak-agak gundul itu, aku sampai di rumah. Ketika waktu makan malam tiba aku keluar kamar.
"Ayah mana Mah?" tanyaku pada Ibuku yang kudapati sendirian saja di dapur, biasanya jam segini Ayah sudah hadir diantara kami.
"Katanya sih ada meeting sama kliennya,"
"Jadi kita ga usah nunggu Ayah pulang," jawab Ibuku enteng.
Dan kamipun menikmati makan malam tanpa Ayah.

***

Di kamar,Jam 09.30
Kucoba etuk menghubungi Ayah, mungkin acara bersama kliennya sudah selesai.
"Assalamualaikum yah..."
"Waalaikum salam nak,,"
"Yah gimana meetingnya? Lancar?" tanyaku sok perhatian.
"La..lancar nak!"
"Sudah dulu yah, klien ayah mau pamit pulang"
"Oh,,ya sudah yah!"
"Hati-hati yah!"
klik sambungan telepon pun ditutup. Aneh, suara Ayah terdengar gugup. Tidak seperti biasa, ah...mudah-mudahan saja tidak terjadi apa-apa, batinku dalam hati.
Aku menepis prasangka burukku, tak pantaslah seorang anak mencurigai Ayahnya sendiri melakukan hal yang tidak-tidak. Anak macam apa aku ini?!

Hoooooaaaaammmnnn!!!
Aku pun merebahkan badanku diatas kasur. Hari ini setidaknya lebih cerah dari hari-hari kelabu yang telah kulalui, Ada mentari yang tiba-tiba muncul menyinari. Memberi kehangatan dalam kebekuan hidupku. Semangat! Semangat! Semangat!
Hemmm..aku senyam-senyum sendiri saat mengingat hari tadi, rambut si Ogi yang mengingatkanku pada si Ono, eh Christian Sugiono,
aku baru sdar ternyata si Ogi ga jelek juga, bahkan lebih dari itu, si Ogi tuh cakep!!

Duuh..apa-apaan sih Alfa!! Aku berusaha menyadarkan diri,
Si Ogi tuh bukan orang sembarangan di kampus, aktivis dengan paras yang rupawan pasti banyak cewek yang kesemsem sama dia,,mikir dong fa! Jangan sampai kamu naruh hati sama dia, nanti malah sakit hati.
***
Pulang dari kampus aku memutuskan untuk mampir dulu ke super market, sepertinya keperluan sehari-hari udah habis. Sebelum naik ke lantai 2, ada yang menarik perhatianku,
aih lucunya kerudung itu!sepertinya aku tambah cantik kalau pake kerudung itu,,,aduh...penyakit narsisku keluar lagi. Sadar karena aku ga bakalan bisa beli kerudung itu dalam waktu dekat, aku memutuskan untuk naik ke lantai 2. Kunaiki eskalator,,ketika aku menoleh ke sebelah kanan, dari sudut mataku aku melihat satu sosok yang sepertinya sangat aku kenal. Sosok itu berlawanan arah denganku, dia hendak turun ke lt 1, kulihat lebih jelas sosok itu, ya! Pria tinggi besar, memakai jas hitam, dan celana hitam, tak salah lagi kalau dia adalah Ayah! Tapi siapa wanita yang ia gandeng? Bukan istrinya,Ibuku. Tapi wanita lain. Kalau wanita itu adalah klien yang seperti semalam Ayah katakan, apakah pantas Ayah merangkul bahu wanita itu?! Pasti hubungan mereka lebih dari sekedar rekan bisnis belaka.
Kakiku terasa lemas, tak kuatlagi berjalan, apalagi mengejar Ayah untuk sekedar minta penjelasan. Penjelasan apa? toh semuanya sudah jelas, bahwa didepan mata kepalaku sendiri Ayah telah mengkhianati Ibu.
Bruuukkkk! Aku terjengkang kebelakang, ketika eskalator sampai di lantai 2. Beberapa orang membantuku berdiri.
"Hati-hati dong Mbak! " seorang ibu perhatian padaku.
"Naik eskalator kok mundur?!"
aku tersenyum kecut mendengar ucapan orang itu. Karena kamu ga tau beban apa yang barusan telah menimpaku! timpalku dalam hati.
***

Kenyataan ini begitu memilukan! Aku sudah tak ingat apa-apa lagi, yang kuinginkan saat itu adalah aku ingin sendiri, di sebuah tempat dan menumpahkan semua keluh kesahku.Untungnya aku masih bisa mengendalikan motorku.
Akhirnya aku sampai di sebuah mesjid,dan aku memutuskan untuk pergi ke wc, tempat yang paling aman untuk menangis. Tak kuat menahan air mata, akhiornya aku menangis di depan wastafel, entah berapa lama aku menghabiskan waktuku disana.
Saat terdengar adzan magrib, tangisku pun mulai reda, dan sedikit terasa ringan. Kubasuh mukaku dengan dinginnya air wudhu, semoga saja masalah-masalahku dapat terurai bersama aliran air wudhu.
Setelah menunaikan shalat maghrib aku memutuskan untuk tilawah beberapa lembar, terkadang diselingi isak tangis, semoga saja hatiku terasa lebih tenang dan juga menunggu waktu isya tiba.
Sebelumnya kukirim sms pada ibuku agar ia tidak khawatir, kusampaikan padanya kalau aku ada uruan kampus yang harus diselesaikan. Setelah shalat isya, dan ajaibnya batinku pun mulai terasa tenang,aku memutuskan untuk pulang. Aku beranjak ke parker area, dan mulai menstater si revo. Anehnya berkali-kali ku stater, si revo tak mau hidup juga. Ku coba menyelahnya, sama saja hasilnya nihil. Duh…revo kenapa sih? Disaat yang tidak tepat kamu malah mogok! Gerutuku dalam hati. Kucek pengukur nensin, ternyata bensinnya masih ada kok! Lalu dimana yang salah?Sayangnya aku byukan seseorang yang ahli dalam permesinan, baru bisa memakainya saja.
Disaat seperti ini, siapa yang harus kumintai bantuan? Ibu? Ah…ga mungkin banget, soalnya Ibu sama butanya seperti aku terhadap urusan permesinan. Ayah? Setelah kulihat dengan mata kepalaku sendiri apa yang ia lakukan, tidak! Teman dekat? Aduh…aku ga begitu dekat dengan teman-teman di kampusku, baru kurasakan kalau akhir-akhir ini aku terlalu introvert. Pilihan terakhir….Ogi?! Kenapa harus Ogi?! Karena dialah orang yang akhir-akhir ni dekat denganku, dan kalau tidak salah dia tinggal di sekitar sini. Malu sih sebenarnya, takut ngerepotin, nanti dia salah sangka kalau aku punya feel sama dia, tapi…mau gimana lagi? Masa harus pulang sambil dorong si revo? Si revo kan lumayan berat tuh! Ga lucu banget tuh!
Akhirnya, setelah menimbang-nimbang beberapa saat, kuberanikan diri tuk menelepon si Ogi .
“Assalamualaikum”
“Waalaikum salam”
“gi sory ganggu,” Aku memulai pembicaraan
“Ya ga papa,” suaranya terdengar berat, apa dia udah tidur ya?!
“Ada apa al?” tanyanya lagi
“Motorku mogok gi, aku gat au di bagian mana yang salah, so bisa minta bantuannya ga?” tanyaku penuh harap.
“Kamu ada di daerah mana Al?” tanyanya kemudian.
Klik, sambungan telepon pun terputus, sial hpku low batt. Duh..masa harus dorong si revo sih? Tapi sebelumnya, aku ga putus asa untuk melakukan usaha terakhir, menyelahnya, dan menstaternya. Tapi hasilnya tetap sama, si revo tak mau hidup. Akhirnya kudorong si revo, kukerahkan semua tenagaku, bismillahirrahmanirrahim…
Setelah sampai di pinggir jalan, dan menyebrang aku pun terus mendorong si revo. Keringat ku mulai bermunculan, duh..kayaknya keadaanku kacau banget ya, mata sembab, bau keringat seharian karena ga sempat mandi, ya Allah help me!!
Ajaibnya, di prempatan jalan doaku terkabul. Seseorang menaiki motor gede menghampiriku, dan ketika dia membuka helmnya, ga salah lagi dia si ogi!! Ya Allah thanks for your help!!
Si ogipun langsung menghampiri motorku, lalu entah bagian mesin yang mana yang dia otak-atik, sepertinya dia memang sudah persiapan membawa berbagai peralatan bengkel. Aku pun hanya mengamati si ogi sambil duduk di trotoar jalan. Beberapa menitpun berlalu, akhirnya si revo bisa hidup kembali.
“Gi makasih banyak ya, sory dah ganggu istirahat kamu!” Kataku.
“sama-sama Al, biasa aja kali ga usah sungkan!” jawabnya enteng.
“Mata kamu kenapa Al?” sifat penasaran si Ogi muncul lagi.
“mmm…itu kena debu,” jawabku mencoba berbohong.
“Kena debu? Bukannya kamu pake helm full face?” elaknya sambil menunjuk helmku yang emang fullface. Bingo! Aku ga bisa bohong.
“Kayak yang udah nangis deh!” sifat sok tahunya mulai lagi.
“Ya udah, kalau sekarang ga mau cerita, ntar kalau kamu udah mood berbagi, tinggal ngomong aja, key!!”
“ia..Gi,,,sekali lagi makasih banget ya, aku ga tau kalau ga da kamu mungkin aku baru nyampe rumah tengah malam!”
“Siip…”
Akhirnya aku bisa pulang juga dengan menaiki si revo. Kayaknya akumemang harus belajar sedikit tentang mesin deh, ya minimal kalau mogok aku ga kebingungan. Tapi belajar sama siapa? Ogi? Duuuh…Ogi lagi..ogi lagi…
Sesampainya di rumah, aku menyimpan si revo di garasi. Kulihat mobil avanza ayah sudah bertengger manis, berarti Ayah sudah datang. Aku memutuskan untuk langsung masuk kamar, namun ketika melewati ruang makan, kulihat Ayah dan Ibu sedang makan malam bersama, aneh…tadinya kukira bakal terjadi perang dunia ke tiga di rumah ini, nyatanya tidak. Berarti aku lah orang pertama yang mengetahui sepak terjang ayah, dasar laki-laki bermuka dua! Berani-beraninya mengkhianati Ibu!
“Al, sini makan bareng sama Ayah sama Ibu!” ajak ibu dengan nada penuh kasih saying. Sayangnya kali ini ajakan ibu berbuah penolakan.
“Kayaknya gadeh bu, tadi alfa udah makan diluar,” jawabku berbohong. Aku tahu sikapku ini salah, tidak sopan dan tidak seharusnya seorang anak bersikap seperti itu. Tapi kalau kasusnya seperti ini, tentu beda lagi urusannya.

Aku melepas kerudungku yang terasa lengket oleh keringat, setelah badanku terasa dingin, aku memutuskan untuk mandi. Setelah selesai aku mengenakan baju favoritku, yaitu baju tidur yang ukurannya kebesaran, karena memang baju ini dibelikan oleh paman yang ada di luar kota. Tapi baju ini malah memberikan kenyamanan bagi si pemakainya.
“Brukkk!” Aku menjatuhkan tubuhku di atas kasur, kubiarkan rambut panjangku yang masih basah tergerai. Kuamati langit-langit kamar, tapi beberapa saat kemudian langit-langit kamar berubah menjadi slide-slide kejadian tadi sore di mall.
“shit!!” kubanting guling yang ada di sampingku, dan guling itu mengenai meja rias, dan berhasil menyenggol gelas cantik berwarna biru.
“Prayy!” gelas kenang-kenangan dari seseorang di masa lalu itu pecah. Aku menyesaliperbuatanbodohku yang satu ini. Kenapa gelas itu yang harus jatuh dan pecah?!”
Tanpa berminat membereskan pecahan gelas itu aku membenamkan kepalaku ke dalam bantal, dan menumpahkan tangisku sejadi-jadinya. Mungkin dengan menangis rasa kesalku bisa sedikit berkurang.
***
Pagi harinya aku terbangun, dan setelah shalat shubuh aku teringat pada ogi, aku ingin bercerita padanya. Tak usah memberikan solusi, mendengarkan saja sudah cukup. Kukirim sms padanya,

Aslmkm, gi pgn crht niy, nanti siang ada wktu ga?

Selang beberapa menit, Ogi Membalas,

Ok, bisa. Jam brp? Dmn?
Aku pun membalas

Di Kedai buku, jam 10, thanx bfore :D

Siip..

Jam 10.00 am, aku sudah tiba di kedai buku. Sepertinya Ogi belum datang, akhirnya aku melihat-lihat koleksi buku yang ada di sana. Ku ambil satu buah novel karya penulis best seller dunia, Dan Brown. Judul buku itu “Angel and Demon.” Sepertinya buku ini bagus tuk di baca. Baru sampai halaman kedua, Ogi sudah ada di depanku. Aku ga sadar sejak kapan ia ada disana.
“Assalamualaikum al,” sapanya sambil duduk dihadapanku.
“Waalaikum slaam gi, jawabku.
Gimana dah baikan?” tanyanya sok perhatian, atau memang perhatiannya tulus.
“Lumayan….” Jawabku tak bersemangat,
Pramusaji pun datang, dan menawarkan menu yang ada hari ini,
“Saya jus alpukatnya mbak!” Ogi memesan.
“Saya capucino satu mbak!” kemudian pramusaji pun berlalu dari hadapan kami.
“Eh, bener kamu ga ada jadwal?” tanyaku memastikan.
“Bener lah al, ngapain aku bohong.” Jawabnya jujur.
“Kan kamu aktifis, biasanya kan sibuk! Aku beraergumen.
“masa sibuk terus, kali-kali refreshing boleh dong?” jawabnya.
Minuman kami pun datang.
“Cerita dong kamu kenapa semalam?” pinta si Ogi sambil menyeruput juus alpukatnya.
“Mmm…bingung mulainya darimana Gi,”
“ya..terserah deh mau mulai dari awal, dari tengah, dari akhir, aku siap dengerin kok!”
Duh,,,nih orang baik banget sih, batinku dalam hati.
“Gini…waktu kemarin aku pergi ke mall, aku liat dengan mata kepalaku sendiri, Ayahku jalan sama wanita lain,”
“Wanita lain?” ekspresi si ogi seperti yang kaget.
“mungkin aja relasinya kali Al?” ogi berusaha tuk berprasangka baik.
“Relasi kok bahunynya di rangkul gitu sih?” sanggahku dengan nada kesal.
tnang dulu al,”
“Kamu yakin orang itu ayah kamu?”
“Yakin 100%!” jawabku sungguh-sungguh,
“Aku ga mungkin salah liat Gi!”
“tu memang Ayah aku!”
“Ibu kamu tahu masalah ini?” Tanya si ogi
“Sepertinya belum,” hipotesisku, “soalnya semalam Ayah sama Ibu Al liat adem ayem aja tuh,"
“Ya udah, menurut aku, sekarang ini kamu cari kebenarannya dulu, jangan sampai ibu kamu tahu masalah ini. Mungkin saja ini kelakuan ayah kamu yang pertama dan terakhir,” paparsi Ogi.
“ya…mudah-mudahan saja,” jawabku pasrah.
“Kamu harus punya bukti, jadi suatu saat kesaksian kamu bisa dipercaya.” Tambahnya lagi.
“Ia juga ya, bukti, dan mungkin aku butuh waktu buat mengungkap kebenaran ini.” Jawabku.
“ya Al, yang sabar ya, mudah-mudahan kamu kuat jalani cobaan ini!” kata si ogi penuh simpati.
“Ya gi, semoga saja.”
“Gi, thanks ya udah mau dengerin aku, padahal aku tahu kamu pasti sibuk.
“Sama-sama Al, biasa aja kali, aku juga kan manusia biasa. Terkadang jadi pendengar, terkadang butuh di dengar.”
Si ogi pun yang kesekian kalinya menyeruputjus alpukatnya, aku pun jadi ingat capucinoku yang sedari tadi belum kusentuh sedikitpun.
“bay the way, kok bisa ya aku jadi deket sama kamu gi?”
“Mang kenapa sih Al, ga boleh ya aku temenan sama kamu?”Ogi balik nanya.
“bukannya ga boleh, tapi aku ngerasa aneh aja gitu,kmu kan orang yang yah,,bisa dibilang popular di kampus, secara kamu kan ketua Senat Mahasiswa Fakultas (SMF), temenan sama aku yang cenderung ga mau dikenal.” Paparku panjang lebar.
“Ya bisa dong Al, di dunia ini apa sih yang ga mungkin?”
“tentunya dengan seijin Allah,”
“Sekarang aku Tanya sama kamu, apa ada aturan yang melarang aku temenan sama kamu, atau yang lain?”
Tanpa memberiku kesempatan tuk menjawab, dia sudah nyerobot duluan,
“Ga ada kan?””Silaturahmi tuh ya sama siapa ja, asalkan tidak merugikan.”
“bener ga?”
“Ya..ya..ya..kamu bener kok gi!” jawabku sambil menyunggingkan senyum.
Kemudian terdengar suara hpsi Ogi memekik,
“Sory Al, terima tlp dlu ya,”
“Monggo-monggo,,nyantai aja gi!” jawabku enteng.
Kemudian setelah selesai mengangkat teleponnya, dia duduk kembali. Namun aku bisa menangkap gerak-geriknya yang terlihat buru-buru.Aku pun memutuskan untuk mengakhiri pertemuan ini (cieeee…bahasanya pertemuan, masa kencan?)
“Da apa gi, rapat ya?”Aku asal nebak aja, yang pasti ada acara mendadak semacam itu.
“Ya…gitu deh”
“Sory ya Al, ga papa nih?” tanyanya memastikan.
“ya udah aku pulang aja ya, makasih banget ya gi, buat hari ni!”
“sama-sama Al”
“Oh, tunggu bentar!”cegah si Ogi. Kemudian dia beranjak ke rak yang berisi deretan buku-buku. Sepertinya sedang mencari sebuah buku. Setelah ia menemukan apa yang ia cari, kemudian menuju meja peminjaman. Beberapa detik ia sudah ada di depanku.
“Nih bukunya bagus buat kamu!”
“Apa nih? “Jangan Jadi Wanita Cengeng?”aku membaca judul buku itu.
“Memangnya aku cengeng ya?” tanyaku retoris.
“Udah, baca aja dulu bukunya, nanti kamu tahu sendiri.”
“Oke deh!” aku pun yang kesekian kalinya menyunggingkan senyum.
Kami pun beranjak ke meja kasir. Sayangnya aku kalah cepat sama si Ogi.
“Dari aku aja Al!” kata si ogi dengan gayanya yang sok cool.
“Ah kamu, bikin enak aja!” candaku.
“boleh, tapi ada syaratnya!”
“Apa tuh?”
“lain kali aku yang traktir ya!” pintaku.
“Siiiip…deh!”
Akhirnya kami pulang dengan menaiki motor masing-masing, aku menaiki si revo, dan Ogi menaiki motor gedenya.
***
Sesampainya di rumah aku langsung masuk kamar, berbaring tak karuan, tak ada kerjaan. Selain memang tak ada tugas kuliah, aku juga bingung harus ngapain. Setelah sekian lama menghabiskan waktuku dengan percuma, barulah muncul ide. Kuambil lap top ku yang ada di meja belajar. Kusambungkan kabel telepon dan adaptor. Kemudian kunyalakan, dan langsung log in di Yahoo Massenger, sekaligus log in di Facebook.
Kemudian di layer tampil nama-nama temanku, tapi semuanya padam, pertanda memang sedang offline, yang menyala hanya Kak Miftah, mmm…sedang apa ya dia? Musim apa nih di mesir?
Beberapa saat kemudian muncul tulisan:
Miftah_22: Assalamualaikum..
Alfa_emc2: Waalaikum salam, pa kbr niy?
Miftah_22: Alhmd baik, kbr dik n klrga gmn?
(Sebenarnya kabar keluargaku sedang tidak baik, tapi masa harus jujur sih?)
Alfa_emc2: baik jga kak, gmn d mesir? Lg musim apa?
Miftah_22: lagi musim dingin nih,,-8 drjt C
Alfa_emc2: Wah..dgin bgt tuh!!
Miftah_22: Ia nih, udah pake baju 4 lapis, pake jaket, pake surban, tapi tetep aja dingin!
Alfa_emc2: hahahaha..banyak banget tuh! Yang sabar aja ya!
Miftah_22: yam au gmn lg,
Alfa_emc2: ga kuliah kak?jam brp dsna?
Miftah_22: sabtu minggu libur dik, skrg jam 06.50. Skrg lg dmn?
Alfa_emc2: g d rmh, knp gtu?
Miftah_22:gmn kbr khnsa?
Duh…mulai deh ngomongin Khansa.
Alfa_emc2:duh al ga tau kak, sory. Soalnya lost contact.
Miftah_22:ow..ya udh ga papa
Alfa_emc2: Kak, al pamit dlu ya, assalamualaikum
Miftah_22: Wassalam, mangga wilujeng.

Aku memutuskan untuk tidak lama-lama chatting sama kak Miftah, soalnya nanti ujung-ujungnya pembicaraan akan berakhir pada sebuah nama yaitu khansa, dan itu yang membuatku bosan. Mengingatkanku pada masa lalu saja.
Untungnya kak miftah sudah memblokir Fb nya sendiri, karena menurutnya, keuntungan / royalty dari Fb sekian persen akan disumbangkan untuk membiayai perang yang dilakukan Israel terhadap Palestina. Di TV memang tidak diberitakan bahwa Israel masih saja menyerang rakyat palestina, namun kenyataan di lapangan memang begitu.
Walaupun kak miftah memblokir fb nya, aku masih tetap dengan pendirianku untuk tidak memblokirnya. Bukannya aku mendukung agresi yang dilakukan Israel, namun karena belum adanya jejaring social serupa fb, yang diciptakan oleh umat muslim sendiri. Bahkan orang Indonesia, padahal kalau ada mungkin royaltinya akan disumbangkan untuk fakir miskin Indonesia. So far, selama aku menggunakannya dalam hal kebaikan, why not? Aku bisa bersilaturahmi (walau dlm dunia maya) dengan teman-teman SMP, teman-teman SMA, teman waktu di pondok dulu, dan masih banyak lagi teman-teman baru dari pelosok tanah air.
Nah sekarang aku bebas online di f b, karena kak Miftah memang tidak mengetahuinya.
Pertamakali, aku tulis apa yang aku fikirkan:
“Terkadang kenyataan hidup ini terasa begitu menyakitkan, tapi semoga saja ada hikmah dibalik semua ini. Yang kulakukan bukanlah mencela kegelapan, namun yang harus kulakukan adalah menyalakan lilin.”
Kemudian aku membagikan fikiranku. Selang lima menit, ada yang mengomentari, ternyata si Ogi.
Gi : Yup, bener bgt!!
Btw, dah mli dibca lim bkunya?
Alfa :hehehe…
Lom gi, tpi yg pasti mau dbca kok,
Gi : Ia donk! Hrs!!rekomendasi gi psti bagus,,:D
Alfa :ya…
Penykit narsisnya mli keluar tuh!!
Gi : ho..hoo…Al, tau ga?!
Ternyata fb itu diharamkan mnrut para ulama!
Alfa : kok bisa?
Gi : soalnya sekarang udh masuk waktu shalat dhuhur,
Shalat yuk!!
Kulirik jam di tanganku ternyata memang sudah memasuki waktu dzuhur. Kuberanjak dari kasur, dan mengambil air wudhu. Kucoba untuk lebih khusu dlm shalat dan setelah itu, aku bertilawah beberapa ayat. Selesai melipat mukena, aku mulai online lagi.

Gi : udah shalatnya?
Alfa : udah dong,,benr ya..klo dah shalat rasanya beda,,,gitu, sejuk,
Pokoke …damai nian hati ini,
Gi : Nah itu slh satu fadhilah shalat,
Alfa : udh rapatnya?
Gi : udh, alhmd
Alfa : Rapat apaan sih?
Gi : rapat pmbentukan panitia bwat penerimaan mhsswa baru, n orientasipsrta akademik,
Alfa :ow…
Gi, udh dlu ya, al mau baca dlu bkunya,,
Thanx 4 2 day!
Gi : Sama-sama, met baca!:D
Alfa : Assalamualaikum..
Gi : waalaikum salam
Aku pun langsung log out, kemudian menyalakan lagu-lagu dari lap top. Kemudian mulai membaca buku yang berjudul “jangan jadi wanita cengeng.”
-bersambung-

Mati Enggan, Hidup pun Tak Mau

(sebuah kritik sosial untuk masyarakat Ar-Risalah, semoga dari waktu ke waktu bisa menjadi lebih baik)



Jajirah ( Jajaran Jurnalis Remaja Ar-Risalah), "mati enggan hidup pun tak mau", mungkin itulah ungkapan yang pas untuk keadaan jajirah saat ini. Dikatakan hidup, tidak tepat, karena jika dikatakan hidup tentunya haruslah mempunyai ciri-ciri hidup. Seperti halnya makhluk hidup, salah satu ciri dia hidup adalah berkembang biak, atau mungkin tepatnya produktif ( dalam arti melahirkan sebuah karya atau konsisten dalam menjalankan program kerjanya). Jajirah juga tidak bisa dikatakan mati, karena tentunya masih ada sekumpulan orang yang mempunyai visi dan misi yang sama.
Lalu bagaimanakah keadaan Jajirah yang sebenarya?
Menurut penulis, vakumnya jajirah karena beberapa hal:
Yang pertama Jajirah bukanlah sebuah lembaga yang profesional, maksud penulis disini, dikatakan tidak profesional dikarenakan oleh dua hal:
1. Karena pengurus Jajirah tidak mempunyai waktu khusus untuk menjalankan tugas mereka. Sekalipun ada waktu, itu hanya sisa dari waktu belajar dan mengaji.
2. Kepengurusan Jajirah yang mau tidak mau sifatnya kaderisasi. Rata-rata setiap angkatan mempunyai waktu satu tahun dalam menjalankan tugasnya. Belum lagi dikurangi masa-masa adaptasi dan penjalinan kerjasama antar pengurus.
3. Kepengurusan Jajirah tidaklah seperti lembaga lainnya, yang mendapatkan budget khusus untuk keberlangsungan hidupnya.Terlalu jauh membayangkan Jajirah sebagai suatu lembaga untuk meraup materi/keuntungan. Jangankan mendapat materi, seringkali pengurus itu sendiri yang harus menutup kekurangan. (semoga menjadi amal baik bagi kita semua).

Alasan yang kedua yaitu, kurangnya minat membaca masyarakat ar-risalah itu sendiri. Menurut pengamatan penulis selma 6 tahun, jangankan budaya membaca, rasa hormat terhadap buku (maksudnya terhadap ilmu) tidak begitu diindahkan. Padahal kalau kita selami secara mendalam, adanya suatu majalah sekolah, atau media massa lainnya sangat besar manfaatnya sebagai penunjang pendidikan.
Tak sedikit dalam pelajaran bahasa Indonesia kita mendapatkan tugas untuk membuat makalah, apalagi bagi yang sudah kuliah tentunya harus membuat skripsi. Tentunya tanpa pembiasaan menulis dan membaca sejak dini, semuanya tak kan terlaksana secara maksimal.
Tentunya peran pendidik sangan penting dalam hal ini. Sebagaimana tercantum dalam kitab Tarbiyatul Islamiyah (Yusuf Al-Qardhawi) dikatakan bahwa Al-Muallim (guru) adalah tulang punggung pendidikan, baik buruknya produk pendidikan (peserta didik) dipengaruhi oleh Al-Muallim tersebut.

Korelasi Antara Motivasi Belajar Santri dan Keproduktifan Mereka dalam Menjalankan Aktivitas Sehari-hari

Pondok pesantren merupakan sebuah lembaga pendidikan Islam nonformal di Indonesia. Begitu banyak pondok pesantren yang tersebar di seluruh pelosok nusantara. Keberadaan dan sepak terjang pondok pesantren tidak dapat dipandang sebelah mata. Pesantren telah aktif sejak penyebarannya pada zaman penjajahan Belanda yang didirikan oleh para Wali Songo. Penyelenggaraannya pun sangat baik untuk membentuk manusia yang mempunyai kepribadian (saleh pribadi dan sosial).
Sebagaimana dikatakan sebelumnya bahwa pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam, maka tujuannya pun untuk mewujudkan dan mengembangkan kepribadian muslim, yakni kepribadian yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, bermanfaat kepada masyarakat, berkhidmat kepada masyarakat dan kiai dengan jalan menjadi kawula (mengikuti sunah Nabi), mampu berdiri sendiri, bebas dan teguh dalam kejayaan Islam di tengah masyarakat, mencintai ilmu dan mengembangkan kepribadian Indonesia (Mastuhu, 1994 : 55).
Ahmad Tafsir (1992 :201) mengelaborasi tujuan pendidikan pesantren Mastuhu sebagai berikut :
1. Memiliki kebijaksanaan menurut Ajaran Islam. Anak didik dibantu agar mampu memahami makna hidup, keberadaan, peranan, serta tanggung jawabnya dalam kehidupan bermasyarakat.
2. Memiliki kebebasan yang terpimpin. Setiap manusia memiliki kebebasan, tetapi kebebasan itu harus dibatasi karena kebebasan memiliki potensi anarkisme. Keterbatasan mengandung kecenderungan mematikan kreativitas, karena itu pembatasan harus dilakukan. Inilah yang dimaksud dengan kebebasan terpimpin. Kebebasan yang terpimpin merupakan watak ajaan Islam.
3. Berkemampuan mengatur diri sendiri. Di pesantren, santri mengatur sendiri kehidupannya menuruti batasan yang diajarkan agama. Masing-masing pesantren mengatur dirinya sendiri.
4. Memiliki rasa kebersamaan yang tinggi. Dalam pesantren berlaku prinsip dalam hal kewajiban individu harus menunaikan kewajiaban lebih dahulu, sedangkan dalam hak individu harus mendahulungan kepentingan umum sebelum kepentingan sendiri. Kolektivisme ditanamkan antara lain melalui pembuatan tata tertib. Kolektivisme ini dipermudah pembentukannya dengan kesamaan dn keterbatasan fasilitas kehidupan.
5. Menghormati orang tua dan guru. Tujuan ini dicapai antara lain melalui penegakan berbagai pranata di pesantren, seperti cium tangan guru, dan tindak membantah guru. Demikian juga terhadap orang tua.
6. Cinta kepada ilmu. Menurut al-Qur’an ilmu datang dari Allah. Karena itu orang-orang pesantren cenderung memandang ilmu sebagai sesuatu yang suci dan tinggi.
7. Mandiri. Sejak awal santri telah dilatih untuk mandiri. Mereka dibiasakan memasak sendiri, membersihkan kamar dan lingkungannya sendiri dan lain sebagainya. Metode sorogan yang individual juga memberikan pendidikan kemandirian.
8. Kesederhanaan. Sikap sederhana dimaksud adalah sikap memandang sesuatu terutama materi secara wajar, proporsional, dan fungsional. Sebenarnya banyak santri yang berasal dari keluarga kaya, tetapi mereka dilatih hidup sederhana.
Namun, ketika penulis merasakan langsung dunia pendidikan pesantren, penulis menemukan sebuah realita yang kurang sesuai dengan tujuan pendidikan pesantren. Tidak sedikit dari santri yang tinggal di pesantren, hanya sekedar menumpang tidur, makan, dan mandi. Tanpa semangat dan motivasi untuk menjalankan kegiatan belajar dan mengaji, aktif dalam organisasi, dan berbagai kegiatan lainnya.
Kurangnya semangat dan motivasi mereka, mungkin disebabkan oleh adanya rasa keterpaksaan dalam menjalankan rutinitas sehari-hari. Apalagi bagi mereka yang tidak terbiasa melakukan banyak hal secara mandiri, semua ini terasa berat untuk dijalani.
Kurangnya semangat dan motivasi santri, bisa mengakibatkan kurang produktifnya santri dalam melakukan aktivitas sehari-hari, sehingga akan mempengaruhi keahlian yang dimilki ketika santri tersebut lulus dari pondok pesantren. Tentunya, sangat disayangkan jika waktu terbuang sia-sia (kurang produktif), hanya karena kurangnya semangat dan motivasi.
Untuk itu, penulis merasa perlu untuk mengangkat masalah ini. Semangat dan motivasi santri harus tetap berkobar, karena mengingat betapa berharganya waktu yang tidak kan pernah kembali dan ketika santri tersebut lulus dari pondok pesantren, dia mempunyai keahlian, cerdas, dan mempunyai keimanan yang kuat ketika terjun langsung di masyarakat.

Senin, 02 November 2009

sepenggal harapan

ku bersandar pada kursi
namun kursi itu diambil orang
kubersandar pada dinding
suatu saat dinding itu kan roboh

huh!berharap pada manusia
hanya berakhir kecewa
mungkin hanya berharap padaNya
dan mencintaNya lah yang
berakhir bahagia