Siapakah Fisikawan itu?
Dia adalah seorang seniman, tidak seperti seorang seniman sungguhan yang melukiskan keindahan di atas kanvas, namun ia melukiskan keindahan dengan bahasanya sendiri. Bahsa matematika.
Dia seorang yang romantis. Apabila ia mahir dalam menyampaikan suatu hal yang indah dengan bahasa matematika, tentunya ia lebih handal dalam menyampaikan keindahan dengan bahasa.
Dia juga seorang pahlawan pembela kebenaran. Seperti halnya yang dilakukan oleh Galileo, berani menantang maut untuk membela sebuah kebenaran. Bahwa sistem tata surya ini Heliosentris, bukan Geosentris.
Fisikawan sudah barang tentu adalah seorang matematikawan. Matematika baginya layaknya sebuah sarapan pagi, yang setiap hari bertemu.
Dia juga seorang yang berfilosofis.Karena ia selalu mengamati apa yang terjadi di sekelilingnya.
And the last but not least, fisikawan adalah seorang yg religius. Ketika ia mengamati Alam, dia akan menemukan sebuah keteraturan padaalam ini. Dan keteraturan itu akan menghantarkannya kepada siapa yang menciptakan alam dan seluruh isinya.
Rabu, 04 November 2009
Selasa, 03 November 2009
Asa II
"Kak...."
"Alah, ga usah manggil aku kayak gitu,,panggil aja Gi" kata si Ogi sok akrab. Hmmmm...syukur deh sebenarnya aku juga males manggil dia dengan sebutan Kak, bikin muak aja.
"mmm...menurut kamu Gi, nasib seorang manusia itu ditentukan oleh siapa?
oleh kita sendiri atau segala sesuatunya dari proses sampai hasilnya sudah diatur oleh Yang maha Kuasa?"
"Sebuah pertanyaan yang ga simpel jawabannya" si Ogi menanggapi. Kemudian dia meneruskan penjelasannya,
"ada perbedaan pendapat tentang masalah nasib manusia, tepatnya masalah takdir,"
"Trus?" aku makin penasaran dengan jawabannya, bukankah perkataan seseorang itu mewakili dirinya sendiri?!
" Ada faham yang mengatakan kalau nasib kita di dunia maupun di akhirat sudah tertulis dalam lauhul mahfudz, tapi bagi sebagian orang malah menjadikan faham ini sebagai alasan dari kemalasan mereka.
"Contohnya?" jujur saja aku belum begitu mengerti,
"Contohnya suka ada orang yang mengatakan.."Ah mungkin sudah nasibku seperti ini," padahal mungkin saja mereka belum berusaha secara maksimal. Dari perkataan mereka sepertinya mereka pasrah pada tantangan hidup."
"Dan faham yang kedua adalah orang-orang yang mempercayai bahwa takdir Allah adalah segala sesuatu yang telah mereka usahakan,"
"Kalau ga salah ada salah satu petikan ayat Al-Quran yang mengatakan bahwa Allah akan memberikan cobaan pada hambaNya sesuai dengan kemampuannya masing-masing," Bukankah dari ayat tersebut tersirat makna yang mengharuskan manusia untuk berusaha?" Seingatku sih penjelasan tentang takdir dan nasib manusia kurang lebih seperti itu,,
"Oh...aku manggut-manggut
"simpelnya, menurut aku sih nasib itu adalah sesuatu yang telah diusahakan."
"mmm...ternyata ga nyangka ya, orang seperti si Ogi ini punya pengetahuan tentang agama juga,,
makannya aku ga boleh menilai orang dari penampilannya.
"So, aku kuliah disini udah takdir aku juga?" tanyaku pada orang didepanku yang sedang asyik menyeruput es tehnya.
"Tergantung....." jawabnya cuek.
"Tergantung apa?"
"Tergantung pisang di warung....."
"Hahahahaha...."si Ogi tertawa dengan puasnya, aku jengkel dibuatnya.
"Sory, sory just kidding,"
"Aku diam saja, mungkin bibirku manyun 5 cm kali ya?! Ah..nggak..nggak terlalu berlebihan,,bukan manyun tapi cemberut, nah..itu lebih pas.
"Ya...tergantung, apa sebelumnya kamu udah berusaha secara maksimal atau nggak?! Jawabannya hanya kamu yang tau."
"Ia juga ya,
"Tenang aja kali fa, ga usah putus asa gitu,,Sekalipun berada di dalam lumpur, kalau berlian atau emas permata pasti tetap terlihat." si Ogi memberi semangat, niat usil ku muncul.
"Ia ya, aku permatanya kamu lumpurnya!!!" ejekku dengan puas.
"Hahahahaha...." Akhirnya aku bisa tertawa lagi setelah sekian lama awan mendung menggelayuti.
Sore itu menjadi awal kebangkitan semangat hidupku lagi,,ya...ga lepas dari peran si Ogi juga,,tiba-tiba dia hadir dalam hidupku dan memberiku support. Dan kini mentari hidupku bersinar lagi!
Bagaimanapun keadaannya aku ga boleh nyerah, aku harus jadi yang terbaik, terbaik dalam belajar, terbaik dalam memanfaatkan waktu, dan mempersembahkan yang terbaik bagi keluargaku.
Gi, whatever, thanx for your support! Batinku dalam hati.
***
Dengan menaiki si revo yang bannya agak-agak gundul itu, aku sampai di rumah. Ketika waktu makan malam tiba aku keluar kamar.
"Ayah mana Mah?" tanyaku pada Ibuku yang kudapati sendirian saja di dapur, biasanya jam segini Ayah sudah hadir diantara kami.
"Katanya sih ada meeting sama kliennya,"
"Jadi kita ga usah nunggu Ayah pulang," jawab Ibuku enteng.
Dan kamipun menikmati makan malam tanpa Ayah.
***
Di kamar,Jam 09.30
Kucoba etuk menghubungi Ayah, mungkin acara bersama kliennya sudah selesai.
"Assalamualaikum yah..."
"Waalaikum salam nak,,"
"Yah gimana meetingnya? Lancar?" tanyaku sok perhatian.
"La..lancar nak!"
"Sudah dulu yah, klien ayah mau pamit pulang"
"Oh,,ya sudah yah!"
"Hati-hati yah!"
klik sambungan telepon pun ditutup. Aneh, suara Ayah terdengar gugup. Tidak seperti biasa, ah...mudah-mudahan saja tidak terjadi apa-apa, batinku dalam hati.
Aku menepis prasangka burukku, tak pantaslah seorang anak mencurigai Ayahnya sendiri melakukan hal yang tidak-tidak. Anak macam apa aku ini?!
Hoooooaaaaammmnnn!!!
Aku pun merebahkan badanku diatas kasur. Hari ini setidaknya lebih cerah dari hari-hari kelabu yang telah kulalui, Ada mentari yang tiba-tiba muncul menyinari. Memberi kehangatan dalam kebekuan hidupku. Semangat! Semangat! Semangat!
Hemmm..aku senyam-senyum sendiri saat mengingat hari tadi, rambut si Ogi yang mengingatkanku pada si Ono, eh Christian Sugiono,
aku baru sdar ternyata si Ogi ga jelek juga, bahkan lebih dari itu, si Ogi tuh cakep!!
Duuh..apa-apaan sih Alfa!! Aku berusaha menyadarkan diri,
Si Ogi tuh bukan orang sembarangan di kampus, aktivis dengan paras yang rupawan pasti banyak cewek yang kesemsem sama dia,,mikir dong fa! Jangan sampai kamu naruh hati sama dia, nanti malah sakit hati.
***
Pulang dari kampus aku memutuskan untuk mampir dulu ke super market, sepertinya keperluan sehari-hari udah habis. Sebelum naik ke lantai 2, ada yang menarik perhatianku,
aih lucunya kerudung itu!sepertinya aku tambah cantik kalau pake kerudung itu,,,aduh...penyakit narsisku keluar lagi. Sadar karena aku ga bakalan bisa beli kerudung itu dalam waktu dekat, aku memutuskan untuk naik ke lantai 2. Kunaiki eskalator,,ketika aku menoleh ke sebelah kanan, dari sudut mataku aku melihat satu sosok yang sepertinya sangat aku kenal. Sosok itu berlawanan arah denganku, dia hendak turun ke lt 1, kulihat lebih jelas sosok itu, ya! Pria tinggi besar, memakai jas hitam, dan celana hitam, tak salah lagi kalau dia adalah Ayah! Tapi siapa wanita yang ia gandeng? Bukan istrinya,Ibuku. Tapi wanita lain. Kalau wanita itu adalah klien yang seperti semalam Ayah katakan, apakah pantas Ayah merangkul bahu wanita itu?! Pasti hubungan mereka lebih dari sekedar rekan bisnis belaka.
Kakiku terasa lemas, tak kuatlagi berjalan, apalagi mengejar Ayah untuk sekedar minta penjelasan. Penjelasan apa? toh semuanya sudah jelas, bahwa didepan mata kepalaku sendiri Ayah telah mengkhianati Ibu.
Bruuukkkk! Aku terjengkang kebelakang, ketika eskalator sampai di lantai 2. Beberapa orang membantuku berdiri.
"Hati-hati dong Mbak! " seorang ibu perhatian padaku.
"Naik eskalator kok mundur?!"
aku tersenyum kecut mendengar ucapan orang itu. Karena kamu ga tau beban apa yang barusan telah menimpaku! timpalku dalam hati.
***
Kenyataan ini begitu memilukan! Aku sudah tak ingat apa-apa lagi, yang kuinginkan saat itu adalah aku ingin sendiri, di sebuah tempat dan menumpahkan semua keluh kesahku.Untungnya aku masih bisa mengendalikan motorku.
Akhirnya aku sampai di sebuah mesjid,dan aku memutuskan untuk pergi ke wc, tempat yang paling aman untuk menangis. Tak kuat menahan air mata, akhiornya aku menangis di depan wastafel, entah berapa lama aku menghabiskan waktuku disana.
Saat terdengar adzan magrib, tangisku pun mulai reda, dan sedikit terasa ringan. Kubasuh mukaku dengan dinginnya air wudhu, semoga saja masalah-masalahku dapat terurai bersama aliran air wudhu.
Setelah menunaikan shalat maghrib aku memutuskan untuk tilawah beberapa lembar, terkadang diselingi isak tangis, semoga saja hatiku terasa lebih tenang dan juga menunggu waktu isya tiba.
Sebelumnya kukirim sms pada ibuku agar ia tidak khawatir, kusampaikan padanya kalau aku ada uruan kampus yang harus diselesaikan. Setelah shalat isya, dan ajaibnya batinku pun mulai terasa tenang,aku memutuskan untuk pulang. Aku beranjak ke parker area, dan mulai menstater si revo. Anehnya berkali-kali ku stater, si revo tak mau hidup juga. Ku coba menyelahnya, sama saja hasilnya nihil. Duh…revo kenapa sih? Disaat yang tidak tepat kamu malah mogok! Gerutuku dalam hati. Kucek pengukur nensin, ternyata bensinnya masih ada kok! Lalu dimana yang salah?Sayangnya aku byukan seseorang yang ahli dalam permesinan, baru bisa memakainya saja.
Disaat seperti ini, siapa yang harus kumintai bantuan? Ibu? Ah…ga mungkin banget, soalnya Ibu sama butanya seperti aku terhadap urusan permesinan. Ayah? Setelah kulihat dengan mata kepalaku sendiri apa yang ia lakukan, tidak! Teman dekat? Aduh…aku ga begitu dekat dengan teman-teman di kampusku, baru kurasakan kalau akhir-akhir ini aku terlalu introvert. Pilihan terakhir….Ogi?! Kenapa harus Ogi?! Karena dialah orang yang akhir-akhir ni dekat denganku, dan kalau tidak salah dia tinggal di sekitar sini. Malu sih sebenarnya, takut ngerepotin, nanti dia salah sangka kalau aku punya feel sama dia, tapi…mau gimana lagi? Masa harus pulang sambil dorong si revo? Si revo kan lumayan berat tuh! Ga lucu banget tuh!
Akhirnya, setelah menimbang-nimbang beberapa saat, kuberanikan diri tuk menelepon si Ogi .
“Assalamualaikum”
“Waalaikum salam”
“gi sory ganggu,” Aku memulai pembicaraan
“Ya ga papa,” suaranya terdengar berat, apa dia udah tidur ya?!
“Ada apa al?” tanyanya lagi
“Motorku mogok gi, aku gat au di bagian mana yang salah, so bisa minta bantuannya ga?” tanyaku penuh harap.
“Kamu ada di daerah mana Al?” tanyanya kemudian.
Klik, sambungan telepon pun terputus, sial hpku low batt. Duh..masa harus dorong si revo sih? Tapi sebelumnya, aku ga putus asa untuk melakukan usaha terakhir, menyelahnya, dan menstaternya. Tapi hasilnya tetap sama, si revo tak mau hidup. Akhirnya kudorong si revo, kukerahkan semua tenagaku, bismillahirrahmanirrahim…
Setelah sampai di pinggir jalan, dan menyebrang aku pun terus mendorong si revo. Keringat ku mulai bermunculan, duh..kayaknya keadaanku kacau banget ya, mata sembab, bau keringat seharian karena ga sempat mandi, ya Allah help me!!
Ajaibnya, di prempatan jalan doaku terkabul. Seseorang menaiki motor gede menghampiriku, dan ketika dia membuka helmnya, ga salah lagi dia si ogi!! Ya Allah thanks for your help!!
Si ogipun langsung menghampiri motorku, lalu entah bagian mesin yang mana yang dia otak-atik, sepertinya dia memang sudah persiapan membawa berbagai peralatan bengkel. Aku pun hanya mengamati si ogi sambil duduk di trotoar jalan. Beberapa menitpun berlalu, akhirnya si revo bisa hidup kembali.
“Gi makasih banyak ya, sory dah ganggu istirahat kamu!” Kataku.
“sama-sama Al, biasa aja kali ga usah sungkan!” jawabnya enteng.
“Mata kamu kenapa Al?” sifat penasaran si Ogi muncul lagi.
“mmm…itu kena debu,” jawabku mencoba berbohong.
“Kena debu? Bukannya kamu pake helm full face?” elaknya sambil menunjuk helmku yang emang fullface. Bingo! Aku ga bisa bohong.
“Kayak yang udah nangis deh!” sifat sok tahunya mulai lagi.
“Ya udah, kalau sekarang ga mau cerita, ntar kalau kamu udah mood berbagi, tinggal ngomong aja, key!!”
“ia..Gi,,,sekali lagi makasih banget ya, aku ga tau kalau ga da kamu mungkin aku baru nyampe rumah tengah malam!”
“Siip…”
Akhirnya aku bisa pulang juga dengan menaiki si revo. Kayaknya akumemang harus belajar sedikit tentang mesin deh, ya minimal kalau mogok aku ga kebingungan. Tapi belajar sama siapa? Ogi? Duuuh…Ogi lagi..ogi lagi…
Sesampainya di rumah, aku menyimpan si revo di garasi. Kulihat mobil avanza ayah sudah bertengger manis, berarti Ayah sudah datang. Aku memutuskan untuk langsung masuk kamar, namun ketika melewati ruang makan, kulihat Ayah dan Ibu sedang makan malam bersama, aneh…tadinya kukira bakal terjadi perang dunia ke tiga di rumah ini, nyatanya tidak. Berarti aku lah orang pertama yang mengetahui sepak terjang ayah, dasar laki-laki bermuka dua! Berani-beraninya mengkhianati Ibu!
“Al, sini makan bareng sama Ayah sama Ibu!” ajak ibu dengan nada penuh kasih saying. Sayangnya kali ini ajakan ibu berbuah penolakan.
“Kayaknya gadeh bu, tadi alfa udah makan diluar,” jawabku berbohong. Aku tahu sikapku ini salah, tidak sopan dan tidak seharusnya seorang anak bersikap seperti itu. Tapi kalau kasusnya seperti ini, tentu beda lagi urusannya.
Aku melepas kerudungku yang terasa lengket oleh keringat, setelah badanku terasa dingin, aku memutuskan untuk mandi. Setelah selesai aku mengenakan baju favoritku, yaitu baju tidur yang ukurannya kebesaran, karena memang baju ini dibelikan oleh paman yang ada di luar kota. Tapi baju ini malah memberikan kenyamanan bagi si pemakainya.
“Brukkk!” Aku menjatuhkan tubuhku di atas kasur, kubiarkan rambut panjangku yang masih basah tergerai. Kuamati langit-langit kamar, tapi beberapa saat kemudian langit-langit kamar berubah menjadi slide-slide kejadian tadi sore di mall.
“shit!!” kubanting guling yang ada di sampingku, dan guling itu mengenai meja rias, dan berhasil menyenggol gelas cantik berwarna biru.
“Prayy!” gelas kenang-kenangan dari seseorang di masa lalu itu pecah. Aku menyesaliperbuatanbodohku yang satu ini. Kenapa gelas itu yang harus jatuh dan pecah?!”
Tanpa berminat membereskan pecahan gelas itu aku membenamkan kepalaku ke dalam bantal, dan menumpahkan tangisku sejadi-jadinya. Mungkin dengan menangis rasa kesalku bisa sedikit berkurang.
***
Pagi harinya aku terbangun, dan setelah shalat shubuh aku teringat pada ogi, aku ingin bercerita padanya. Tak usah memberikan solusi, mendengarkan saja sudah cukup. Kukirim sms padanya,
Aslmkm, gi pgn crht niy, nanti siang ada wktu ga?
Selang beberapa menit, Ogi Membalas,
Ok, bisa. Jam brp? Dmn?
Aku pun membalas
Di Kedai buku, jam 10, thanx bfore :D
Siip..
Jam 10.00 am, aku sudah tiba di kedai buku. Sepertinya Ogi belum datang, akhirnya aku melihat-lihat koleksi buku yang ada di sana. Ku ambil satu buah novel karya penulis best seller dunia, Dan Brown. Judul buku itu “Angel and Demon.” Sepertinya buku ini bagus tuk di baca. Baru sampai halaman kedua, Ogi sudah ada di depanku. Aku ga sadar sejak kapan ia ada disana.
“Assalamualaikum al,” sapanya sambil duduk dihadapanku.
“Waalaikum slaam gi, jawabku.
Gimana dah baikan?” tanyanya sok perhatian, atau memang perhatiannya tulus.
“Lumayan….” Jawabku tak bersemangat,
Pramusaji pun datang, dan menawarkan menu yang ada hari ini,
“Saya jus alpukatnya mbak!” Ogi memesan.
“Saya capucino satu mbak!” kemudian pramusaji pun berlalu dari hadapan kami.
“Eh, bener kamu ga ada jadwal?” tanyaku memastikan.
“Bener lah al, ngapain aku bohong.” Jawabnya jujur.
“Kan kamu aktifis, biasanya kan sibuk! Aku beraergumen.
“masa sibuk terus, kali-kali refreshing boleh dong?” jawabnya.
Minuman kami pun datang.
“Cerita dong kamu kenapa semalam?” pinta si Ogi sambil menyeruput juus alpukatnya.
“Mmm…bingung mulainya darimana Gi,”
“ya..terserah deh mau mulai dari awal, dari tengah, dari akhir, aku siap dengerin kok!”
Duh,,,nih orang baik banget sih, batinku dalam hati.
“Gini…waktu kemarin aku pergi ke mall, aku liat dengan mata kepalaku sendiri, Ayahku jalan sama wanita lain,”
“Wanita lain?” ekspresi si ogi seperti yang kaget.
“mungkin aja relasinya kali Al?” ogi berusaha tuk berprasangka baik.
“Relasi kok bahunynya di rangkul gitu sih?” sanggahku dengan nada kesal.
tnang dulu al,”
“Kamu yakin orang itu ayah kamu?”
“Yakin 100%!” jawabku sungguh-sungguh,
“Aku ga mungkin salah liat Gi!”
“tu memang Ayah aku!”
“Ibu kamu tahu masalah ini?” Tanya si ogi
“Sepertinya belum,” hipotesisku, “soalnya semalam Ayah sama Ibu Al liat adem ayem aja tuh,"
“Ya udah, menurut aku, sekarang ini kamu cari kebenarannya dulu, jangan sampai ibu kamu tahu masalah ini. Mungkin saja ini kelakuan ayah kamu yang pertama dan terakhir,” paparsi Ogi.
“ya…mudah-mudahan saja,” jawabku pasrah.
“Kamu harus punya bukti, jadi suatu saat kesaksian kamu bisa dipercaya.” Tambahnya lagi.
“Ia juga ya, bukti, dan mungkin aku butuh waktu buat mengungkap kebenaran ini.” Jawabku.
“ya Al, yang sabar ya, mudah-mudahan kamu kuat jalani cobaan ini!” kata si ogi penuh simpati.
“Ya gi, semoga saja.”
“Gi, thanks ya udah mau dengerin aku, padahal aku tahu kamu pasti sibuk.
“Sama-sama Al, biasa aja kali, aku juga kan manusia biasa. Terkadang jadi pendengar, terkadang butuh di dengar.”
Si ogi pun yang kesekian kalinya menyeruputjus alpukatnya, aku pun jadi ingat capucinoku yang sedari tadi belum kusentuh sedikitpun.
“bay the way, kok bisa ya aku jadi deket sama kamu gi?”
“Mang kenapa sih Al, ga boleh ya aku temenan sama kamu?”Ogi balik nanya.
“bukannya ga boleh, tapi aku ngerasa aneh aja gitu,kmu kan orang yang yah,,bisa dibilang popular di kampus, secara kamu kan ketua Senat Mahasiswa Fakultas (SMF), temenan sama aku yang cenderung ga mau dikenal.” Paparku panjang lebar.
“Ya bisa dong Al, di dunia ini apa sih yang ga mungkin?”
“tentunya dengan seijin Allah,”
“Sekarang aku Tanya sama kamu, apa ada aturan yang melarang aku temenan sama kamu, atau yang lain?”
Tanpa memberiku kesempatan tuk menjawab, dia sudah nyerobot duluan,
“Ga ada kan?””Silaturahmi tuh ya sama siapa ja, asalkan tidak merugikan.”
“bener ga?”
“Ya..ya..ya..kamu bener kok gi!” jawabku sambil menyunggingkan senyum.
Kemudian terdengar suara hpsi Ogi memekik,
“Sory Al, terima tlp dlu ya,”
“Monggo-monggo,,nyantai aja gi!” jawabku enteng.
Kemudian setelah selesai mengangkat teleponnya, dia duduk kembali. Namun aku bisa menangkap gerak-geriknya yang terlihat buru-buru.Aku pun memutuskan untuk mengakhiri pertemuan ini (cieeee…bahasanya pertemuan, masa kencan?)
“Da apa gi, rapat ya?”Aku asal nebak aja, yang pasti ada acara mendadak semacam itu.
“Ya…gitu deh”
“Sory ya Al, ga papa nih?” tanyanya memastikan.
“ya udah aku pulang aja ya, makasih banget ya gi, buat hari ni!”
“sama-sama Al”
“Oh, tunggu bentar!”cegah si Ogi. Kemudian dia beranjak ke rak yang berisi deretan buku-buku. Sepertinya sedang mencari sebuah buku. Setelah ia menemukan apa yang ia cari, kemudian menuju meja peminjaman. Beberapa detik ia sudah ada di depanku.
“Nih bukunya bagus buat kamu!”
“Apa nih? “Jangan Jadi Wanita Cengeng?”aku membaca judul buku itu.
“Memangnya aku cengeng ya?” tanyaku retoris.
“Udah, baca aja dulu bukunya, nanti kamu tahu sendiri.”
“Oke deh!” aku pun yang kesekian kalinya menyunggingkan senyum.
Kami pun beranjak ke meja kasir. Sayangnya aku kalah cepat sama si Ogi.
“Dari aku aja Al!” kata si ogi dengan gayanya yang sok cool.
“Ah kamu, bikin enak aja!” candaku.
“boleh, tapi ada syaratnya!”
“Apa tuh?”
“lain kali aku yang traktir ya!” pintaku.
“Siiiip…deh!”
Akhirnya kami pulang dengan menaiki motor masing-masing, aku menaiki si revo, dan Ogi menaiki motor gedenya.
***
Sesampainya di rumah aku langsung masuk kamar, berbaring tak karuan, tak ada kerjaan. Selain memang tak ada tugas kuliah, aku juga bingung harus ngapain. Setelah sekian lama menghabiskan waktuku dengan percuma, barulah muncul ide. Kuambil lap top ku yang ada di meja belajar. Kusambungkan kabel telepon dan adaptor. Kemudian kunyalakan, dan langsung log in di Yahoo Massenger, sekaligus log in di Facebook.
Kemudian di layer tampil nama-nama temanku, tapi semuanya padam, pertanda memang sedang offline, yang menyala hanya Kak Miftah, mmm…sedang apa ya dia? Musim apa nih di mesir?
Beberapa saat kemudian muncul tulisan:
Miftah_22: Assalamualaikum..
Alfa_emc2: Waalaikum salam, pa kbr niy?
Miftah_22: Alhmd baik, kbr dik n klrga gmn?
(Sebenarnya kabar keluargaku sedang tidak baik, tapi masa harus jujur sih?)
Alfa_emc2: baik jga kak, gmn d mesir? Lg musim apa?
Miftah_22: lagi musim dingin nih,,-8 drjt C
Alfa_emc2: Wah..dgin bgt tuh!!
Miftah_22: Ia nih, udah pake baju 4 lapis, pake jaket, pake surban, tapi tetep aja dingin!
Alfa_emc2: hahahaha..banyak banget tuh! Yang sabar aja ya!
Miftah_22: yam au gmn lg,
Alfa_emc2: ga kuliah kak?jam brp dsna?
Miftah_22: sabtu minggu libur dik, skrg jam 06.50. Skrg lg dmn?
Alfa_emc2: g d rmh, knp gtu?
Miftah_22:gmn kbr khnsa?
Duh…mulai deh ngomongin Khansa.
Alfa_emc2:duh al ga tau kak, sory. Soalnya lost contact.
Miftah_22:ow..ya udh ga papa
Alfa_emc2: Kak, al pamit dlu ya, assalamualaikum
Miftah_22: Wassalam, mangga wilujeng.
Aku memutuskan untuk tidak lama-lama chatting sama kak Miftah, soalnya nanti ujung-ujungnya pembicaraan akan berakhir pada sebuah nama yaitu khansa, dan itu yang membuatku bosan. Mengingatkanku pada masa lalu saja.
Untungnya kak miftah sudah memblokir Fb nya sendiri, karena menurutnya, keuntungan / royalty dari Fb sekian persen akan disumbangkan untuk membiayai perang yang dilakukan Israel terhadap Palestina. Di TV memang tidak diberitakan bahwa Israel masih saja menyerang rakyat palestina, namun kenyataan di lapangan memang begitu.
Walaupun kak miftah memblokir fb nya, aku masih tetap dengan pendirianku untuk tidak memblokirnya. Bukannya aku mendukung agresi yang dilakukan Israel, namun karena belum adanya jejaring social serupa fb, yang diciptakan oleh umat muslim sendiri. Bahkan orang Indonesia, padahal kalau ada mungkin royaltinya akan disumbangkan untuk fakir miskin Indonesia. So far, selama aku menggunakannya dalam hal kebaikan, why not? Aku bisa bersilaturahmi (walau dlm dunia maya) dengan teman-teman SMP, teman-teman SMA, teman waktu di pondok dulu, dan masih banyak lagi teman-teman baru dari pelosok tanah air.
Nah sekarang aku bebas online di f b, karena kak Miftah memang tidak mengetahuinya.
Pertamakali, aku tulis apa yang aku fikirkan:
“Terkadang kenyataan hidup ini terasa begitu menyakitkan, tapi semoga saja ada hikmah dibalik semua ini. Yang kulakukan bukanlah mencela kegelapan, namun yang harus kulakukan adalah menyalakan lilin.”
Kemudian aku membagikan fikiranku. Selang lima menit, ada yang mengomentari, ternyata si Ogi.
Gi : Yup, bener bgt!!
Btw, dah mli dibca lim bkunya?
Alfa :hehehe…
Lom gi, tpi yg pasti mau dbca kok,
Gi : Ia donk! Hrs!!rekomendasi gi psti bagus,,:D
Alfa :ya…
Penykit narsisnya mli keluar tuh!!
Gi : ho..hoo…Al, tau ga?!
Ternyata fb itu diharamkan mnrut para ulama!
Alfa : kok bisa?
Gi : soalnya sekarang udh masuk waktu shalat dhuhur,
Shalat yuk!!
Kulirik jam di tanganku ternyata memang sudah memasuki waktu dzuhur. Kuberanjak dari kasur, dan mengambil air wudhu. Kucoba untuk lebih khusu dlm shalat dan setelah itu, aku bertilawah beberapa ayat. Selesai melipat mukena, aku mulai online lagi.
Gi : udah shalatnya?
Alfa : udah dong,,benr ya..klo dah shalat rasanya beda,,,gitu, sejuk,
Pokoke …damai nian hati ini,
Gi : Nah itu slh satu fadhilah shalat,
Alfa : udh rapatnya?
Gi : udh, alhmd
Alfa : Rapat apaan sih?
Gi : rapat pmbentukan panitia bwat penerimaan mhsswa baru, n orientasipsrta akademik,
Alfa :ow…
Gi, udh dlu ya, al mau baca dlu bkunya,,
Thanx 4 2 day!
Gi : Sama-sama, met baca!:D
Alfa : Assalamualaikum..
Gi : waalaikum salam
Aku pun langsung log out, kemudian menyalakan lagu-lagu dari lap top. Kemudian mulai membaca buku yang berjudul “jangan jadi wanita cengeng.”
-bersambung-
"Alah, ga usah manggil aku kayak gitu,,panggil aja Gi" kata si Ogi sok akrab. Hmmmm...syukur deh sebenarnya aku juga males manggil dia dengan sebutan Kak, bikin muak aja.
"mmm...menurut kamu Gi, nasib seorang manusia itu ditentukan oleh siapa?
oleh kita sendiri atau segala sesuatunya dari proses sampai hasilnya sudah diatur oleh Yang maha Kuasa?"
"Sebuah pertanyaan yang ga simpel jawabannya" si Ogi menanggapi. Kemudian dia meneruskan penjelasannya,
"ada perbedaan pendapat tentang masalah nasib manusia, tepatnya masalah takdir,"
"Trus?" aku makin penasaran dengan jawabannya, bukankah perkataan seseorang itu mewakili dirinya sendiri?!
" Ada faham yang mengatakan kalau nasib kita di dunia maupun di akhirat sudah tertulis dalam lauhul mahfudz, tapi bagi sebagian orang malah menjadikan faham ini sebagai alasan dari kemalasan mereka.
"Contohnya?" jujur saja aku belum begitu mengerti,
"Contohnya suka ada orang yang mengatakan.."Ah mungkin sudah nasibku seperti ini," padahal mungkin saja mereka belum berusaha secara maksimal. Dari perkataan mereka sepertinya mereka pasrah pada tantangan hidup."
"Dan faham yang kedua adalah orang-orang yang mempercayai bahwa takdir Allah adalah segala sesuatu yang telah mereka usahakan,"
"Kalau ga salah ada salah satu petikan ayat Al-Quran yang mengatakan bahwa Allah akan memberikan cobaan pada hambaNya sesuai dengan kemampuannya masing-masing," Bukankah dari ayat tersebut tersirat makna yang mengharuskan manusia untuk berusaha?" Seingatku sih penjelasan tentang takdir dan nasib manusia kurang lebih seperti itu,,
"Oh...aku manggut-manggut
"simpelnya, menurut aku sih nasib itu adalah sesuatu yang telah diusahakan."
"mmm...ternyata ga nyangka ya, orang seperti si Ogi ini punya pengetahuan tentang agama juga,,
makannya aku ga boleh menilai orang dari penampilannya.
"So, aku kuliah disini udah takdir aku juga?" tanyaku pada orang didepanku yang sedang asyik menyeruput es tehnya.
"Tergantung....." jawabnya cuek.
"Tergantung apa?"
"Tergantung pisang di warung....."
"Hahahahaha...."si Ogi tertawa dengan puasnya, aku jengkel dibuatnya.
"Sory, sory just kidding,"
"Aku diam saja, mungkin bibirku manyun 5 cm kali ya?! Ah..nggak..nggak terlalu berlebihan,,bukan manyun tapi cemberut, nah..itu lebih pas.
"Ya...tergantung, apa sebelumnya kamu udah berusaha secara maksimal atau nggak?! Jawabannya hanya kamu yang tau."
"Ia juga ya,
"Tenang aja kali fa, ga usah putus asa gitu,,Sekalipun berada di dalam lumpur, kalau berlian atau emas permata pasti tetap terlihat." si Ogi memberi semangat, niat usil ku muncul.
"Ia ya, aku permatanya kamu lumpurnya!!!" ejekku dengan puas.
"Hahahahaha...." Akhirnya aku bisa tertawa lagi setelah sekian lama awan mendung menggelayuti.
Sore itu menjadi awal kebangkitan semangat hidupku lagi,,ya...ga lepas dari peran si Ogi juga,,tiba-tiba dia hadir dalam hidupku dan memberiku support. Dan kini mentari hidupku bersinar lagi!
Bagaimanapun keadaannya aku ga boleh nyerah, aku harus jadi yang terbaik, terbaik dalam belajar, terbaik dalam memanfaatkan waktu, dan mempersembahkan yang terbaik bagi keluargaku.
Gi, whatever, thanx for your support! Batinku dalam hati.
***
Dengan menaiki si revo yang bannya agak-agak gundul itu, aku sampai di rumah. Ketika waktu makan malam tiba aku keluar kamar.
"Ayah mana Mah?" tanyaku pada Ibuku yang kudapati sendirian saja di dapur, biasanya jam segini Ayah sudah hadir diantara kami.
"Katanya sih ada meeting sama kliennya,"
"Jadi kita ga usah nunggu Ayah pulang," jawab Ibuku enteng.
Dan kamipun menikmati makan malam tanpa Ayah.
***
Di kamar,Jam 09.30
Kucoba etuk menghubungi Ayah, mungkin acara bersama kliennya sudah selesai.
"Assalamualaikum yah..."
"Waalaikum salam nak,,"
"Yah gimana meetingnya? Lancar?" tanyaku sok perhatian.
"La..lancar nak!"
"Sudah dulu yah, klien ayah mau pamit pulang"
"Oh,,ya sudah yah!"
"Hati-hati yah!"
klik sambungan telepon pun ditutup. Aneh, suara Ayah terdengar gugup. Tidak seperti biasa, ah...mudah-mudahan saja tidak terjadi apa-apa, batinku dalam hati.
Aku menepis prasangka burukku, tak pantaslah seorang anak mencurigai Ayahnya sendiri melakukan hal yang tidak-tidak. Anak macam apa aku ini?!
Hoooooaaaaammmnnn!!!
Aku pun merebahkan badanku diatas kasur. Hari ini setidaknya lebih cerah dari hari-hari kelabu yang telah kulalui, Ada mentari yang tiba-tiba muncul menyinari. Memberi kehangatan dalam kebekuan hidupku. Semangat! Semangat! Semangat!
Hemmm..aku senyam-senyum sendiri saat mengingat hari tadi, rambut si Ogi yang mengingatkanku pada si Ono, eh Christian Sugiono,
aku baru sdar ternyata si Ogi ga jelek juga, bahkan lebih dari itu, si Ogi tuh cakep!!
Duuh..apa-apaan sih Alfa!! Aku berusaha menyadarkan diri,
Si Ogi tuh bukan orang sembarangan di kampus, aktivis dengan paras yang rupawan pasti banyak cewek yang kesemsem sama dia,,mikir dong fa! Jangan sampai kamu naruh hati sama dia, nanti malah sakit hati.
***
Pulang dari kampus aku memutuskan untuk mampir dulu ke super market, sepertinya keperluan sehari-hari udah habis. Sebelum naik ke lantai 2, ada yang menarik perhatianku,
aih lucunya kerudung itu!sepertinya aku tambah cantik kalau pake kerudung itu,,,aduh...penyakit narsisku keluar lagi. Sadar karena aku ga bakalan bisa beli kerudung itu dalam waktu dekat, aku memutuskan untuk naik ke lantai 2. Kunaiki eskalator,,ketika aku menoleh ke sebelah kanan, dari sudut mataku aku melihat satu sosok yang sepertinya sangat aku kenal. Sosok itu berlawanan arah denganku, dia hendak turun ke lt 1, kulihat lebih jelas sosok itu, ya! Pria tinggi besar, memakai jas hitam, dan celana hitam, tak salah lagi kalau dia adalah Ayah! Tapi siapa wanita yang ia gandeng? Bukan istrinya,Ibuku. Tapi wanita lain. Kalau wanita itu adalah klien yang seperti semalam Ayah katakan, apakah pantas Ayah merangkul bahu wanita itu?! Pasti hubungan mereka lebih dari sekedar rekan bisnis belaka.
Kakiku terasa lemas, tak kuatlagi berjalan, apalagi mengejar Ayah untuk sekedar minta penjelasan. Penjelasan apa? toh semuanya sudah jelas, bahwa didepan mata kepalaku sendiri Ayah telah mengkhianati Ibu.
Bruuukkkk! Aku terjengkang kebelakang, ketika eskalator sampai di lantai 2. Beberapa orang membantuku berdiri.
"Hati-hati dong Mbak! " seorang ibu perhatian padaku.
"Naik eskalator kok mundur?!"
aku tersenyum kecut mendengar ucapan orang itu. Karena kamu ga tau beban apa yang barusan telah menimpaku! timpalku dalam hati.
***
Kenyataan ini begitu memilukan! Aku sudah tak ingat apa-apa lagi, yang kuinginkan saat itu adalah aku ingin sendiri, di sebuah tempat dan menumpahkan semua keluh kesahku.Untungnya aku masih bisa mengendalikan motorku.
Akhirnya aku sampai di sebuah mesjid,dan aku memutuskan untuk pergi ke wc, tempat yang paling aman untuk menangis. Tak kuat menahan air mata, akhiornya aku menangis di depan wastafel, entah berapa lama aku menghabiskan waktuku disana.
Saat terdengar adzan magrib, tangisku pun mulai reda, dan sedikit terasa ringan. Kubasuh mukaku dengan dinginnya air wudhu, semoga saja masalah-masalahku dapat terurai bersama aliran air wudhu.
Setelah menunaikan shalat maghrib aku memutuskan untuk tilawah beberapa lembar, terkadang diselingi isak tangis, semoga saja hatiku terasa lebih tenang dan juga menunggu waktu isya tiba.
Sebelumnya kukirim sms pada ibuku agar ia tidak khawatir, kusampaikan padanya kalau aku ada uruan kampus yang harus diselesaikan. Setelah shalat isya, dan ajaibnya batinku pun mulai terasa tenang,aku memutuskan untuk pulang. Aku beranjak ke parker area, dan mulai menstater si revo. Anehnya berkali-kali ku stater, si revo tak mau hidup juga. Ku coba menyelahnya, sama saja hasilnya nihil. Duh…revo kenapa sih? Disaat yang tidak tepat kamu malah mogok! Gerutuku dalam hati. Kucek pengukur nensin, ternyata bensinnya masih ada kok! Lalu dimana yang salah?Sayangnya aku byukan seseorang yang ahli dalam permesinan, baru bisa memakainya saja.
Disaat seperti ini, siapa yang harus kumintai bantuan? Ibu? Ah…ga mungkin banget, soalnya Ibu sama butanya seperti aku terhadap urusan permesinan. Ayah? Setelah kulihat dengan mata kepalaku sendiri apa yang ia lakukan, tidak! Teman dekat? Aduh…aku ga begitu dekat dengan teman-teman di kampusku, baru kurasakan kalau akhir-akhir ini aku terlalu introvert. Pilihan terakhir….Ogi?! Kenapa harus Ogi?! Karena dialah orang yang akhir-akhir ni dekat denganku, dan kalau tidak salah dia tinggal di sekitar sini. Malu sih sebenarnya, takut ngerepotin, nanti dia salah sangka kalau aku punya feel sama dia, tapi…mau gimana lagi? Masa harus pulang sambil dorong si revo? Si revo kan lumayan berat tuh! Ga lucu banget tuh!
Akhirnya, setelah menimbang-nimbang beberapa saat, kuberanikan diri tuk menelepon si Ogi .
“Assalamualaikum”
“Waalaikum salam”
“gi sory ganggu,” Aku memulai pembicaraan
“Ya ga papa,” suaranya terdengar berat, apa dia udah tidur ya?!
“Ada apa al?” tanyanya lagi
“Motorku mogok gi, aku gat au di bagian mana yang salah, so bisa minta bantuannya ga?” tanyaku penuh harap.
“Kamu ada di daerah mana Al?” tanyanya kemudian.
Klik, sambungan telepon pun terputus, sial hpku low batt. Duh..masa harus dorong si revo sih? Tapi sebelumnya, aku ga putus asa untuk melakukan usaha terakhir, menyelahnya, dan menstaternya. Tapi hasilnya tetap sama, si revo tak mau hidup. Akhirnya kudorong si revo, kukerahkan semua tenagaku, bismillahirrahmanirrahim…
Setelah sampai di pinggir jalan, dan menyebrang aku pun terus mendorong si revo. Keringat ku mulai bermunculan, duh..kayaknya keadaanku kacau banget ya, mata sembab, bau keringat seharian karena ga sempat mandi, ya Allah help me!!
Ajaibnya, di prempatan jalan doaku terkabul. Seseorang menaiki motor gede menghampiriku, dan ketika dia membuka helmnya, ga salah lagi dia si ogi!! Ya Allah thanks for your help!!
Si ogipun langsung menghampiri motorku, lalu entah bagian mesin yang mana yang dia otak-atik, sepertinya dia memang sudah persiapan membawa berbagai peralatan bengkel. Aku pun hanya mengamati si ogi sambil duduk di trotoar jalan. Beberapa menitpun berlalu, akhirnya si revo bisa hidup kembali.
“Gi makasih banyak ya, sory dah ganggu istirahat kamu!” Kataku.
“sama-sama Al, biasa aja kali ga usah sungkan!” jawabnya enteng.
“Mata kamu kenapa Al?” sifat penasaran si Ogi muncul lagi.
“mmm…itu kena debu,” jawabku mencoba berbohong.
“Kena debu? Bukannya kamu pake helm full face?” elaknya sambil menunjuk helmku yang emang fullface. Bingo! Aku ga bisa bohong.
“Kayak yang udah nangis deh!” sifat sok tahunya mulai lagi.
“Ya udah, kalau sekarang ga mau cerita, ntar kalau kamu udah mood berbagi, tinggal ngomong aja, key!!”
“ia..Gi,,,sekali lagi makasih banget ya, aku ga tau kalau ga da kamu mungkin aku baru nyampe rumah tengah malam!”
“Siip…”
Akhirnya aku bisa pulang juga dengan menaiki si revo. Kayaknya akumemang harus belajar sedikit tentang mesin deh, ya minimal kalau mogok aku ga kebingungan. Tapi belajar sama siapa? Ogi? Duuuh…Ogi lagi..ogi lagi…
Sesampainya di rumah, aku menyimpan si revo di garasi. Kulihat mobil avanza ayah sudah bertengger manis, berarti Ayah sudah datang. Aku memutuskan untuk langsung masuk kamar, namun ketika melewati ruang makan, kulihat Ayah dan Ibu sedang makan malam bersama, aneh…tadinya kukira bakal terjadi perang dunia ke tiga di rumah ini, nyatanya tidak. Berarti aku lah orang pertama yang mengetahui sepak terjang ayah, dasar laki-laki bermuka dua! Berani-beraninya mengkhianati Ibu!
“Al, sini makan bareng sama Ayah sama Ibu!” ajak ibu dengan nada penuh kasih saying. Sayangnya kali ini ajakan ibu berbuah penolakan.
“Kayaknya gadeh bu, tadi alfa udah makan diluar,” jawabku berbohong. Aku tahu sikapku ini salah, tidak sopan dan tidak seharusnya seorang anak bersikap seperti itu. Tapi kalau kasusnya seperti ini, tentu beda lagi urusannya.
Aku melepas kerudungku yang terasa lengket oleh keringat, setelah badanku terasa dingin, aku memutuskan untuk mandi. Setelah selesai aku mengenakan baju favoritku, yaitu baju tidur yang ukurannya kebesaran, karena memang baju ini dibelikan oleh paman yang ada di luar kota. Tapi baju ini malah memberikan kenyamanan bagi si pemakainya.
“Brukkk!” Aku menjatuhkan tubuhku di atas kasur, kubiarkan rambut panjangku yang masih basah tergerai. Kuamati langit-langit kamar, tapi beberapa saat kemudian langit-langit kamar berubah menjadi slide-slide kejadian tadi sore di mall.
“shit!!” kubanting guling yang ada di sampingku, dan guling itu mengenai meja rias, dan berhasil menyenggol gelas cantik berwarna biru.
“Prayy!” gelas kenang-kenangan dari seseorang di masa lalu itu pecah. Aku menyesaliperbuatanbodohku yang satu ini. Kenapa gelas itu yang harus jatuh dan pecah?!”
Tanpa berminat membereskan pecahan gelas itu aku membenamkan kepalaku ke dalam bantal, dan menumpahkan tangisku sejadi-jadinya. Mungkin dengan menangis rasa kesalku bisa sedikit berkurang.
***
Pagi harinya aku terbangun, dan setelah shalat shubuh aku teringat pada ogi, aku ingin bercerita padanya. Tak usah memberikan solusi, mendengarkan saja sudah cukup. Kukirim sms padanya,
Aslmkm, gi pgn crht niy, nanti siang ada wktu ga?
Selang beberapa menit, Ogi Membalas,
Ok, bisa. Jam brp? Dmn?
Aku pun membalas
Di Kedai buku, jam 10, thanx bfore :D
Siip..
Jam 10.00 am, aku sudah tiba di kedai buku. Sepertinya Ogi belum datang, akhirnya aku melihat-lihat koleksi buku yang ada di sana. Ku ambil satu buah novel karya penulis best seller dunia, Dan Brown. Judul buku itu “Angel and Demon.” Sepertinya buku ini bagus tuk di baca. Baru sampai halaman kedua, Ogi sudah ada di depanku. Aku ga sadar sejak kapan ia ada disana.
“Assalamualaikum al,” sapanya sambil duduk dihadapanku.
“Waalaikum slaam gi, jawabku.
Gimana dah baikan?” tanyanya sok perhatian, atau memang perhatiannya tulus.
“Lumayan….” Jawabku tak bersemangat,
Pramusaji pun datang, dan menawarkan menu yang ada hari ini,
“Saya jus alpukatnya mbak!” Ogi memesan.
“Saya capucino satu mbak!” kemudian pramusaji pun berlalu dari hadapan kami.
“Eh, bener kamu ga ada jadwal?” tanyaku memastikan.
“Bener lah al, ngapain aku bohong.” Jawabnya jujur.
“Kan kamu aktifis, biasanya kan sibuk! Aku beraergumen.
“masa sibuk terus, kali-kali refreshing boleh dong?” jawabnya.
Minuman kami pun datang.
“Cerita dong kamu kenapa semalam?” pinta si Ogi sambil menyeruput juus alpukatnya.
“Mmm…bingung mulainya darimana Gi,”
“ya..terserah deh mau mulai dari awal, dari tengah, dari akhir, aku siap dengerin kok!”
Duh,,,nih orang baik banget sih, batinku dalam hati.
“Gini…waktu kemarin aku pergi ke mall, aku liat dengan mata kepalaku sendiri, Ayahku jalan sama wanita lain,”
“Wanita lain?” ekspresi si ogi seperti yang kaget.
“mungkin aja relasinya kali Al?” ogi berusaha tuk berprasangka baik.
“Relasi kok bahunynya di rangkul gitu sih?” sanggahku dengan nada kesal.
tnang dulu al,”
“Kamu yakin orang itu ayah kamu?”
“Yakin 100%!” jawabku sungguh-sungguh,
“Aku ga mungkin salah liat Gi!”
“tu memang Ayah aku!”
“Ibu kamu tahu masalah ini?” Tanya si ogi
“Sepertinya belum,” hipotesisku, “soalnya semalam Ayah sama Ibu Al liat adem ayem aja tuh,"
“Ya udah, menurut aku, sekarang ini kamu cari kebenarannya dulu, jangan sampai ibu kamu tahu masalah ini. Mungkin saja ini kelakuan ayah kamu yang pertama dan terakhir,” paparsi Ogi.
“ya…mudah-mudahan saja,” jawabku pasrah.
“Kamu harus punya bukti, jadi suatu saat kesaksian kamu bisa dipercaya.” Tambahnya lagi.
“Ia juga ya, bukti, dan mungkin aku butuh waktu buat mengungkap kebenaran ini.” Jawabku.
“ya Al, yang sabar ya, mudah-mudahan kamu kuat jalani cobaan ini!” kata si ogi penuh simpati.
“Ya gi, semoga saja.”
“Gi, thanks ya udah mau dengerin aku, padahal aku tahu kamu pasti sibuk.
“Sama-sama Al, biasa aja kali, aku juga kan manusia biasa. Terkadang jadi pendengar, terkadang butuh di dengar.”
Si ogi pun yang kesekian kalinya menyeruputjus alpukatnya, aku pun jadi ingat capucinoku yang sedari tadi belum kusentuh sedikitpun.
“bay the way, kok bisa ya aku jadi deket sama kamu gi?”
“Mang kenapa sih Al, ga boleh ya aku temenan sama kamu?”Ogi balik nanya.
“bukannya ga boleh, tapi aku ngerasa aneh aja gitu,kmu kan orang yang yah,,bisa dibilang popular di kampus, secara kamu kan ketua Senat Mahasiswa Fakultas (SMF), temenan sama aku yang cenderung ga mau dikenal.” Paparku panjang lebar.
“Ya bisa dong Al, di dunia ini apa sih yang ga mungkin?”
“tentunya dengan seijin Allah,”
“Sekarang aku Tanya sama kamu, apa ada aturan yang melarang aku temenan sama kamu, atau yang lain?”
Tanpa memberiku kesempatan tuk menjawab, dia sudah nyerobot duluan,
“Ga ada kan?””Silaturahmi tuh ya sama siapa ja, asalkan tidak merugikan.”
“bener ga?”
“Ya..ya..ya..kamu bener kok gi!” jawabku sambil menyunggingkan senyum.
Kemudian terdengar suara hpsi Ogi memekik,
“Sory Al, terima tlp dlu ya,”
“Monggo-monggo,,nyantai aja gi!” jawabku enteng.
Kemudian setelah selesai mengangkat teleponnya, dia duduk kembali. Namun aku bisa menangkap gerak-geriknya yang terlihat buru-buru.Aku pun memutuskan untuk mengakhiri pertemuan ini (cieeee…bahasanya pertemuan, masa kencan?)
“Da apa gi, rapat ya?”Aku asal nebak aja, yang pasti ada acara mendadak semacam itu.
“Ya…gitu deh”
“Sory ya Al, ga papa nih?” tanyanya memastikan.
“ya udah aku pulang aja ya, makasih banget ya gi, buat hari ni!”
“sama-sama Al”
“Oh, tunggu bentar!”cegah si Ogi. Kemudian dia beranjak ke rak yang berisi deretan buku-buku. Sepertinya sedang mencari sebuah buku. Setelah ia menemukan apa yang ia cari, kemudian menuju meja peminjaman. Beberapa detik ia sudah ada di depanku.
“Nih bukunya bagus buat kamu!”
“Apa nih? “Jangan Jadi Wanita Cengeng?”aku membaca judul buku itu.
“Memangnya aku cengeng ya?” tanyaku retoris.
“Udah, baca aja dulu bukunya, nanti kamu tahu sendiri.”
“Oke deh!” aku pun yang kesekian kalinya menyunggingkan senyum.
Kami pun beranjak ke meja kasir. Sayangnya aku kalah cepat sama si Ogi.
“Dari aku aja Al!” kata si ogi dengan gayanya yang sok cool.
“Ah kamu, bikin enak aja!” candaku.
“boleh, tapi ada syaratnya!”
“Apa tuh?”
“lain kali aku yang traktir ya!” pintaku.
“Siiiip…deh!”
Akhirnya kami pulang dengan menaiki motor masing-masing, aku menaiki si revo, dan Ogi menaiki motor gedenya.
***
Sesampainya di rumah aku langsung masuk kamar, berbaring tak karuan, tak ada kerjaan. Selain memang tak ada tugas kuliah, aku juga bingung harus ngapain. Setelah sekian lama menghabiskan waktuku dengan percuma, barulah muncul ide. Kuambil lap top ku yang ada di meja belajar. Kusambungkan kabel telepon dan adaptor. Kemudian kunyalakan, dan langsung log in di Yahoo Massenger, sekaligus log in di Facebook.
Kemudian di layer tampil nama-nama temanku, tapi semuanya padam, pertanda memang sedang offline, yang menyala hanya Kak Miftah, mmm…sedang apa ya dia? Musim apa nih di mesir?
Beberapa saat kemudian muncul tulisan:
Miftah_22: Assalamualaikum..
Alfa_emc2: Waalaikum salam, pa kbr niy?
Miftah_22: Alhmd baik, kbr dik n klrga gmn?
(Sebenarnya kabar keluargaku sedang tidak baik, tapi masa harus jujur sih?)
Alfa_emc2: baik jga kak, gmn d mesir? Lg musim apa?
Miftah_22: lagi musim dingin nih,,-8 drjt C
Alfa_emc2: Wah..dgin bgt tuh!!
Miftah_22: Ia nih, udah pake baju 4 lapis, pake jaket, pake surban, tapi tetep aja dingin!
Alfa_emc2: hahahaha..banyak banget tuh! Yang sabar aja ya!
Miftah_22: yam au gmn lg,
Alfa_emc2: ga kuliah kak?jam brp dsna?
Miftah_22: sabtu minggu libur dik, skrg jam 06.50. Skrg lg dmn?
Alfa_emc2: g d rmh, knp gtu?
Miftah_22:gmn kbr khnsa?
Duh…mulai deh ngomongin Khansa.
Alfa_emc2:duh al ga tau kak, sory. Soalnya lost contact.
Miftah_22:ow..ya udh ga papa
Alfa_emc2: Kak, al pamit dlu ya, assalamualaikum
Miftah_22: Wassalam, mangga wilujeng.
Aku memutuskan untuk tidak lama-lama chatting sama kak Miftah, soalnya nanti ujung-ujungnya pembicaraan akan berakhir pada sebuah nama yaitu khansa, dan itu yang membuatku bosan. Mengingatkanku pada masa lalu saja.
Untungnya kak miftah sudah memblokir Fb nya sendiri, karena menurutnya, keuntungan / royalty dari Fb sekian persen akan disumbangkan untuk membiayai perang yang dilakukan Israel terhadap Palestina. Di TV memang tidak diberitakan bahwa Israel masih saja menyerang rakyat palestina, namun kenyataan di lapangan memang begitu.
Walaupun kak miftah memblokir fb nya, aku masih tetap dengan pendirianku untuk tidak memblokirnya. Bukannya aku mendukung agresi yang dilakukan Israel, namun karena belum adanya jejaring social serupa fb, yang diciptakan oleh umat muslim sendiri. Bahkan orang Indonesia, padahal kalau ada mungkin royaltinya akan disumbangkan untuk fakir miskin Indonesia. So far, selama aku menggunakannya dalam hal kebaikan, why not? Aku bisa bersilaturahmi (walau dlm dunia maya) dengan teman-teman SMP, teman-teman SMA, teman waktu di pondok dulu, dan masih banyak lagi teman-teman baru dari pelosok tanah air.
Nah sekarang aku bebas online di f b, karena kak Miftah memang tidak mengetahuinya.
Pertamakali, aku tulis apa yang aku fikirkan:
“Terkadang kenyataan hidup ini terasa begitu menyakitkan, tapi semoga saja ada hikmah dibalik semua ini. Yang kulakukan bukanlah mencela kegelapan, namun yang harus kulakukan adalah menyalakan lilin.”
Kemudian aku membagikan fikiranku. Selang lima menit, ada yang mengomentari, ternyata si Ogi.
Gi : Yup, bener bgt!!
Btw, dah mli dibca lim bkunya?
Alfa :hehehe…
Lom gi, tpi yg pasti mau dbca kok,
Gi : Ia donk! Hrs!!rekomendasi gi psti bagus,,:D
Alfa :ya…
Penykit narsisnya mli keluar tuh!!
Gi : ho..hoo…Al, tau ga?!
Ternyata fb itu diharamkan mnrut para ulama!
Alfa : kok bisa?
Gi : soalnya sekarang udh masuk waktu shalat dhuhur,
Shalat yuk!!
Kulirik jam di tanganku ternyata memang sudah memasuki waktu dzuhur. Kuberanjak dari kasur, dan mengambil air wudhu. Kucoba untuk lebih khusu dlm shalat dan setelah itu, aku bertilawah beberapa ayat. Selesai melipat mukena, aku mulai online lagi.
Gi : udah shalatnya?
Alfa : udah dong,,benr ya..klo dah shalat rasanya beda,,,gitu, sejuk,
Pokoke …damai nian hati ini,
Gi : Nah itu slh satu fadhilah shalat,
Alfa : udh rapatnya?
Gi : udh, alhmd
Alfa : Rapat apaan sih?
Gi : rapat pmbentukan panitia bwat penerimaan mhsswa baru, n orientasipsrta akademik,
Alfa :ow…
Gi, udh dlu ya, al mau baca dlu bkunya,,
Thanx 4 2 day!
Gi : Sama-sama, met baca!:D
Alfa : Assalamualaikum..
Gi : waalaikum salam
Aku pun langsung log out, kemudian menyalakan lagu-lagu dari lap top. Kemudian mulai membaca buku yang berjudul “jangan jadi wanita cengeng.”
-bersambung-
Mati Enggan, Hidup pun Tak Mau
(sebuah kritik sosial untuk masyarakat Ar-Risalah, semoga dari waktu ke waktu bisa menjadi lebih baik)
Jajirah ( Jajaran Jurnalis Remaja Ar-Risalah), "mati enggan hidup pun tak mau", mungkin itulah ungkapan yang pas untuk keadaan jajirah saat ini. Dikatakan hidup, tidak tepat, karena jika dikatakan hidup tentunya haruslah mempunyai ciri-ciri hidup. Seperti halnya makhluk hidup, salah satu ciri dia hidup adalah berkembang biak, atau mungkin tepatnya produktif ( dalam arti melahirkan sebuah karya atau konsisten dalam menjalankan program kerjanya). Jajirah juga tidak bisa dikatakan mati, karena tentunya masih ada sekumpulan orang yang mempunyai visi dan misi yang sama.
Lalu bagaimanakah keadaan Jajirah yang sebenarya?
Menurut penulis, vakumnya jajirah karena beberapa hal:
Yang pertama Jajirah bukanlah sebuah lembaga yang profesional, maksud penulis disini, dikatakan tidak profesional dikarenakan oleh dua hal:
1. Karena pengurus Jajirah tidak mempunyai waktu khusus untuk menjalankan tugas mereka. Sekalipun ada waktu, itu hanya sisa dari waktu belajar dan mengaji.
2. Kepengurusan Jajirah yang mau tidak mau sifatnya kaderisasi. Rata-rata setiap angkatan mempunyai waktu satu tahun dalam menjalankan tugasnya. Belum lagi dikurangi masa-masa adaptasi dan penjalinan kerjasama antar pengurus.
3. Kepengurusan Jajirah tidaklah seperti lembaga lainnya, yang mendapatkan budget khusus untuk keberlangsungan hidupnya.Terlalu jauh membayangkan Jajirah sebagai suatu lembaga untuk meraup materi/keuntungan. Jangankan mendapat materi, seringkali pengurus itu sendiri yang harus menutup kekurangan. (semoga menjadi amal baik bagi kita semua).
Alasan yang kedua yaitu, kurangnya minat membaca masyarakat ar-risalah itu sendiri. Menurut pengamatan penulis selma 6 tahun, jangankan budaya membaca, rasa hormat terhadap buku (maksudnya terhadap ilmu) tidak begitu diindahkan. Padahal kalau kita selami secara mendalam, adanya suatu majalah sekolah, atau media massa lainnya sangat besar manfaatnya sebagai penunjang pendidikan.
Tak sedikit dalam pelajaran bahasa Indonesia kita mendapatkan tugas untuk membuat makalah, apalagi bagi yang sudah kuliah tentunya harus membuat skripsi. Tentunya tanpa pembiasaan menulis dan membaca sejak dini, semuanya tak kan terlaksana secara maksimal.
Tentunya peran pendidik sangan penting dalam hal ini. Sebagaimana tercantum dalam kitab Tarbiyatul Islamiyah (Yusuf Al-Qardhawi) dikatakan bahwa Al-Muallim (guru) adalah tulang punggung pendidikan, baik buruknya produk pendidikan (peserta didik) dipengaruhi oleh Al-Muallim tersebut.
Jajirah ( Jajaran Jurnalis Remaja Ar-Risalah), "mati enggan hidup pun tak mau", mungkin itulah ungkapan yang pas untuk keadaan jajirah saat ini. Dikatakan hidup, tidak tepat, karena jika dikatakan hidup tentunya haruslah mempunyai ciri-ciri hidup. Seperti halnya makhluk hidup, salah satu ciri dia hidup adalah berkembang biak, atau mungkin tepatnya produktif ( dalam arti melahirkan sebuah karya atau konsisten dalam menjalankan program kerjanya). Jajirah juga tidak bisa dikatakan mati, karena tentunya masih ada sekumpulan orang yang mempunyai visi dan misi yang sama.
Lalu bagaimanakah keadaan Jajirah yang sebenarya?
Menurut penulis, vakumnya jajirah karena beberapa hal:
Yang pertama Jajirah bukanlah sebuah lembaga yang profesional, maksud penulis disini, dikatakan tidak profesional dikarenakan oleh dua hal:
1. Karena pengurus Jajirah tidak mempunyai waktu khusus untuk menjalankan tugas mereka. Sekalipun ada waktu, itu hanya sisa dari waktu belajar dan mengaji.
2. Kepengurusan Jajirah yang mau tidak mau sifatnya kaderisasi. Rata-rata setiap angkatan mempunyai waktu satu tahun dalam menjalankan tugasnya. Belum lagi dikurangi masa-masa adaptasi dan penjalinan kerjasama antar pengurus.
3. Kepengurusan Jajirah tidaklah seperti lembaga lainnya, yang mendapatkan budget khusus untuk keberlangsungan hidupnya.Terlalu jauh membayangkan Jajirah sebagai suatu lembaga untuk meraup materi/keuntungan. Jangankan mendapat materi, seringkali pengurus itu sendiri yang harus menutup kekurangan. (semoga menjadi amal baik bagi kita semua).
Alasan yang kedua yaitu, kurangnya minat membaca masyarakat ar-risalah itu sendiri. Menurut pengamatan penulis selma 6 tahun, jangankan budaya membaca, rasa hormat terhadap buku (maksudnya terhadap ilmu) tidak begitu diindahkan. Padahal kalau kita selami secara mendalam, adanya suatu majalah sekolah, atau media massa lainnya sangat besar manfaatnya sebagai penunjang pendidikan.
Tak sedikit dalam pelajaran bahasa Indonesia kita mendapatkan tugas untuk membuat makalah, apalagi bagi yang sudah kuliah tentunya harus membuat skripsi. Tentunya tanpa pembiasaan menulis dan membaca sejak dini, semuanya tak kan terlaksana secara maksimal.
Tentunya peran pendidik sangan penting dalam hal ini. Sebagaimana tercantum dalam kitab Tarbiyatul Islamiyah (Yusuf Al-Qardhawi) dikatakan bahwa Al-Muallim (guru) adalah tulang punggung pendidikan, baik buruknya produk pendidikan (peserta didik) dipengaruhi oleh Al-Muallim tersebut.
Korelasi Antara Motivasi Belajar Santri dan Keproduktifan Mereka dalam Menjalankan Aktivitas Sehari-hari
Pondok pesantren merupakan sebuah lembaga pendidikan Islam nonformal di Indonesia. Begitu banyak pondok pesantren yang tersebar di seluruh pelosok nusantara. Keberadaan dan sepak terjang pondok pesantren tidak dapat dipandang sebelah mata. Pesantren telah aktif sejak penyebarannya pada zaman penjajahan Belanda yang didirikan oleh para Wali Songo. Penyelenggaraannya pun sangat baik untuk membentuk manusia yang mempunyai kepribadian (saleh pribadi dan sosial).
Sebagaimana dikatakan sebelumnya bahwa pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam, maka tujuannya pun untuk mewujudkan dan mengembangkan kepribadian muslim, yakni kepribadian yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, bermanfaat kepada masyarakat, berkhidmat kepada masyarakat dan kiai dengan jalan menjadi kawula (mengikuti sunah Nabi), mampu berdiri sendiri, bebas dan teguh dalam kejayaan Islam di tengah masyarakat, mencintai ilmu dan mengembangkan kepribadian Indonesia (Mastuhu, 1994 : 55).
Ahmad Tafsir (1992 :201) mengelaborasi tujuan pendidikan pesantren Mastuhu sebagai berikut :
1. Memiliki kebijaksanaan menurut Ajaran Islam. Anak didik dibantu agar mampu memahami makna hidup, keberadaan, peranan, serta tanggung jawabnya dalam kehidupan bermasyarakat.
2. Memiliki kebebasan yang terpimpin. Setiap manusia memiliki kebebasan, tetapi kebebasan itu harus dibatasi karena kebebasan memiliki potensi anarkisme. Keterbatasan mengandung kecenderungan mematikan kreativitas, karena itu pembatasan harus dilakukan. Inilah yang dimaksud dengan kebebasan terpimpin. Kebebasan yang terpimpin merupakan watak ajaan Islam.
3. Berkemampuan mengatur diri sendiri. Di pesantren, santri mengatur sendiri kehidupannya menuruti batasan yang diajarkan agama. Masing-masing pesantren mengatur dirinya sendiri.
4. Memiliki rasa kebersamaan yang tinggi. Dalam pesantren berlaku prinsip dalam hal kewajiban individu harus menunaikan kewajiaban lebih dahulu, sedangkan dalam hak individu harus mendahulungan kepentingan umum sebelum kepentingan sendiri. Kolektivisme ditanamkan antara lain melalui pembuatan tata tertib. Kolektivisme ini dipermudah pembentukannya dengan kesamaan dn keterbatasan fasilitas kehidupan.
5. Menghormati orang tua dan guru. Tujuan ini dicapai antara lain melalui penegakan berbagai pranata di pesantren, seperti cium tangan guru, dan tindak membantah guru. Demikian juga terhadap orang tua.
6. Cinta kepada ilmu. Menurut al-Qur’an ilmu datang dari Allah. Karena itu orang-orang pesantren cenderung memandang ilmu sebagai sesuatu yang suci dan tinggi.
7. Mandiri. Sejak awal santri telah dilatih untuk mandiri. Mereka dibiasakan memasak sendiri, membersihkan kamar dan lingkungannya sendiri dan lain sebagainya. Metode sorogan yang individual juga memberikan pendidikan kemandirian.
8. Kesederhanaan. Sikap sederhana dimaksud adalah sikap memandang sesuatu terutama materi secara wajar, proporsional, dan fungsional. Sebenarnya banyak santri yang berasal dari keluarga kaya, tetapi mereka dilatih hidup sederhana.
Namun, ketika penulis merasakan langsung dunia pendidikan pesantren, penulis menemukan sebuah realita yang kurang sesuai dengan tujuan pendidikan pesantren. Tidak sedikit dari santri yang tinggal di pesantren, hanya sekedar menumpang tidur, makan, dan mandi. Tanpa semangat dan motivasi untuk menjalankan kegiatan belajar dan mengaji, aktif dalam organisasi, dan berbagai kegiatan lainnya.
Kurangnya semangat dan motivasi mereka, mungkin disebabkan oleh adanya rasa keterpaksaan dalam menjalankan rutinitas sehari-hari. Apalagi bagi mereka yang tidak terbiasa melakukan banyak hal secara mandiri, semua ini terasa berat untuk dijalani.
Kurangnya semangat dan motivasi santri, bisa mengakibatkan kurang produktifnya santri dalam melakukan aktivitas sehari-hari, sehingga akan mempengaruhi keahlian yang dimilki ketika santri tersebut lulus dari pondok pesantren. Tentunya, sangat disayangkan jika waktu terbuang sia-sia (kurang produktif), hanya karena kurangnya semangat dan motivasi.
Untuk itu, penulis merasa perlu untuk mengangkat masalah ini. Semangat dan motivasi santri harus tetap berkobar, karena mengingat betapa berharganya waktu yang tidak kan pernah kembali dan ketika santri tersebut lulus dari pondok pesantren, dia mempunyai keahlian, cerdas, dan mempunyai keimanan yang kuat ketika terjun langsung di masyarakat.
Sebagaimana dikatakan sebelumnya bahwa pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam, maka tujuannya pun untuk mewujudkan dan mengembangkan kepribadian muslim, yakni kepribadian yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, bermanfaat kepada masyarakat, berkhidmat kepada masyarakat dan kiai dengan jalan menjadi kawula (mengikuti sunah Nabi), mampu berdiri sendiri, bebas dan teguh dalam kejayaan Islam di tengah masyarakat, mencintai ilmu dan mengembangkan kepribadian Indonesia (Mastuhu, 1994 : 55).
Ahmad Tafsir (1992 :201) mengelaborasi tujuan pendidikan pesantren Mastuhu sebagai berikut :
1. Memiliki kebijaksanaan menurut Ajaran Islam. Anak didik dibantu agar mampu memahami makna hidup, keberadaan, peranan, serta tanggung jawabnya dalam kehidupan bermasyarakat.
2. Memiliki kebebasan yang terpimpin. Setiap manusia memiliki kebebasan, tetapi kebebasan itu harus dibatasi karena kebebasan memiliki potensi anarkisme. Keterbatasan mengandung kecenderungan mematikan kreativitas, karena itu pembatasan harus dilakukan. Inilah yang dimaksud dengan kebebasan terpimpin. Kebebasan yang terpimpin merupakan watak ajaan Islam.
3. Berkemampuan mengatur diri sendiri. Di pesantren, santri mengatur sendiri kehidupannya menuruti batasan yang diajarkan agama. Masing-masing pesantren mengatur dirinya sendiri.
4. Memiliki rasa kebersamaan yang tinggi. Dalam pesantren berlaku prinsip dalam hal kewajiban individu harus menunaikan kewajiaban lebih dahulu, sedangkan dalam hak individu harus mendahulungan kepentingan umum sebelum kepentingan sendiri. Kolektivisme ditanamkan antara lain melalui pembuatan tata tertib. Kolektivisme ini dipermudah pembentukannya dengan kesamaan dn keterbatasan fasilitas kehidupan.
5. Menghormati orang tua dan guru. Tujuan ini dicapai antara lain melalui penegakan berbagai pranata di pesantren, seperti cium tangan guru, dan tindak membantah guru. Demikian juga terhadap orang tua.
6. Cinta kepada ilmu. Menurut al-Qur’an ilmu datang dari Allah. Karena itu orang-orang pesantren cenderung memandang ilmu sebagai sesuatu yang suci dan tinggi.
7. Mandiri. Sejak awal santri telah dilatih untuk mandiri. Mereka dibiasakan memasak sendiri, membersihkan kamar dan lingkungannya sendiri dan lain sebagainya. Metode sorogan yang individual juga memberikan pendidikan kemandirian.
8. Kesederhanaan. Sikap sederhana dimaksud adalah sikap memandang sesuatu terutama materi secara wajar, proporsional, dan fungsional. Sebenarnya banyak santri yang berasal dari keluarga kaya, tetapi mereka dilatih hidup sederhana.
Namun, ketika penulis merasakan langsung dunia pendidikan pesantren, penulis menemukan sebuah realita yang kurang sesuai dengan tujuan pendidikan pesantren. Tidak sedikit dari santri yang tinggal di pesantren, hanya sekedar menumpang tidur, makan, dan mandi. Tanpa semangat dan motivasi untuk menjalankan kegiatan belajar dan mengaji, aktif dalam organisasi, dan berbagai kegiatan lainnya.
Kurangnya semangat dan motivasi mereka, mungkin disebabkan oleh adanya rasa keterpaksaan dalam menjalankan rutinitas sehari-hari. Apalagi bagi mereka yang tidak terbiasa melakukan banyak hal secara mandiri, semua ini terasa berat untuk dijalani.
Kurangnya semangat dan motivasi santri, bisa mengakibatkan kurang produktifnya santri dalam melakukan aktivitas sehari-hari, sehingga akan mempengaruhi keahlian yang dimilki ketika santri tersebut lulus dari pondok pesantren. Tentunya, sangat disayangkan jika waktu terbuang sia-sia (kurang produktif), hanya karena kurangnya semangat dan motivasi.
Untuk itu, penulis merasa perlu untuk mengangkat masalah ini. Semangat dan motivasi santri harus tetap berkobar, karena mengingat betapa berharganya waktu yang tidak kan pernah kembali dan ketika santri tersebut lulus dari pondok pesantren, dia mempunyai keahlian, cerdas, dan mempunyai keimanan yang kuat ketika terjun langsung di masyarakat.
Senin, 02 November 2009
sepenggal harapan
ku bersandar pada kursi
namun kursi itu diambil orang
kubersandar pada dinding
suatu saat dinding itu kan roboh
huh!berharap pada manusia
hanya berakhir kecewa
mungkin hanya berharap padaNya
dan mencintaNya lah yang
berakhir bahagia
namun kursi itu diambil orang
kubersandar pada dinding
suatu saat dinding itu kan roboh
huh!berharap pada manusia
hanya berakhir kecewa
mungkin hanya berharap padaNya
dan mencintaNya lah yang
berakhir bahagia
Jumat, 12 Juni 2009
Tafsir Surat Al-Fatihah
Kuliah Umum Pimpinan Pondok Pesantren Ar-Risalah Drs.Kh Asep Saefulmillah
Surat Al-Fatihah banyak namanya, diantaranya :
Ø Surat Al-Fatihah
Diberi nama Surat Al-Fatihah karena dijadikan pembuka dalam seluruh kitab suci Al-Quran, diambil dari kata fataha
Ø Ummul Quran
Ummul Al-Quran yang bermakna Ibunya Al-Quran, diberi nama demikian karena isi Al-Qur’an yang terdiri dari 30 juz, semuanya dirangkum dalam surat Al-Fatihah
Ø Ummul Kitab
Ummul Kitab yang berarti Ibunya Kitab, diberi nama demikian karena semua kitab yang diturunkan ke bumi ini isinya ada dalam surat Al-Fatihah
Ø Sab’ul Matsani
Secara etimologi / harfiah Al-Fatihah merupakan 7 ayat yang diulang-ulang, paling sedikit 2 x dalam shalat wajib.
Bismillahirrahmanirrahim
Dengan menyebut nama Allah, yang telah memberi nikmat besar bagi muslim dan kafir di dunia, yang telah memberi nikmat kecil bagi muslim di akhirat.
1. Bismillahirrahmanirrahim, dibaca ketika melaksanakan hal-hal yang baik. Karena ketika kita melaksanakan suatu kegiatan atau aktifitas yang baik tanpa mengucapkan basmalah bagaikan bagaikan daging yang buruk atau daging yang dipotong-potong
2. Dalam bismillahirrahmanirrahim ada lafadz Ar-Rahman diberikan secara umum baik kepada muslim maupun non muslim, karena islam itu rahmatan lil ‘alamin. Sedangkan Ar-Rahim yaitu kasih saying Allah atau nikmat Allah yang diberikan khusus kepada orang muslim di akhirat.
Alhamdulillahirabbil ‘alamin
Segala puji bagi Allah yang menguasai alam
Puji itu terdiri dari empat macam, yaitu :
1. Hamdun Qodim li qodimin
Dalam bahasa darah kita kenal “puji heubeul kanu heubeul”, maksudnya puji Allah terhadap Allah
2. Hamdun Hadist li hadistin
Dalam bahasa daerah kita kenal “puji anyar kanu anyar”, maksudnya puji makhluk terhadap makhluk
3. Hamdun Qodim li hadistin
Dalam bahasa daerah kita kenal “Puji heubeul kanu anyar”, maksudnya puji Allah terhadap makhluknya. Seperti firmanNya “Hai Muhammad kalau kamu tidak ada maka seisi ala mini tidak ada.”
4. Hamdun Hadist li qodimin
Dalam bahasa daerah kita kenal”Puji anyar kanu heubeul”, maksudnya puji makhluk terhadap Allah, seperti lafadz La Ilaaha Illa Anta yang artinya Tidak ada Tuhan selain Engkau.
Menurut penulis kitab Tafsir Ibn Katsir, junlah alam itu ada 100.000 alam, sebanyak 40.000 ada di darat dan sebanyak 60.000 berada di darat. Disini kita menemukan korelasi dengan pelajaran Geografi yang telah kita pelajari bahwa lautan itu lebih luas daripada daratan, dengan perbandingan 2/3 dan 1/3.
Menurut Imam Al-Ghazali alam itu terdiri dari :
1. Alam Jin
Yaitu alam yang mempunyai ruh tetapi tidak mempunyai jasad, seperti hal nya jin.
2. Alam Jamadat
Yaitu alam yang mempunyai jasad, tetapi tidak mempunyai ruh, biasa kita kenal dengan ‘benda mati.’
Bersambung
Surat Al-Fatihah banyak namanya, diantaranya :
Ø Surat Al-Fatihah
Diberi nama Surat Al-Fatihah karena dijadikan pembuka dalam seluruh kitab suci Al-Quran, diambil dari kata fataha
Ø Ummul Quran
Ummul Al-Quran yang bermakna Ibunya Al-Quran, diberi nama demikian karena isi Al-Qur’an yang terdiri dari 30 juz, semuanya dirangkum dalam surat Al-Fatihah
Ø Ummul Kitab
Ummul Kitab yang berarti Ibunya Kitab, diberi nama demikian karena semua kitab yang diturunkan ke bumi ini isinya ada dalam surat Al-Fatihah
Ø Sab’ul Matsani
Secara etimologi / harfiah Al-Fatihah merupakan 7 ayat yang diulang-ulang, paling sedikit 2 x dalam shalat wajib.
Bismillahirrahmanirrahim
Dengan menyebut nama Allah, yang telah memberi nikmat besar bagi muslim dan kafir di dunia, yang telah memberi nikmat kecil bagi muslim di akhirat.
1. Bismillahirrahmanirrahim, dibaca ketika melaksanakan hal-hal yang baik. Karena ketika kita melaksanakan suatu kegiatan atau aktifitas yang baik tanpa mengucapkan basmalah bagaikan bagaikan daging yang buruk atau daging yang dipotong-potong
2. Dalam bismillahirrahmanirrahim ada lafadz Ar-Rahman diberikan secara umum baik kepada muslim maupun non muslim, karena islam itu rahmatan lil ‘alamin. Sedangkan Ar-Rahim yaitu kasih saying Allah atau nikmat Allah yang diberikan khusus kepada orang muslim di akhirat.
Alhamdulillahirabbil ‘alamin
Segala puji bagi Allah yang menguasai alam
Puji itu terdiri dari empat macam, yaitu :
1. Hamdun Qodim li qodimin
Dalam bahasa darah kita kenal “puji heubeul kanu heubeul”, maksudnya puji Allah terhadap Allah
2. Hamdun Hadist li hadistin
Dalam bahasa daerah kita kenal “puji anyar kanu anyar”, maksudnya puji makhluk terhadap makhluk
3. Hamdun Qodim li hadistin
Dalam bahasa daerah kita kenal “Puji heubeul kanu anyar”, maksudnya puji Allah terhadap makhluknya. Seperti firmanNya “Hai Muhammad kalau kamu tidak ada maka seisi ala mini tidak ada.”
4. Hamdun Hadist li qodimin
Dalam bahasa daerah kita kenal”Puji anyar kanu heubeul”, maksudnya puji makhluk terhadap Allah, seperti lafadz La Ilaaha Illa Anta yang artinya Tidak ada Tuhan selain Engkau.
Menurut penulis kitab Tafsir Ibn Katsir, junlah alam itu ada 100.000 alam, sebanyak 40.000 ada di darat dan sebanyak 60.000 berada di darat. Disini kita menemukan korelasi dengan pelajaran Geografi yang telah kita pelajari bahwa lautan itu lebih luas daripada daratan, dengan perbandingan 2/3 dan 1/3.
Menurut Imam Al-Ghazali alam itu terdiri dari :
1. Alam Jin
Yaitu alam yang mempunyai ruh tetapi tidak mempunyai jasad, seperti hal nya jin.
2. Alam Jamadat
Yaitu alam yang mempunyai jasad, tetapi tidak mempunyai ruh, biasa kita kenal dengan ‘benda mati.’
Bersambung
"Asa"
“Kenalkan namaku “Alfarabyan” cukup panggil aku ‘alfa’ ,’al’,’atau ‘byan” paparku pada teman-teman mahasiswa lain yang senasib dan sepenanggungan harus berpanas-panas ria di lapangan utama kampus.
“Tolong sebutkan nama lengkap!” suruh salah satu kakak tingkat yang ada di tengah lingkaran mahasiswa baru.
“Nama lengkapku …….” (aku ragu menyebutkan nama lengkapku) seumur hidupku, yang paling anti kulakukan adalah berbohong, kecuali satu hal yaitu aku tidak mau menyebutkan nama lengkapku. Toh menyembunyikan nama lengkapku bukan suatu kebohongan besar bukan? Aku takut kalau menyebutkan nama lengkapku bakalan terjadi kontroversi. Tepatnya aku harus mengadakan konfrensi pers untuk menjawab pertanyaan orang-orang yang mengetahui nama lengkapku. Sebegitu anehkah namaku?
“Heh!” “malah bengong!” “Ayo sebutkan nama lengkapmu!” hardik kakak tingkat yang berjas ungu itu, yang nanti namanya “Ogi.” Keringatku megucur deras dari dahiku, entah karena memang matahari terik sekali, serasa membakar ubun-ubunku, atau entah karena aku takut menyebutkan nama asliku.
“Nama lengkapku …..Alfarabyan Einstein”….ucapanku menggantung di udara. Kulihat reaksi teman-teman yang lain ada yang menahan tawa, ada yang matanya terbelalak, ada yang mengerutkan keningnya, ada yang halisnya terangkat sebelah, mungkin mereka merasa aneh mendengar namaku. Ada juga yang kakinya gemetaran, eh,,kok ga nyambung sih,,itu mah yang kebelet pipis. Yang paling menyebalkan adalah kulihat dari sudut mataku cowok yang bernama “Ogi” itu menahan tawa, berani-beraninya dia meremehkanku. Selanjutnya perkenalan diteruskan pada teman-teman yang lain.
Dah tau kan , kenapa aku malas menyebut nama lengkapku, faktanya tadi banyak orang yang menertawakanku, huh annoyed! Pulang dari kampus aku menyempatkan pulang ke rumah, aku ingin menggugat Ibuku, mengapa ia memberikanku nama yang aneh itu.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, ketika MOS di SMA dan SMP, jawaban Ibuku selalu sama.
“Apakah arti sebuah nama anakku?” kata Ibuku sok puitis.
“Bukankah begitu kata om Shakespare?! Tambahnya lagi. Melihat reaksiku yang memonyongkan bibir sepanjang 5 cm, tapi walaupun begitu aku tetap terlihat cantik kok! Ibuku menambahkan lagi,,
“Ibu berharap dengan memberikan nama itu, anak Ibu bisa secerdas Alfarabi dan Einstein di jamannya.” Papar Ibuku. Ya, karena ibuku begitu tergila-gila pada angka e=mc2nya Einstein, dan sangat kagum pada ilmuwan fisika islam Alfarabi sehingga terinspirasi untuk memberi nama anaknya dengan nama itu. Apakah Ibu tidak pernah memikirkan bagaimana reaksi teman-temanku mendengar nama anehku itu. Sempat terbersit dalam otakku untuk mengganti namaku dengan mengadakan syukuran bubur merah dan putih. Tapi aku mengurungkn niatku, karena membayangkan betapa ribetnya mengganti nama ke Catatan Sipil, dan namaku sudah terlanjur tercantum di ijazahku.
Hari pun berganti, hari-hari OSPEK yang bête nan boring selesai sudah. Jalanan terjal nan panjang pun membentang dihadapanku.Tak pernah terbersit dalam bayanganku sekalipun, untuk melnjutkan studi di sini, sebuah kampus daerah.Kufikir, dan menurut teman-temanku juga pantasnya aku kuliah di PTN favorit di kota-kota besar. Dulu aku sangat terobsesi untuk kuliah di jurusan fisika,karena memang aku benar-benar jatuh cinta pada pelajaran yang kebanyakan orang malah membencinya.Tapi karena suatu hal,sehingga hanya tinggal satu kesempatan buatku untuk mendapatkan beasiswa dari salah satu Departemen. Aku berharap setengah mati mendapatkan beasiswa itu, namun nasib berkata lain, aku tidak lolos seleksi dan akhirnya aku terdampar disini. Karena orang tuaku tidak mampu untuk menguliahkanku di luar kota .
Kini aku harus bergelut dengan biologi, karena mau tidak mau aku harus masuk jurusan ini, karena tidak adanya matematika, kimia, apalagi fisika. Bagai kerbau dicocok hidung, bagaikan dipaksa memakan makanan yang tidak kita suka, atu lebih parah lagi bagaikan harus menikah dengan orang yang tidak kita cintai. Berat bukan? Begitulah nasibku disini, aku harus berjuang menghafal susunan Taksonomi, tata nama Binomial Nomenklatur. Padahal menurutku lebih mudah menyebut tanaman dan hewan dengan nama yang kita kenal sehari-hari. Bahkan aku harus merem melek dengan tangan gemeteran memegang pisau bedah ketika praktek membedah kodok. Jujur aku a tega, soalnya katak itu, masih bernafas karena biusnya ga berjalan dengan baik. Kesimpulanku pelajaran Biologi adalah pelajaran paling TEGA sedunia, kalau tidak dibilang kejam atau sadis.
Ada rasa sakit di hati ini karena aku tidak bisa atau tepatnya belum bisa menggapai cita-citaku, atau minimal ada dijalan menggapai cita-citaku. Aku ingin jadi ilmuwan fisika, aku ingin seperti Alfarabi dan Einstein di jamannya, tapi mungkinkah aku menggapainya sedangkan aku di jurusan yang berbeda? Sejak kecil aku merasakan ada naluri yang membimbingku ke arah sana , setiap kali melihat roda mobil yang berputar, aku teringat kecepatan sudut sama dengan massa dikali jari-jari kuadrat. Melihat barang-barang disekelilingku, kipas angin, pipa air, kompor, kulkas, tv, dll semuanya mengingatkanku pada fenomena fisika. Dan juga aku selalu teringat ketika ada benda yang terjatuh, mengingatkanku pada gaya gravitasi dan gaya normal yang dialami benda itu. Akupun menyunggingkan senyum saat kuingatcerita apel jatuh yang menimpa kepala Issac Newton, sehingga sekarang kita mengenal Hukum Newton 1,2, dan 3. Gaya sama dengan massa dikali percepatan.
Setengah kaget ketika tersadar bahwa ada orang yang duduk dihadapanku, jaraknya kurang lebih 1,5 m dariku. Ini mesjid neng, jangan berbuat macam-macam kalau tidak mau ditegur orang. Jangan dekat-dekat kalau tidak mau disangka mojok. Mojok kok di mesjid? Kalau perlu jaraknya ditambah deh, 10 m gitu. Lho, kok ngelantur sih?
“Hobi kamu ngelamun ya?” Tanya orang yang ada dihadapanku itu, masih ingat “Ogi”? Yang kalau boleh kusebut dia “Orang Gila” karena berani-beraninya mempermalukanku didepan teman-teman.
“ga kok!” Jawabku datar.
“Lho, hampir setengah jam lho, kamu di situ senyam-senyum sendiri, aku tahu jasad kamu memang disitu, tapi fikiranmu melayang-layangkan?” kta si Ogi lagi sok tahu. Tapi memang tebakannya bener ding. Apa dia punya indra keenam ya? Ih,,serem.
“Diam berarti bener kan ?” katanya lagi. Aku pasrah aja deh, toh emang bener. Tapi aku ga suka dengan gayanya yang sok tahu itu.
“Ma kakak apa sih?” tanyaku to the point, padahal suer pas aku ngomong ‘kakak’ rasanya pengen muntah.
“Aku Cuma mau minta maaf soal waktu itu, aku ga bermaksud buat kamu malu di depan yang lain.” Suer. Paparnya. Aku hanya diam. Mempertimbangkan apakah aku memaafkannya atau tidak.
“Oh, soal itu. Lupain aja deh! “ kataku malas
“Bener nih dimaafin?” tanyanya lagi memastikan.
“Iya, udah aku maafin” timpalku dengan senyum yang dipaksakan. Padahal aku masih mangkel dengan kelakuannya itu. Pengen deh jambak rambutnya yang mengingatkanku pada si Ono eh, maksudnya Christian Sugiono.
Aku melirik jam ditanganku, 3 menit lagi aku harus sudah ada di kelas, soalnya ada kuliah pelajaran paling tega sedunia.
“Aku ke kelas dulu ya, ada kuliah nih” pamitku pada si Ogi.
***
Di kelas, pelajaran Biologi.
Kebetulan dosennya ga ada, katanya ada keluarganya yang meninggal, ya…sering-sering aja deh biar dosennya jarang masuk. Ups, kok jadi berdoa yang ga bener sih? Tapi sepertinya dosen ku yang satu ini ga pernah lupa buat ngasih tugas sama mahasiswanya. Tugas buat makalah tentang Biokimia, dikumpulkan minggu depan. Begitulah tugas darinya. Akupun memutuskan untuk berkunjung ke perpustakaan, untuk mencari literature yang kuperlukan. Aku melewati papan informasi, aku baru sadar kalau aku belum melihat nilaiku UTS kemarin di papan pengumuman. Alhamdulillah aku lulus di semua mata pelajaran, ya walaupun di biologi nilaiku pas-pasan. Aku liat nilai teman-temanku yang lain. Aneh,, ada beberapa temanku yang lulus ujian, nilai A lagi, padahal aku tahu kuliah mereka Senen Kemis, mau kuliah tinggal kuliah, malas kuliah ya ga usah. Begitu prinsip mereka. Aku jadi curiga, usaha apa yang mereka lakukan kok bisa dapat nilai segitu? Ke dukunkah, atau memberi si dosen uang panas?
Jauh di lubuk hatiku, geram melihat kenyataan seperti itu. Kesannya dengan uang kita bisa menyelesaikan semuanya. Berarti kasihan orang-orang yang ga mampu dong? Ah, tapi aku yakin di akhirat nanti pasti ada pengadilan yang bener-bener adil. Toh, Allah tau usahaku. Sabar…sabar…aku mengurut dada. Dengan kondisi batin yang seperti ini kutahu pasti ekspresi wajahku bakalan kelihatan, muram mungkin?! Duh…kok mataku panas sih, pengen nangis! Tapi kucoba menahan aliran sungai itu, jangan dulu keluar…nanti aja di kamar. Aku pun meraih helm dari motorku, ketika aku mengenakannya, tak sengaja aku bersitatap dengan si Ogi, kenapa sih dalam sehari aku harus bertemu dengannya dua kali? Melebihi dosisku minum vitamin saja.
Aku pun pulang dengan menaiki revoku, aku pergi dengan kecepatan sedang. Pengennya sih ngebut, tapi karena banku agak gundul, aku ga mau dong ngambil resiko, ntar malah tabrakan, trus mati konyol, ih…amit-amit deh! Aku melirik spionku, kok ada yang ngikutin sih? Akupun memutuskan tidak pulang ke rumah, tapi mampir ke resto sederhana. Biar aku tahu siapa yang ngikutin aku. Oh….ternyata si Orang Gila itu, Ogi lagi…Ogi lagi…
Dia menghampiriku, dan tanpa kusuruh duduk satu meja denganku.
“Al, sebelumnya aku minta maaf nih,Karena udah ngikutin kamu. Sebenernya aku pengen tahu, maksudnya aku peduli sama kamu. Sebagai ketua BEM di kampus, aku perhatiin kamu kayaknya 3 bulan terakhir ini kamu seperti tidak semangat kuliah. Kayaknya bukan kamu banget deh, tipe orang kayak kamu tuh biasanya aktif, supel, tapi akhir-akhir ini kamu murung, dan suka menyendiri. Kenapa sih?
“Bentar,,,kamu, ketua BEM?” Tanya ku memastikan apa yang kudengar tidak salah.
“Kamu kemana aja sih, tiga bulan kuliah ga tau siapa ketua BEMnya? Gimana sih? Kamu terlalu sibuk dengan fikiranmu sendiri sih!” kata si Ogi.
Deg, kata-katanya memang benar aku memang sibuk dengan fikiranku sendiri. Sehingga potensiku terkubur.
“Oh,,,,maaf deh!”jawabku polos.
“Aku Cuma kecewa aja sama kenyataan, bahwa dengan uang bisa membutakan segalanya, temenku yng kuliahnya senen kemis kok bisa lulus ujian plus nilai A lagi! Aduku kesal.
“Oh,,,itu toh, kayaknya aku harus cek kebenarannya. Kalau benar mudah-mudahan bisa aku usut. Aku ga mau ada ketidak adilan di kampusku ini.” Kata si Ogi lebih serius.
“Trus tiga bulan terakhir, kenapa ?”
“Aku ga semangat kuliah,”
“Jujur, aku sama sekali ga suka Biologi, dan ternyata jalanku di sini, fakultas Biologi. Menyebalkan ga sih?” tanyaku retoris.
“Emang tadinya mau masuk apa?”Tanya si Ogi yang kayaknya penasaran
“Pengen banget masuk fisika, Cuma karena disini ga ada yam au gimana lagi? Terpaksa deh, seperti seseorang yang dipaksa harus menikah dengan orang yang tidak ia cintai, setengah hati!
“Makannya aku ga suka kalau menyebutkan nama lengkapku, karena namaku itu mengingatkanku pada cita-cita ku, asaku menjadi ilmuwan fisika.” Paparku
“Fa, menurutku ga penting deh kamu menikahi orang yang kamu cintai, tapi yang enting buat kamu sekarang adalah mencintai orang yang kamu nikahi. Sama saja dengan ga penting kamu melakukan apa yang kamu cintai, tapi yang penting buat kamu adalah mencintai apa yang sedang kamu lakukan. Emang sih, ngomong itu gampang, sulit merealisasikannya memang, tapi ini penting supaya kamu bisa menghadapi kenyataan yang menurut kamu ga sesuai dengan harapan kamu. Mungkin ini yang terbaik buatmu. Belum tentu yang menurut kamu baik, baik juga menurut yang di atas.”
Aku pun tertunduk mendengar ceramah singkatnya si Ono, eh si Ogi. Bukan si Ogi “Orang Gila” lagi tapi si Ogi yang telah meruntuhkan idealismku yang menjulang tinggi. Kini, asa ku hilang, tapi hilang asa satu, tumbuh asa seribu.
“Tolong sebutkan nama lengkap!” suruh salah satu kakak tingkat yang ada di tengah lingkaran mahasiswa baru.
“Nama lengkapku …….” (aku ragu menyebutkan nama lengkapku) seumur hidupku, yang paling anti kulakukan adalah berbohong, kecuali satu hal yaitu aku tidak mau menyebutkan nama lengkapku. Toh menyembunyikan nama lengkapku bukan suatu kebohongan besar bukan? Aku takut kalau menyebutkan nama lengkapku bakalan terjadi kontroversi. Tepatnya aku harus mengadakan konfrensi pers untuk menjawab pertanyaan orang-orang yang mengetahui nama lengkapku. Sebegitu anehkah namaku?
“Heh!” “malah bengong!” “Ayo sebutkan nama lengkapmu!” hardik kakak tingkat yang berjas ungu itu, yang nanti namanya “Ogi.” Keringatku megucur deras dari dahiku, entah karena memang matahari terik sekali, serasa membakar ubun-ubunku, atau entah karena aku takut menyebutkan nama asliku.
“Nama lengkapku …..Alfarabyan Einstein”….ucapanku menggantung di udara. Kulihat reaksi teman-teman yang lain ada yang menahan tawa, ada yang matanya terbelalak, ada yang mengerutkan keningnya, ada yang halisnya terangkat sebelah, mungkin mereka merasa aneh mendengar namaku. Ada juga yang kakinya gemetaran, eh,,kok ga nyambung sih,,itu mah yang kebelet pipis. Yang paling menyebalkan adalah kulihat dari sudut mataku cowok yang bernama “Ogi” itu menahan tawa, berani-beraninya dia meremehkanku. Selanjutnya perkenalan diteruskan pada teman-teman yang lain.
Dah tau kan , kenapa aku malas menyebut nama lengkapku, faktanya tadi banyak orang yang menertawakanku, huh annoyed! Pulang dari kampus aku menyempatkan pulang ke rumah, aku ingin menggugat Ibuku, mengapa ia memberikanku nama yang aneh itu.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, ketika MOS di SMA dan SMP, jawaban Ibuku selalu sama.
“Apakah arti sebuah nama anakku?” kata Ibuku sok puitis.
“Bukankah begitu kata om Shakespare?! Tambahnya lagi. Melihat reaksiku yang memonyongkan bibir sepanjang 5 cm, tapi walaupun begitu aku tetap terlihat cantik kok! Ibuku menambahkan lagi,,
“Ibu berharap dengan memberikan nama itu, anak Ibu bisa secerdas Alfarabi dan Einstein di jamannya.” Papar Ibuku. Ya, karena ibuku begitu tergila-gila pada angka e=mc2nya Einstein, dan sangat kagum pada ilmuwan fisika islam Alfarabi sehingga terinspirasi untuk memberi nama anaknya dengan nama itu. Apakah Ibu tidak pernah memikirkan bagaimana reaksi teman-temanku mendengar nama anehku itu. Sempat terbersit dalam otakku untuk mengganti namaku dengan mengadakan syukuran bubur merah dan putih. Tapi aku mengurungkn niatku, karena membayangkan betapa ribetnya mengganti nama ke Catatan Sipil, dan namaku sudah terlanjur tercantum di ijazahku.
Hari pun berganti, hari-hari OSPEK yang bête nan boring selesai sudah. Jalanan terjal nan panjang pun membentang dihadapanku.Tak pernah terbersit dalam bayanganku sekalipun, untuk melnjutkan studi di sini, sebuah kampus daerah.Kufikir, dan menurut teman-temanku juga pantasnya aku kuliah di PTN favorit di kota-kota besar. Dulu aku sangat terobsesi untuk kuliah di jurusan fisika,karena memang aku benar-benar jatuh cinta pada pelajaran yang kebanyakan orang malah membencinya.Tapi karena suatu hal,sehingga hanya tinggal satu kesempatan buatku untuk mendapatkan beasiswa dari salah satu Departemen. Aku berharap setengah mati mendapatkan beasiswa itu, namun nasib berkata lain, aku tidak lolos seleksi dan akhirnya aku terdampar disini. Karena orang tuaku tidak mampu untuk menguliahkanku di luar kota .
Kini aku harus bergelut dengan biologi, karena mau tidak mau aku harus masuk jurusan ini, karena tidak adanya matematika, kimia, apalagi fisika. Bagai kerbau dicocok hidung, bagaikan dipaksa memakan makanan yang tidak kita suka, atu lebih parah lagi bagaikan harus menikah dengan orang yang tidak kita cintai. Berat bukan? Begitulah nasibku disini, aku harus berjuang menghafal susunan Taksonomi, tata nama Binomial Nomenklatur. Padahal menurutku lebih mudah menyebut tanaman dan hewan dengan nama yang kita kenal sehari-hari. Bahkan aku harus merem melek dengan tangan gemeteran memegang pisau bedah ketika praktek membedah kodok. Jujur aku a tega, soalnya katak itu, masih bernafas karena biusnya ga berjalan dengan baik. Kesimpulanku pelajaran Biologi adalah pelajaran paling TEGA sedunia, kalau tidak dibilang kejam atau sadis.
Ada rasa sakit di hati ini karena aku tidak bisa atau tepatnya belum bisa menggapai cita-citaku, atau minimal ada dijalan menggapai cita-citaku. Aku ingin jadi ilmuwan fisika, aku ingin seperti Alfarabi dan Einstein di jamannya, tapi mungkinkah aku menggapainya sedangkan aku di jurusan yang berbeda? Sejak kecil aku merasakan ada naluri yang membimbingku ke arah sana , setiap kali melihat roda mobil yang berputar, aku teringat kecepatan sudut sama dengan massa dikali jari-jari kuadrat. Melihat barang-barang disekelilingku, kipas angin, pipa air, kompor, kulkas, tv, dll semuanya mengingatkanku pada fenomena fisika. Dan juga aku selalu teringat ketika ada benda yang terjatuh, mengingatkanku pada gaya gravitasi dan gaya normal yang dialami benda itu. Akupun menyunggingkan senyum saat kuingatcerita apel jatuh yang menimpa kepala Issac Newton, sehingga sekarang kita mengenal Hukum Newton 1,2, dan 3. Gaya sama dengan massa dikali percepatan.
Setengah kaget ketika tersadar bahwa ada orang yang duduk dihadapanku, jaraknya kurang lebih 1,5 m dariku. Ini mesjid neng, jangan berbuat macam-macam kalau tidak mau ditegur orang. Jangan dekat-dekat kalau tidak mau disangka mojok. Mojok kok di mesjid? Kalau perlu jaraknya ditambah deh, 10 m gitu. Lho, kok ngelantur sih?
“Hobi kamu ngelamun ya?” Tanya orang yang ada dihadapanku itu, masih ingat “Ogi”? Yang kalau boleh kusebut dia “Orang Gila” karena berani-beraninya mempermalukanku didepan teman-teman.
“ga kok!” Jawabku datar.
“Lho, hampir setengah jam lho, kamu di situ senyam-senyum sendiri, aku tahu jasad kamu memang disitu, tapi fikiranmu melayang-layangkan?” kta si Ogi lagi sok tahu. Tapi memang tebakannya bener ding. Apa dia punya indra keenam ya? Ih,,serem.
“Diam berarti bener kan ?” katanya lagi. Aku pasrah aja deh, toh emang bener. Tapi aku ga suka dengan gayanya yang sok tahu itu.
“Ma kakak apa sih?” tanyaku to the point, padahal suer pas aku ngomong ‘kakak’ rasanya pengen muntah.
“Aku Cuma mau minta maaf soal waktu itu, aku ga bermaksud buat kamu malu di depan yang lain.” Suer. Paparnya. Aku hanya diam. Mempertimbangkan apakah aku memaafkannya atau tidak.
“Oh, soal itu. Lupain aja deh! “ kataku malas
“Bener nih dimaafin?” tanyanya lagi memastikan.
“Iya, udah aku maafin” timpalku dengan senyum yang dipaksakan. Padahal aku masih mangkel dengan kelakuannya itu. Pengen deh jambak rambutnya yang mengingatkanku pada si Ono eh, maksudnya Christian Sugiono.
Aku melirik jam ditanganku, 3 menit lagi aku harus sudah ada di kelas, soalnya ada kuliah pelajaran paling tega sedunia.
“Aku ke kelas dulu ya, ada kuliah nih” pamitku pada si Ogi.
***
Di kelas, pelajaran Biologi.
Kebetulan dosennya ga ada, katanya ada keluarganya yang meninggal, ya…sering-sering aja deh biar dosennya jarang masuk. Ups, kok jadi berdoa yang ga bener sih? Tapi sepertinya dosen ku yang satu ini ga pernah lupa buat ngasih tugas sama mahasiswanya. Tugas buat makalah tentang Biokimia, dikumpulkan minggu depan. Begitulah tugas darinya. Akupun memutuskan untuk berkunjung ke perpustakaan, untuk mencari literature yang kuperlukan. Aku melewati papan informasi, aku baru sadar kalau aku belum melihat nilaiku UTS kemarin di papan pengumuman. Alhamdulillah aku lulus di semua mata pelajaran, ya walaupun di biologi nilaiku pas-pasan. Aku liat nilai teman-temanku yang lain. Aneh,, ada beberapa temanku yang lulus ujian, nilai A lagi, padahal aku tahu kuliah mereka Senen Kemis, mau kuliah tinggal kuliah, malas kuliah ya ga usah. Begitu prinsip mereka. Aku jadi curiga, usaha apa yang mereka lakukan kok bisa dapat nilai segitu? Ke dukunkah, atau memberi si dosen uang panas?
Jauh di lubuk hatiku, geram melihat kenyataan seperti itu. Kesannya dengan uang kita bisa menyelesaikan semuanya. Berarti kasihan orang-orang yang ga mampu dong? Ah, tapi aku yakin di akhirat nanti pasti ada pengadilan yang bener-bener adil. Toh, Allah tau usahaku. Sabar…sabar…aku mengurut dada. Dengan kondisi batin yang seperti ini kutahu pasti ekspresi wajahku bakalan kelihatan, muram mungkin?! Duh…kok mataku panas sih, pengen nangis! Tapi kucoba menahan aliran sungai itu, jangan dulu keluar…nanti aja di kamar. Aku pun meraih helm dari motorku, ketika aku mengenakannya, tak sengaja aku bersitatap dengan si Ogi, kenapa sih dalam sehari aku harus bertemu dengannya dua kali? Melebihi dosisku minum vitamin saja.
Aku pun pulang dengan menaiki revoku, aku pergi dengan kecepatan sedang. Pengennya sih ngebut, tapi karena banku agak gundul, aku ga mau dong ngambil resiko, ntar malah tabrakan, trus mati konyol, ih…amit-amit deh! Aku melirik spionku, kok ada yang ngikutin sih? Akupun memutuskan tidak pulang ke rumah, tapi mampir ke resto sederhana. Biar aku tahu siapa yang ngikutin aku. Oh….ternyata si Orang Gila itu, Ogi lagi…Ogi lagi…
Dia menghampiriku, dan tanpa kusuruh duduk satu meja denganku.
“Al, sebelumnya aku minta maaf nih,Karena udah ngikutin kamu. Sebenernya aku pengen tahu, maksudnya aku peduli sama kamu. Sebagai ketua BEM di kampus, aku perhatiin kamu kayaknya 3 bulan terakhir ini kamu seperti tidak semangat kuliah. Kayaknya bukan kamu banget deh, tipe orang kayak kamu tuh biasanya aktif, supel, tapi akhir-akhir ini kamu murung, dan suka menyendiri. Kenapa sih?
“Bentar,,,kamu, ketua BEM?” Tanya ku memastikan apa yang kudengar tidak salah.
“Kamu kemana aja sih, tiga bulan kuliah ga tau siapa ketua BEMnya? Gimana sih? Kamu terlalu sibuk dengan fikiranmu sendiri sih!” kata si Ogi.
Deg, kata-katanya memang benar aku memang sibuk dengan fikiranku sendiri. Sehingga potensiku terkubur.
“Oh,,,,maaf deh!”jawabku polos.
“Aku Cuma kecewa aja sama kenyataan, bahwa dengan uang bisa membutakan segalanya, temenku yng kuliahnya senen kemis kok bisa lulus ujian plus nilai A lagi! Aduku kesal.
“Oh,,,itu toh, kayaknya aku harus cek kebenarannya. Kalau benar mudah-mudahan bisa aku usut. Aku ga mau ada ketidak adilan di kampusku ini.” Kata si Ogi lebih serius.
“Trus tiga bulan terakhir, kenapa ?”
“Aku ga semangat kuliah,”
“Jujur, aku sama sekali ga suka Biologi, dan ternyata jalanku di sini, fakultas Biologi. Menyebalkan ga sih?” tanyaku retoris.
“Emang tadinya mau masuk apa?”Tanya si Ogi yang kayaknya penasaran
“Pengen banget masuk fisika, Cuma karena disini ga ada yam au gimana lagi? Terpaksa deh, seperti seseorang yang dipaksa harus menikah dengan orang yang tidak ia cintai, setengah hati!
“Makannya aku ga suka kalau menyebutkan nama lengkapku, karena namaku itu mengingatkanku pada cita-cita ku, asaku menjadi ilmuwan fisika.” Paparku
“Fa, menurutku ga penting deh kamu menikahi orang yang kamu cintai, tapi yang enting buat kamu sekarang adalah mencintai orang yang kamu nikahi. Sama saja dengan ga penting kamu melakukan apa yang kamu cintai, tapi yang penting buat kamu adalah mencintai apa yang sedang kamu lakukan. Emang sih, ngomong itu gampang, sulit merealisasikannya memang, tapi ini penting supaya kamu bisa menghadapi kenyataan yang menurut kamu ga sesuai dengan harapan kamu. Mungkin ini yang terbaik buatmu. Belum tentu yang menurut kamu baik, baik juga menurut yang di atas.”
Aku pun tertunduk mendengar ceramah singkatnya si Ono, eh si Ogi. Bukan si Ogi “Orang Gila” lagi tapi si Ogi yang telah meruntuhkan idealismku yang menjulang tinggi. Kini, asa ku hilang, tapi hilang asa satu, tumbuh asa seribu.
Langganan:
Postingan (Atom)